Ribuan Warga Yogyakarta Ikuti Ritual Budaya Mubeng Beteng

Agustiyanti, CNN Indonesia | Jumat, 22/09/2017 01:34 WIB
Ribuan Warga Yogyakarta Ikuti Ritual Budaya Mubeng Beteng Ritual Lampah Budaya Tapa Bisu Mubeng Beteng atau diam mengelilingi benteng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dilakukan guna memperingati tahun baru Jawa 1 Sura. (ThinkStock/khafid mukriyanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ribuan warga Yogyakarta mengikuti ritual Lampah Budaya Tapa Bisu Mubeng Beteng atau diam membisu berjalan mengelilingi benteng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dilakukan untuk memperingati tahun baru Jawa 1 Sura, Jumat dini hari (22/9).

Dikutip dari Antara, ribuan warga bersama para abdi dalem keraton berkumpul di sekitar Bangsal Ponconiti Keben Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak Kamis (21/9) pukul 20.00 WIB.

Acara Ritual tahunan itu diawali dengan pembacaan tembang macapat dan doa yang dipimpin oleh abdi dalem keraton, KRT Projo Suwasono.


Selanjutnya, tepat pukul 00.00 WIB ribuan warga, baik penduduk asli Yogyakarta maupun pendatang, beserta abdi dalem mulai menjalankan ritual budaya itu setelah dilepas oleh Putri pertama Sultan H.B. X, Gusti Kanjeng Ratu (G.K.R.) Mangkubumi.

Mereka menyusuri jalan tanpa berbicara mengelilingi seluruh benteng keraton yang berjarak 5 kilometer.

Ritual itu dimulai dari Keben Keraton menuju Jalan Retowijayan, Jalan Kauman, Jalan Agus Salim, Jalan Wahid Hasyim, hingga Pojok Beteng Kulon, Jalan Mayjen M.T. Haryono samapai Pojok Benteng Wetan, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Ibu Ruswo, Alun-Alun Utara, dan berakhir di Keben Keraton.
[Gambas:Instagram]
Ketua Panitia Acara Lampah Budaya Mubeng Beteng Keraton Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Gondohadiningrat menjelaskan, ritual tahunan ini merupakan bentuk introspeksi diri terhadap apa yang dilakukan pada tahun lalu, dan memperbaiki diri memasuki tahun baru.

"Memiliki pesan mengingatkan masyarakat agar senantiasa mawas diri dalam menjalankan kewajiban, sekecil apa pun, sekaligus sebagai sarana meminta doa agar pada tahun-tahun ke depan selalu mendapatkan keselamatan," katanya.

Tugiyem (65), warga Ngampilan, Yogyakarta, yang baru pertama kali mengikuti ritual itu berharap mendapatkan ketenteraman. Ia menganggap ritual yang sudah dimulai sejak Hamengku Buwono (H.B.) II ini sebagai sarana untuk membersihkan diri.

"Mudah-mudahan bisa mendapatkan ketenteraman dan diberikan keselamatan," ungkap Tugiyem yang datang bersama anaknya.

Wakil Kepala Dinas Kebudayaan DIY Singgih Raharjo menyebut ritual Lampah Budaya Tapa Bisu Mubeng Beteng telah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya nasional asli Yogyakarta.

"Ritual budaya ini pantas untuk terus dilestarikan," terangnya. (agi/agi)