'Phubbing', Fenomena Sosial yang Merusak Hubungan

Ferdy Thaeras, CNN Indonesia | Jumat, 14/07/2017 16:02 WIB
Phubbing, kebiasaan sibuk berkomunikasi dengan orang lain di gadget padahal ada lawan bicara di depan mata, menjadi fenomena sosial yang memprihatinkan. Phubbing, kebiasaan sibuk berkomunikasi dengan orang lain di gadget padahal ada lawan bicara di depan mata. (Foto: Thinkstock/Rawpixel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tidak bisa dipungkiri, untuk urusan bicara dengan orang lain tanpa memainkan telepon genggam sepertinya menjadi hal yang sulit bagi kebanyakan orang, khususnya para generasi milenial.

Bisa diperhatikan saat berada di restoran, di mana pasangan atau sekumpulan teman yang seharusnya saling berbincang akrab, ada saja yang sibuk memainkan telepon meskipun bukan soal pekerjaan yang mendadak.

Kebosanan seseorang saat berbincang tatap mata dan beralih berbincang dengan orang lain via smartphone dinamakan Phubbing, yang merupakan kependekan dari Phone Snubbing.

Asal Mula
Istilah phubbing yang kembali viral ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sejak kelahiran telepon genggam yang serba canggih, banyak orang yang sibuk sendiri dan tidak menghiraukan lawan bicaranya.
 

Kampanye untuk menghentikan phubbing ini digencarkan di tahun 2012 oleh agensi periklanan McCann dan kemudian diramaikan oleh media di seluruh dunia. Setelah itu istilah tersebut resmi didaftarkan dalam kamus Macquarie.

Seiring waktu berjalan, ada yang menyebutnya dengan istilah ‘autis’ namun hal tersebut dikecam oleh banyak orang karena menyinggung makna autis yang sebenarnya. Istilah tersebut menjadi kasar dan tidak digunakan lagi oleh banyak orang.

Kembali Tren
Istilah phubbing ini kembali viral dengan adanya studi yang dilakukan oleh Dr James Roberts dan Dr Meredith David dari Baylor University di Texas, seperti dikutip dari Dailymail.

Phubbing yang sekarang terjadi ternyata cukup memprihatinkan karena dilakukan saat momen kebersamaan terjadi. Biasanya dilakukan oleh pasangan dalam hubungan percintaan atau para sahabat yang sedang berkumpul.

Dari 143 individu yang diujicobakan, ternyata 70% tidak bisa lepas dari telepon genggam dan melakukan phubbing. Sedangkan 450 responden yang menjadi korban phubbing, 46% nyata-nyata menjadi korban dari pasangannya sendiri dan sisanya langsung mengomel.

Phubbing yang disengaja
Terlepas dari banyaknya aplikasi media sosial untuk mengobrol yang menyenangkan dan adiktif, ternyata phubbing juga menjadi alasan bagi seseorang untuk menjauhkan lawan bicaranya dengan sengaja.

Hal ini biasa terjadi jika ada orang baru yang tidak disukai atau tidak membuat rasa nyaman ikut serta dalam obrolan. Bagi para pasangan, hal ini dilakukan jika sedang merasa bosan dan lebih memilih untuk mencari keseruan dari orang ketiga. 

Efek Jangka Panjang
Phubbing jika dilakukan sekali dua kali mungkin masih bisa ditolerir bagi pasangan atau teman, namun jika konsisten dilakukan berisiko merusak kualitas hubungan.

Efek jangka panjangnya adalah hal tersebut menjadi biasa dan dimaklumi, komunikasi pun dirasa tidak perlu dilakukan.
 Hal terburuk adalah seseorang akan dijauhi dan tidak akan diikutsertakan lagi.


Menurut Julie Hart, pakar hubungan sosial dari The Hart Centre, Australia, ada tiga faktor hubungan sosial yang menjadi tumpul karena phubbing.
Pertama adalah akses informasi, di mana kemampuan mendengar dan membuka diri akan informasi dari lawan bicara.

Kedua adalah respon, yakni usaha untuk memahami apa yang disampaikan lawan bicara dan mengerti maksud yang disampaikan.
Ketiga adalah keterlibatan, yakni saat dua faktor sebelumnya diabaikan, seseorang tidak akan terlibat dari wacana yang dilontarkan dan hanya mengiyakan saja. Lawan bicara pun akan tersinggung dan yang terburuk malas bicara lagi. (frt/frt)
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK