Pidato Emosional Charles Spencer, Adik Putri Diana

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Kamis, 31/08/2017 14:35 WIB
Pidato Emosional Charles Spencer, Adik Putri Diana Charles Spencer menyampaikan pidato saat upacara pemakaman Putri Diana, pada 6 September 1997. Isi pidatonya menggugah hati dan emosional. (Foto: AFP PHOTO / Youn Kong CHOO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Adik Putri Diana, Charles Spencer atau lebih akrab disapa Earl Spencer menyampaikan pidato yang menggugah hati dan emosional saat pemakaman Putri Diana, 6 September 1997 lalu.

Baginya, dunia telah kehilangan sosok putri yang bersahaja, berjiwa sosial tinggi dan berani mendobrak hal-hal yang sebelumnya dianggap tabu oleh istana. Hampir tak ada yang bisa melupakan pidato Spencer saat upacara pemakaman yang berlangsung di Westminister Abbey tersebut.

Mengutip dari USA Today, saat itu hampir dua ribu pasang telinga berada di area Westminister Abbey dan jutaan pasang telinga orang-orang di luar sana mendengarkan pidato Spencer yang begitu emosional. Banyak orang merasa kehilangan meski tak benar-benar pernah bertemu dengan ibu dari Pangeran William dan Pangeran Harry ini. Ia berkata, Diana telah menyentuh hati banyak orang, tanpa harus menyandang status 'orang istana'.


"Seseorang dengan kebangsawanan alami yang tanpa kelas dan yang membuktikan tahun lalu bahwa dia tak perlu status ningrat untuk melanjutkan hal-hal ajaib yang ia kerjakan," kata Spencer dalam pidatonya dilansir dari USA Today, Rabu (30/8).


Spencer pun menyayangkan kepergian Diana dalam usia yang masih begitu muda. Namun, hal ini membuat semua orang belajar untuk bersyukur bahwa ia pernah dihadirkan Tuhan dalam hidup ini.

"Hanya sekarang, saat kamu pergi, membuat kami menghargai diri kami kini tanpa kehadiranmu, dan kami ingin kamu tahu bahwa hidup tanpa dirimu sangat, sangat sulit," ucapnya merujuk pada Diana.



Spencer juga mengenang Diana sebagai seorang dengan selera humor yang tinggi. Ini mampu memancarkan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya. Satu hal yang jadi warisan Diana adalah rasa welas asih pada mereka yang memerlukan. Menurutnya, ini adalah suatu anugerah Tuhan.

"Tanpa kepekaan yang diberikan Tuhan padamu, kami akan makin tenggelam dalam ketidakpedulian kami terhadap penderita AIDS dan HIV, nasib buruk gelandangan, isolasi orang kusta, kehancuran akibat ranjau," katanya.


Diana rupanya pernah bercerita pada sang adik bahwa segala yang ia lakukan didorong oleh penderitaan. Ia merasa tak berharga dan gejala ini semakin tampak saat ia mengalami gangguan makan. Ia ingin melakukan hal-hal baik demi melepas perasaan negatif yang membelenggu dirinya.

"Demi semua status, kehidupan glamor, tepuk tangan, Diana tetap seorang yang dari dalam hati terdalamnya merasa tak aman, layaknya anak-anak ia ingin melakukan hal baik untuk orang lain sehingga ia bisa melepas rasa tak berharga dalam dirinya yang mana gangguan makan jadi gejalanya," kata Spencer.

Terakhir ia bertemu sang kakak saat ulang tahunnya di London pada 1 Juli. Diana bukanlah wanita yang gemar merayakan ulang tahun dengan teman-temannya. Ia merayakannya dengan menjadi tamu kehormatan sebuah acara pengumpulan dana amal. Spencer ingat betul momen itu, tapi momen saat Diana mengunjungi ia dan keluarganya di Afrika Selatan adalah momen yang paling lekat di ingatannya.

"Saya bangga, ketika itu ia bertemu dengan Presiden Mandela dan kami mengatur agar ia tak tersentuh paparazi sedikit pun, itu begitu berarti untuknya," kenangnya.


Spencer begitu dekat dengan Diana, apalagi mereka dua orang anggota keluarga termuda di rumah. Kendati sudah menyandang nama besar sebagai anggota keluarga kerajaan, Diana tetaplah Diana, kakak dari Spencer. Menurutnya, Diana tetap mengurusnya layaknya anak kecil.

Bungsu empat bersaudara ini juga mengutuk wartawan atas apa yang terjadi pada sang kakak. Demi menghindari paparazi, ia sampai harus keluar dari Inggris. Ironis memang, lanjut Spencer, wanita yang menyandang nama mitologi kuno, dewi pemburu akhirnya jadi buruan nomor satu di era modern.

"Dia pasti ingin kita melindungi putera-putera terkasihnya, William dan Harry dari nasib yang sama dan saya melakukan ini sebagai perwakilan Diana. Kami tidak akan membiarkan mereka menderita kesesakan yang bisa menimbulkan air mata," ucapnya.

Pidatonya berakhir dengan suara yang gemetar, diiringi gemuruh tepuk tangan dari para pelayat.

"Saya ingin mengakhirinya dengan berterima kasih pada Tuhan untuk rasa belas kasih yang Ia tunjukkan saat ini, karena mengambil Diana seorang yang sangat cantik dan menonjol dan saat ia bahagia dalam hidupnya. Di atas itu semua kami berterima kasih pada hidup seorang wanita yang saya sangat bangga menyebutnya sebagai kakak, seorang yang unik, kompleks, luar biasa dan tak tergantikan, yang cantik baik dalam maupun luar, ia tak akan pernah hilang dari ingatan kami," tutupnya.