Artikel Tajil

Suara Keras Bangunkan Sahur, Tak Salah Asal Tak Menganggu

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Selasa, 06/06/2017 17:11 WIB
Suara Keras Bangunkan Sahur, Tak Salah Asal Tak Menganggu Bunyi-bunyian riuh menjelang sahur selama bulan Ramadan sebenarnya tak masalah, asalkan tidak menganggu dan berlebihan. (Dok/Foto: ANTARA FOTO/Feny Selly)
Jakarta, CNN Indonesia -- Salah satu keunikan saat menjalani bulan puasa adalah adanya segerombolan anak atau remaja yang berkeliling kompleks atau kampung untuk membangunkan sahur.

Alat yang dipakai pun beragam, mulai dari alat musik modern seperti bass drum atau yang lebih tradisional semisal kentongan. Bila tak ada anak-anak yang keliling sekitar kompleks rumah, kadang ada yang membangunkan warga dengan pengeras suara masjid.

Meski ada yang terbantu karena dibangunkan, ada juga yang merasa itu menganggu dan berlebihan. Bagaimana sebenarnya perihal membangunkan sahur dengan suara atau bunyi-bunyian keras ini?



Menurut Ketua Lembaga Dakwah PBNU, KH Maman Imanul Haq, masyarakat perlu mengapresiasi apa yang anak-anak atau remaja ini lakukan. Mereka berinisiatif untuk membangunkan para ibu untuk mempersiapkan santap sahur.

"Namun kita harus melakukan kritik, banyak sekali dari orang yang ingin melakukan kebaikan tetapi dengan cara yang tidak benar, atau orang yang melakukan kebenaran tapi dengan cara yang tidak baik," katanya dalam video seri Tanya Jawab Seputar Islam (TAJIL) di CNNIndonesia.com.

KH Maman menjelaskan, Islam selalu melandaskan ajarannya pada tiga fondasi penting, yakni iman atau kebenaran, Islam atau kebaikan dan ikhsan atau keindahan. Maka, lanjutnya, sebaiknya orang yang membangunkan sahur berprinsip pada ketiga nilai-nilai tersebut.


"Misal jangan sampai jam 11 sudah mulai atau jam 12, jam 1 sudah mulai. Itu tentu mengganggu. Sebaiknya mulai jam 3 atau 3.30 lalu, lalu ada kebaikan, misal musik-musik yang diperdengarkan adalah musik-musik Islami yang menggugah selera, termasuk juga keindahannya," jelasnya.

Ia juga berharap masjid-masjid mulai berbenah dengan mengatur penggunaan pengeras suara. Hal ini dilakukan agar jangan sampai pengeras suara diatur terlalu keras sehingga dapat mengganggu orang lain. Misalnya, tadarus mulai pukul 20.00-21.00. Kemudian mulai lagi pukul 03.00 hingga subuh. Jika orang tersebut ingin melanjutkan tadarus, mungkin sebaiknya menggunakan pengeras suara internal masjid.

"Saya yakin bahwa ajaran Islam yang penuh dengan kebenaran ini akan diterima kalau dilandasi nilai kebaikan termasuk juga nilai keindahan. Kita isi Ramadan dengan berbagi nilai-nilai itu, kebenaran, kebaikan dan keindahan," pungkasnya.