Media Ikut Bertanggung Jawab Terkait Aksi Bunuh Diri

Ferdy Thaeras, CNN Indonesia | Jumat, 21/07/2017 10:33 WIB
Media Ikut Bertanggung Jawab Terkait Aksi Bunuh Diri Foto: Mario Anzuoni
Jakarta, CNN Indonesia -- Kasus bunuh diri vokalis utama Linkin Park, Chester Bennington akibat gantung diri membuat orang banyak bertanya, mengapa selebriti yang terkenal, kaya raya dan dipuja banyak orang memutuskan mengakhiri hidupnya. Hidup dalam kemewahan pun tidak menjamin kebahagiaan seseorang dan membuat niat bunuh diri terpicu.

Jika ditelusuri dari berbagai kasus bunuh diri yang marak terjadi beberapa tahun ke belakang, para psikolog sepakat bahwa depresi merupakan penyebab nomor satu. Namun jika ditelaah lebih dalam penyebabnya, ternyata ada peranan media yang memicu depresi datang.

Dirangkum dari berbagai sumber, media yang dimaksud adalah media sosial dengan cyber-bullying (perundungan siber) hingga pemberitaan yang berlebihan dan membuat seseorang tidak kuat secara psikologis.

Psikolog Mira Amir yang dihubungi Cnnindonesia.com via telepon, Jumat (21/07/2017) mengatakan bahwa sebenarnya untuk para selebriti, menjadi bahan pemberitaan media sudah menjadi satu paket dengan profesi. Kemajuan karier selebriti pun juga hasil dari pemberitaan selebriti, jadi sebenarnya bunuh diri di kalangan artis karena media jarang ditemukan.


“Yang dikhawatirkan justru efek pemberitaan media akan seorang artis idola kepada para penggemarnya. Mereka jadi terinspirasi untuk mengikuti jejak idolanya,” ujar Mira. Mira sendiri mengungkapkan bahwa seiring perkembangan zaman, kasus depresi ingin bunuh diri tak hanya melanda orang dewasa namun juga anak kecil hingga remaja.

Dalam kasus selebriti, menjadi bahan pemberitaan media sudah menjadi risiko pekerjaan. Jika seorang selebriti tidak bisa menanggapi dengan baik pemberitaan, tandanya ia belum siap menjadi bintang yang sesungguhnya. Mira mengungkap lagi bahwa jarang ada selebriti yang berobat karena depresi diberitakan media.

Yang banyak terjadi menurutnya adalah keinginan bunuh diri karena perundungan (bullying) secara langsung maupun lewat media sosial. Di era serba digital ini, banyak orang yang berkomentar sesuka hati dan tidak menampilkan identitas diri yang sebenarnya.

Hal ini sebenarnya tidak perlu dipedulikan karena komentar di media sosial dikeluarkan oleh orang-orang tanpa identitas yang jelas. Namun jika jumlah pesan yang ‘meneror’ semakin banyak dan tidak terkendali, manusia manapun akan terpapar pada risiko depresi.

Kemudahan media sosial semakin memudahkan orang untuk berkomunikasi namun juga melontarkan atau membagikan hal-hal yang tak pantas. Instagram, Twitter, Facebook hanya segelintir media sosial. Belum lagi akses kepada media yang menyajikan tayangan seperti Youtube.

Psikolog Mira Amir mengungkap bahwa pernah ada kasus di mana seorang anak kecil mencari informasi tentang cara bunuh diri tanpa rasa sakit. Hal ini disebabkan karena dirinya kerap menerima perundungan dari teman-temannya, dan anak tersebut inisiatif mencari informasi di  berbagai media.

Dari sisi psikologi, dihimbai agar media lebih komprehensif dalam menyajikan berita maupun konten. Pemaparan secara komplet sebab akibat yang bisa menjadi kewasapadaan yang harus dihindari, bukan yang mengarah ke aspek menginspirasi pembaca untuk melakukan hal negatif.