Laporan dari Kalimantan

Rujak Thai Pu Ji, Camilan Idola Masyarakat Singkawang

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Kamis, 24/08/2017 07:08 WIB
Rujak Thai Pu Ji, Camilan Idola Masyarakat Singkawang Rujak Thai Phui Ji menjadi salah satu santapan favorit warga Singkawang (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Singkawang, CNN Indonesia -- Rujak atau potongan buah-buahan yang biasa dicampur dengan gula merah seringkali dianggap sebagai camilan yang menyegarkan. Makanan ini terbilang eksis di Jakarta dan Bogor, Jawa Barat. Pedagang rujak yang hanya bermodalkan gerobak dorong pun biasa beroperasi di wilayah perkantoran dan habis dibeli oleh para karyawan kantoran.

Eksistensi rujak pun sampai ke Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Di sini, terdapat satu pedagang rujak yang menjadi favorit masyarakat Singkawang yaitu Rujak Thai Phui Ji.

Tempat makan rujak tersebut bukan di rumah toko seperti rumah makan kebanyakan. Dia hanya tempat makan rujak beratapkan tenda di Jalan Setiabudi.


Seseorang yang baru pertama kali ke Singkawang mungkin akan kebingungan untuk mencicipi rujak buatan A Kian alias pemilik warung rujak tersebut. Selain jalan raya Singkawang yang berputar-putar, tempat rujak itu hanya memiliki spanduk yang menyebutkan nama dan menu jualan mereka.


Ciri khas rujak ini terletak pada ebi dan kacang yang melimpah.Ciri khas rujak ini terletak pada ebi dan kacang yang melimpah. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)


Masuk ke dalamnya hanya terdapat empat meja panjang. Jika sedang ramai pengunjung maka seseorang harus rela antre untuk menunggu giliran duduk dan makan rujak di sana. Alternatif lainnya adalah dengan memesannya untuk dibawa pulang.

Namun, penampilan warung memang tidak bisa disandingkan dengan rasa rujak yang terbilang legendaris tersebut. Rujak Thai Phui Ji sudah berdiri selama 27 tahun.

Penamaan Thai Phui Ji sebenarnya panggilan akrab dari kawan-kawan A Kian yang memiliki arti 'Aci Gendut'. Tidak heran, julukan itu karena bentuk badan A Kian yang lumayan besar.

"Nama itu panggilan saya sebenarnya artinya Aci Gendut. Kalau nama asli saya ya A Kian," ujarnya seraya tertawa.

Perempuan usia 60 tahun itu memang tidak fasih Berbahasa Indonesia. Sehari-hari dia selalu menggunakan Bahasa Hakka dengan keluarga dan masyarakat sekitar. Bahasa Hakka merupakan bagian dari bahasa China.


Bukan hal yang aneh jika mendengar masyarakat Singkawang yang berbicara dalam Bahasa China. Sebanyak 62 persen masyarakat Singkawang memang berkomunikasi dengan bahasa tersebut, bahkan generasi tua hampir kebanyakan tidak bisa Bahasa Indonesia.

Kelebihan rujak yang dibuat A Kian terdapat pada kacang dan ebi yang digunakan dalam bumbu sausnya. Ebi memang menjadi salah satu makanan yang diminati oleh masyarakat Singkawang.

"Ciri khas rujak ini ada pada ebi dan kacang yang digunakan lebih banyak, orang Singkawang suka ebi," ucapnya.


Dengan cekatan, A Kian mengulek bumbu rujak dan mengaduknya dengan buah-buahan yang telah dipotong. Salah satu rujak yang banyak dicari adalah rujak mangga.

Rujak mangga dibuat dari mangga muda yang diiris kecil-kecil dan dicampurkan dengan bumbu rujak dan ebi. "Biasanya rujak mangga dicari karena ada ebi ini," ucapnya.

Selain mangga rujak terdapat juga rujak buah dan rujak pecel. Rujak buah terdiri dari buah mangga, nanas, bengkuang, timun, pepaya dan ubi.


Sementara itu untuk rujak pecel terdiri dari rebung, kacang panjang, kangkung, pakis dan mihun (bihun). Untuk setiap rujak yang dihidangkannya pun tak lupa diberikan emping di atasnya.

Opak siram kuah kacang juga menjadi menu incaran warga SingkawangOpak siram kuah kacang juga menjadi menu incaran warga Singkawang (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Menurut A Kian, masyarakat Singkawang menyukai emping.

A Kian mengatakan, pembuatan rujaknya merupakan warisan turun temurun yang diajarkan oleh orang tuanya.

"Kenapa seperti ini, ini ilmu dari mama, ilmu turun temurun yang diwariskan karena dulu mama juga jual rujak dan mi," tuturnya.

Untuk seporsi rujak mangga dihargai Rp20 ribu sedangkan rujak buah Rp15 ribu.

Meski demikian, A Kian mengatakan, keramaian warung rujak miliknya baru beberapa tahun belakangan. Dahulu yang datang tidak seramai sekarang ini. Warung rujak tersebut biasanya buka dari pulul 11.00 hingga 17.00 WIB.

"Kalau dulu sepi, ramai baru beberapa tahun belakangan. Biasanya orang ke sini ramai hari Minggu," ujarnya.