Peneliti: 70 Persen Alat Pengukur Tensi Darah Tak Akurat

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Senin, 01/05/2017 20:24 WIB
Peneliti: 70 Persen Alat Pengukur Tensi Darah Tak Akurat Peneliti menyebut sekitar 70 persen alat pengukur tekanan darah tinggi tidak valid. (Thinkstock/tsalko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dokter yang mengandalkan metode home blood pressure monitoring (HBPM) atau pemantauan tekanan darah secara mandiri untuk pasien hipertensi, harus waspada. Pasalnya, berdasarkan studi, banyak alat pengukur tekanan darah yang tidak akurat.

Peneliti menyebut sekitar 70 persen alat pengukur darah punya selisih 5 mmHg, yang terbilang signifikan secara klinis. Adapun, 30 persen lainnya bahkan mencapai selisih 10 mmHg.

"Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah penyebab nomor satu kematian dan disabilitas di dunia," kata pemimpin studi, Jennifer Ringrose dari Universitas Alberta, Kanada seperti dikutip dari Reuters.


"Pedoman itu merekomendasikan bahwa petugas media lebih mengandalkan pada alat pengukur otomatis dan hasil pengukuran mandiri untuk mendiagnosis dan memantau tekanan darah tinggi. Kita perlu memastikan hasil pengukuran tekanan darah secara mandiri ini akurat," kata Ringrose.

Ringrose dan koleganya mengukur akurasi alat pengukur tekanan darah yang digunakan 85 pasien. Alat-alat ini dites berdasarkan letak pemakaian, pada lengan atas atau pergelangan tangan, label alat, manset dengan bahan keras atau lembut dan alat yang valid berdasarkan standar teknis industri dan alat yang tidak terstandar.

Dua peneliti melakukan tes pada tiap pasien secara simultan. Secara total, mereka melakukan 9 kali pengukuran dan bergantian antara alat yang digunakan di rumah dan manset standar yang digunakan di ruang dokter.

Tekanan darah diukur dengan dua angka, yakni tekanan sistolik ketika jantung memompa darah dan tekanan diastolik ketika jantung beristirahat antara denyutan. Tekanan darah di bawah 120 mmHg sistolik/80 mmHg diastolik dianggap sehat. Tekanan 140/90 mmHg dianggap tinggi.

Peneliti menemukan alat yang digunakan di rumah lebih sering menunjukkan kesalahan dalam ukuran tekanan sistolik. Sebanyak 54 persen pasien, terdapat selisih hingga 5 mmHg dibanding alat pengukur profesional.

Lainnya, sebanyak 20 persen terdapat selisih 10 mmHg dan 7 persen selisih hingga 15 mmHg atau lebih. Sedangkan untuk ukuran tekanan diastolik, 31 persen sama.

Ukuran lengan dan jenis kelamin jadi faktor utama perbedaan tekanan darah sistolik. Pria biasanya punya perbedaan besar. Selain itu, semakin tua usia, lingkar lengan yang lebih besar, desain manset yang keras, dan model alat yang lebih lawas berhubungan dengan perbedaan tekanan darah diastolik.

American Journal of Hypertension menuliskan, usia dan pembuluh darah yang kaku, misalnya, bisa membuat perbedaan signifikan jika alat pengukur tekanan darah tidak menunjukkan pembagian skala saat digunakan pasien.

"Bisa saja terdapat kerusakan substansial, bahkan untuk alat yang sudah dites dalam studi validasi," kata peneliti senior dari Institut Jantung Mazankowski di Alberta, Raj Padwal.