Coolsculpting, Sedot Lemak Versi Kekinian

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Rabu, 07/06/2017 08:14 WIB
Coolsculpting, Sedot Lemak Versi Kekinian Teknologi sedot lemak kini semakin bervariasi. (Dok. Alameda Spa JW Marriott)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dunia estetika terus berkembang dan menghadirkan teknologi-teknologi yang sanggup memperindah tampilan, baik wajah maupun tubuh secara keseluruhan.

Selama ini lemak dianggap sebagai biang kerok tampilan tubuh yang tak menarik. Berbagai macam cara dilakukan demi menghilangkan lemak tubuh, mulai dari diet, olah raga, bahkan ada pula yang melakukan sedot lemak atau liposuction.

Padahal, menurut dokter spesialis estetika dan antipenuaan Olivia Ong, dua jenis lemak tubuh, yaitu lemak dalam dan lemak luar. Dua jenis lemak ini berbeda, sehingga perlakuannya pun berbeda. Lemak dalam adalah lemak yang membungkus organ-organ tubuh misal usus dan jantung. Lemak ini biasanya mengganggu kesehatan.

"Kalau lemak luar, ia berada di bawah kulit. Ini mengganggu penampilan," kata dokter Olivia saat ditemui di Jakarta Aesthetic Clinic, Jakarta Selatan Selasa (6/6).


Ia menjelaskan, lemak dalam sangat responsif terhadap diet dan olah raga. Lemak jenis ini memang bisa luruh berkat kedua kegiatan ini. Sedangkan lemak luar lebih sulit diatasi. Lemak luar juga merespon terhadap diet dan olah raga, tapi hanya sekadar berubah bentuk, tanpa ada pengurangan jumlah sel lemak.

Ada dua cara untuk mengatasi lemak luar, yakni metode bedah dan non-bedah. Kehadiran metode non bedah atau lipolisis kini banyak diminati.

Ada beragam teknik lipolisis jika dilihat dari alat yang digunakan. Salah satu teknik terbaru untuk solusi ini adalah pemanfaatan suhu dingin untuk membunuh sel lemak.

Metode pemanfaatan suhu dingin untuk menghilangkan lemak ini dikenal dengan nama Coolsculpting. Metode ini memanfaatkan suhu dingin untuk membunuh sel lemak, sehingga bentuk tubuh akan ramping berkat berkurangnya sel lemak.

Alat bekerja dengan menarik sel lemak, membekukannya pada suhu 4 hingga -10 derajat Celsius atau di bawahnya, kemudian sel lemak yang sudah mengkristal akan luruh bersama keringat dan urin.

"Lemak tadi keluar dari tubuh melalui keringat dan urin. Maka treatment perlu diimbangi olah raga dan minum yang cukup," ujarnya.

Proses keluarnya lemak dari tubuh ini biasanya berlangsung hingga tiga bulan. Proses alami lewat keluarnya keringat dan urin ini membuat kulit bisa menyesuaikan dengan perubahan bentuk tubuh secara perlahan atau bertahap. Sehingga mereka yang melakukan perawatan ini tak perlu khawatir kulit akan kendor karena lemak berkurang.

Metode Coolsculpting ini punya beberapa keunggulan, lanjut dokter Olivia, antara lain ia tak akan memengaruhi kadar kolesterol dalam darah. Mungkin ada yang berpikir bahwa lemak yang sudah mati akan lari ke darah, padahal ia akan luruh bersama keringat dan urin.

Selain itu, tak ada pengaruh apapun pada permukaan kulit, termasuk kulit jadi meradang atau kemerahan. Pengaruhnya hanya rasa seperti kesemutan atau kulit menjadi baal selama dua minggu.

"Coolsculpting bisa dilakukan pada berbagai lokasi tubuh. Hal ini didukung dengan ketersediaan alat. Biasanya sekitar 20 persen sel lemak berkurang dalam sekali treatment," jelasnya.