Perubahan Pola Konsumsi Berdampak pada Kesehatan

Elise Dwi Ratnasari | CNN Indonesia
Kamis, 16 Mar 2017 07:17 WIB
Perubahan pola makan dan aktivitas di masyarakat ternyata mengubah pola penyakit yang sebelumnya menular menjadi tidak menular, contohnya obesitas. Perubahan pola makan dan aktivitas di masyarakat ternyata mengubah pola penyakit yang sebelumnya menular menjadi tidak menular, contohnya obesitas. (Foto: Thinkstock/Tomwang112)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perubahan pola makan dan aktivitas di masyarakat ternyata mengubah pola penyakit yang sebelumnya menular menjadi tidak menular. Salah satu contohnya obesitas.

Hal itu dapat dilihat dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) yang mengacu pada penelitian 2007 dan 2013, untuk melihat terjadinya lonjakan angka orang dengan obesitas di masyarakat urban atau perkotaan.

Pada wanita, lonjakan angkanya hampir 25 persen, sedangkan pada pria sekitar 5 persen. Pola makan tidak seimbang dan kurang aktivitas atau gerak tubuh jadi penyebab obesitas.


Data tersebut kemudian menjadi pijakan studi yang dilakukan Helda Khusun dari Southeast Asian Ministers of Education Organization - Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO-REFCON) untuk memotret pola makan dan pola aktivitas masyarakat perkotaan di Indonesia serta kontribusi keduanya terhadap obesitas.

"Asupan kalori dan keluaran tidak seimbang berkontribusi pada obesitas, studi ini ingin melihat komponen diet yang paling berkontribusi," kata Helda saat jadi pembicara dalam seminar 'Pemaparan Hasil Studi Pola Konsumsi Makanan dan Minuman Masyarakat Perkotaan di Indonesia' di Kuningan, Jakarta pada Rabu (15/3).

Survei tersebut menlibatkan 864 sampel dari 32 kelurahan di lima kota di Indonesia, yakni Jakarta Timur, Bandung, Surabaya, Makassar dan Medan. Hasilnya cukup mengejutkan karena 34,2 persen asupan kalori berasal dari daging. Karbohidrat menjadi penyumbang tersebar sebanyak 51,4 persen dan protein hanya 14,5 persen.

Menurut Helda, hal ini patut menjadi perhatian. Lemak dan karbohidrat dalam jumlah sama, bisa menyumbang kalori dalam jumlah berbeda.

"1 gram lemak bisa menyumbang 9 kalori, (sedangkan) 1 gram karbohidrat 5 kalori," jelas Helda.

Helda berkata, bisa dibayangkan bila lemak berlebih lalu tertimbun di pembuluh darah, maka akan memicu penyakit, seperti penyakit jantung. Ditambah lagi temuan dalam studi ini menunjukkan rendahnya aktivitas fisik. Hanya 28 persen sampel melakukan aktivitas fisik tinggi, sedangkan 59,4 persen lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer atau televisi.
Konsumsi Minuman Manis

Sumber kalori bisa didapat dari berbagai macam makanan. Studi yang dilakukan Helda juga menemukan, nasi masih menjadi favorit masyarakat perkotaan dengan sumbangan 32,9 persen asupan kalori per hari, lalu daging 10,6 persen. Selain itu ada mie, ikan dan minuman berperisa manis (minuman yang mendapatkan gula tambahan). Minuman berperisa manis seharusnya tidak jadi kontributor asupan kalori tubuh.

"Minuman itu untuk menghidrasi, tapi sekarang banyak minuman yang ditambah gula," kata Helda.

Konsumsi teh dan kopi menyumbang 5,1 persen kalori, minuman soda 0,4 persen, jus buah 0,3 persen dan minuman lain hingga total 6,5 persen. Kopi dan teh, kata Helda, tidak jadi soal, tetapi tambahan gula pada kedua minuman ini.
Sebanyak 77,4 persen sampel mengaku mengonsumsi minuman berperisa manis paling tidak tiga kali seminggu. Selain minuman berperisa manis, mereka juga mengonsumsi sejumlah makanan yang sebenarnya tidak direkomendasikan seperti gorengan (74,5 persen), makanan manis (37,7 persen) dan keripik (27,9 persen).

Asupan gula yang masuk ke tubuh seseorang kemudian mencapai 20 gram per hari. Padahal, menurut Total Diet Study, jumlah yang direkomendasikan hanya 15 gram per hari.

Konsumsi berlebih pada makanan atau minuman yang tidak direkomendasikan ini dapat meningkatkan resiko obesitas. Walau sebenarnya, penyebab obesitas ada banyak faktor seperti usia, jenis kelamin, makanan atau aktivitas fisik. Studi menemukan pada pria, obesitas lebih berasosiasi dengan konsumsi mie, keripik dan teh manis. Sedangkan pada wanita, lebih pada konsumsi keripik, minuman berperisa manis dan ubi-ubian.

"Obesitas juga bisa dipicu faktor lingkungan. Misalnya, ketika suatu tempat tidak ada jalur pejalan kakinya, maka orang malas untuk berjalan. Lalu ketika di lingkungan kantor, pilihan makanan yang ada terbatas, dan sebagian besar di antaranya banyak yang tidak sehat," tambah Helda. (rah/rah)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER