Negara di Dunia dengan Waktu Berpuasa Paling Singkat
Ardita Mustafa | CNN Indonesia
Selasa, 30 Mei 2017 14:20 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemeluk agama Islam di Indonesia bisa dibilang beruntung, karena setiap harinya mereka bisa menjalani ibadah puasa “hanya” selama hampir 13 jam.
Sementara itu, Muslim di belahan dunia lain harus menjalani puasa dengan waktu yang lebih lama, dikarenakan matahari terbit lebih panjang.
Dilansir dari Gulf News pada Selasa (30/5), negara dengan waktu berpuasa paling lama ialah Islandia dan Greenland (21 jam), Kazakhstan (18 jam) serta Iran, China (16 jam).
Sebagian besar negara dengan waktu puasa lebih lama berada di Eropa, karena aktivitas matahari yang tak bisa diperkirakan.
Keuntungannya, berpuasa di sana jauh lebih nyaman, karena suhu udaranya yang sejuk.
Namun, jika waktu terbit dan tenggelam matahari sudah tak bisa lagi diperkirakan, Islam memberikan “keringanan” dengan memperbolehkan umatNya untuk mengikuti waktu berpuasa di kawasan yang paling dekat, dengan perhitungan waktu yang lebih jelas.
Meski sama-sama berada di Eropa, namun ada negara yang memiliki waktu berpuasa lebih “bersahabat”, yaitu Rusia (19 jam), Irlandia (18,5 jam), Inggris (18 jam), Perancis (17 jam), Spanyol (16,5 jam) dan Turki (16 jam).
Di Amerika, negara yang memiliki waktu berpuasa yang sama ialah Kanada (17 jam), Amerika Serikat (16 jam) dan Peru (12,5 jam).
Dibandingkan Eropa dan Amerika, Timur Tengah dan Asia memiliki lebih banyak negara dengan waktu berpuasa yang juga “bersahabat”, yakni Yordania dan Jepang (15,5 jam), Arab Saudi, Dubai, Thailand dan Hong Kong (14,5 jam) serta Singapura dan Malaysia (13,5 jam).
Sedangkan negara di dunia dengan waktu berpuasa paling singkat ialah Kepulauan Cocos (12,5 jam) serta Australia dan Argentina (11 jam).
Walau berlangsung singkat, namun suhu udara di negara-negara tersebut tetap membuat puasa jadi lebih “menantang”, karena tahun ini Ramadan jatuh di awal musim panas.
Jika masih ingin merasakan suasana Ramadan di negara tetangga dengan waktu dan suhu yang bersahabat, wisatawan bisa mengunjungi Durban di Afrika Selatan dan Rio de Janeiro di Brazil.
Karena, seperti yang dilansir dari The Economist, kedua negara tersebut masing-masing memiliki waktu puasa “sesingkat” di Asia, selama 12 jam, dengan suhu udara “sesejuk” di Eropa, sekitar 17 Celcius sampai 21 Celcius.
(ard)
Sementara itu, Muslim di belahan dunia lain harus menjalani puasa dengan waktu yang lebih lama, dikarenakan matahari terbit lebih panjang.
Dilansir dari Gulf News pada Selasa (30/5), negara dengan waktu berpuasa paling lama ialah Islandia dan Greenland (21 jam), Kazakhstan (18 jam) serta Iran, China (16 jam).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keuntungannya, berpuasa di sana jauh lebih nyaman, karena suhu udaranya yang sejuk.
Salah satu peserta mengumandangkan azan ketika mengikuti pelatihan membaca Al-Quran braille bagi tuna netra di Yayasan Raudlatul Makfufin, Tangerang Selatan, Banten. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Namun, jika waktu terbit dan tenggelam matahari sudah tak bisa lagi diperkirakan, Islam memberikan “keringanan” dengan memperbolehkan umatNya untuk mengikuti waktu berpuasa di kawasan yang paling dekat, dengan perhitungan waktu yang lebih jelas.
Meski sama-sama berada di Eropa, namun ada negara yang memiliki waktu berpuasa lebih “bersahabat”, yaitu Rusia (19 jam), Irlandia (18,5 jam), Inggris (18 jam), Perancis (17 jam), Spanyol (16,5 jam) dan Turki (16 jam).
Di Amerika, negara yang memiliki waktu berpuasa yang sama ialah Kanada (17 jam), Amerika Serikat (16 jam) dan Peru (12,5 jam).
Dibandingkan Eropa dan Amerika, Timur Tengah dan Asia memiliki lebih banyak negara dengan waktu berpuasa yang juga “bersahabat”, yakni Yordania dan Jepang (15,5 jam), Arab Saudi, Dubai, Thailand dan Hong Kong (14,5 jam) serta Singapura dan Malaysia (13,5 jam).
Jajanan berbuka puasa di Aceh. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Sedangkan negara di dunia dengan waktu berpuasa paling singkat ialah Kepulauan Cocos (12,5 jam) serta Australia dan Argentina (11 jam).
Walau berlangsung singkat, namun suhu udara di negara-negara tersebut tetap membuat puasa jadi lebih “menantang”, karena tahun ini Ramadan jatuh di awal musim panas.
Jika masih ingin merasakan suasana Ramadan di negara tetangga dengan waktu dan suhu yang bersahabat, wisatawan bisa mengunjungi Durban di Afrika Selatan dan Rio de Janeiro di Brazil.
Karena, seperti yang dilansir dari The Economist, kedua negara tersebut masing-masing memiliki waktu puasa “sesingkat” di Asia, selama 12 jam, dengan suhu udara “sesejuk” di Eropa, sekitar 17 Celcius sampai 21 Celcius.
(ard)

Jajanan berbuka puasa di Aceh. (CNN Indonesia/Safir Makki)