Psikolog: Menikahi Teman Sekantor Ganggu Efektivitas Kerja

Rahman Indra, CNN Indonesia | Sabtu, 20/05/2017 13:34 WIB
Psikolog: Menikahi Teman Sekantor Ganggu Efektivitas Kerja Pasangan yang bekerja satu kantor berpotensi menganggu efektivitas kerja, dan kontra produktif dengan perusahaan. (Foto: Takmeomeo/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Baru-baru ini sejumlah karyawan swasta menggugat larangan perusahaan akan karyawan yang menikah bekerja satu kantor. Selain mengacu pada UU Ketenagakerjaan, aturan itu seterusnya dituangkan juga dalam peraturan perusahaan, atau peraturan kerja sama.

Psikolog Kasandra Putranto menilai kebijakan perusahaan untuk larangan suami istri dalam satu perusahaan dibuat dengan dasar pemikiran tugas pekerjaan dan keamanaan perusahaan.

Namun, tidak semua perusahaan berlaku sama. Ada juga perusahaan yang tidak membatasi atau hanya membatasi sebagian, asal jangan satu departemen. Larangan menikah bagi karyawan sekantor itu, kata dia, lebih pada efektivitas pekerjaan.

"Masalahnya bukan soal pengaruh buruk, tapi soal efektivitas kerja, supaya tidak terganggu masalah pribadi atau keluarga, tidak muncul konflik minat, dan bebas dari kemungknan yang tidak menyenangkan, dan lainnya," ungkap Kasandra saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (20/5).

Lebih jauh ia menekankan bahwa tepat tidaknya larangan sesama karyawan sekantor menikah tergantung kebutuhan perusahaan.

"Masih ada yang menerapkan hal tersebut, ada juga yang tidak," kata dia menambahkan.

Bagi karyawan sendiri, ia lalu menganjurkan agar ada baiknya sebelum melamar kerja, pastikan dulu perusahaan memiliki kebijakan dan budaya kerja yang sesuai.

Karena, kata dia, menggugat kebijakan yang sudah lama diberlakukan demi kebutuhan pribadi akan memberikan kesan kurang profesional.

"Apalgi jika perusahaan memiliki alasan kuat mengapa tidak mengijinkan suami istri berada dalam satu perusahaan," tegasnya.

Lagi-lagi kata dia, aturan larangan menikah bagi sesama karyawan sekantor ini kembali lagi pada perusahaan masing-masing.

Secara terpisah, psikolog Ratih Ibrahim menuturkan hal senada. Menurutnya, pasangan yang bekerja di satu kantor akan berujung pada hal-hal yang bersifat tidak menguntungkan. Kontra produktif bagi perusahaan, kata dia, bisa saja terjadi. 

"Terkait konteks tersebut pada pasangan suami istri dalam satu perusahaan, mungkin terjadi," ungkapnya.