Menyusuri Tren Kopi, dari yang Instan hingga Seduh Sendiri

Filani Olyvia, CNN Indonesia | Minggu, 01/10/2017 09:40 WIB
Menyusuri Tren Kopi, dari yang Instan hingga Seduh Sendiri Tren kopi bergeser dari awalnya kopi instan, lalu kopi olahan di kafe, hingga kini banyak yang ingin meraciknya sendiri atau lebih kerap disebut manual brewing. (Foto: StokPic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menikmati kopi kini tak lagi sekadar pelepas dahaga atau pemompa semangat di pagi hari. Seiring berkembangnya kedai kopi bergaya modern, minum kopi pun jadi gaya hidup tersendiri bagi kalangan tertentu.

Namun, perjalanan kopi tak sesingkat yang dibayangkan. Trish Rothgeb, co-founder dan roastmaster dari Wrecking Ball Coffee Roaster mengungkapkan, perkembangan aktivitas pengolahan dan konsumsi kopi selama ini bisa dikelompokkan ke dalam tiga gelombang.

Gelombang pertama diawali pada tahun 1800-an. Pada era inilah lahir sebuah inovasi yang dinamakan kopi instan. Berbagai produsen berlomba menciptakan inovasi untuk memudahkan konsumen menikmati kopi. Hanya saja, produksi massal dan kepraktisan penyajian pada gelombang pertama dinilai telah mengorbankan kualitas rasa dari kopi itu sendiri.

Dipicu oleh kekecewaan atas kualitas kopi pada gelombang pertama, penikmat kopi lalu mulai menaruh perhatian lebih kepada asal-usul kopi yang mereka minum, serta proses pengolahannya.


Ritual minum kopi mendadak bergeser makna menjadi sebuah pengalaman yang dikaitkan dengan kehidupan sosial. Keberadaan kafe mulai menjamuri kota-kota besar, seiring dengan perkembangan franchise kedai kopi Starbucks.

Gelombang kedua ini pula yang bertanggung jawab dalam mengenalkan minuman kopi berbasis espresso kepada dunia.

Namun, saat kedai kopi modern mulai terjebak untuk terus mengembangkan pembuatan coffee latte dan macchiato dengan takaran susu dan krim berlebihan, seketika muncul generasi baru yang ingin menikmati kopi dengan teknik pembuatan terbaik.

Generasi yang terobsesi dengan kenikmatan asli secangkir kopi, ketimbang kenyamanan dan keramahtamahan sebuah kafe.

Seperti wine, kopi lalu mulai dikategorikan sebagai minuman artisan. Para barista dituntut untuk bisa memberikan pilihan kopi dengan beraneka intensitas tingkat keasaman, dari masing-masing karakter biji kopi yang berbeda.

Di masa gelombang ketiga atau third wave of coffee inilah muncul istilah seperti single origin, dan juga manual brewing (racik sendiri).


Moelyono Soesilo, Ketua Departemen Specialty & Industri Badan Pengurus Pusat (BPP) Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), menerangkan, manual brewing adalah istilah yang belakangan muncul untuk membedakan hasil seduhan kopi menggunakan mesin dengan seduhan hasil tangan manusia.

"Sederhananya, manual brewing ini adalah pengembangan dari proses penyeduhan kopi di era first wave coffee. Seperti menyeduh kopi tubruk di Indonesia. Bedanya, dengan manual brewing, air dan ampas kopi langsung terpisah seketika," kata Moelyono, ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (29/9).

Saat ini pun telah bermunculan alat-alat seduh manual yang dapat memudahkan setiap orang untuk menyeduh kopinya sendiri, kapanpun, dimanapun, termasuk di rumah, seperti pour over atau coffee drip, french press atau plunger juga syphon.

Kendati demikian, Agung Yuwandono, barista dari East Indische Koffie, Jakarta, tidak menyarankan penggunaan syphon bagi pemula atau penyuka kopi yang ingin mencoba menyeduh kopinya sendiri di rumah.

Pasalnya, kata Agung, dibutuhkan ketepatan waktu yang tinggi saat menggunakan syphon. Syphon sendiri bekerja dengan teknik suction. Artinya, kopi akan dibasahi dengan uap panas yang muncul saat memasak air yang ada di wadah paling bawah. Air kopi hanya akan turun ke bawah saat sumber pemanasnya dimatikan.

"Untuk menyeduh kopi jenis arabika dengan syphon, maka kita harus sangat berhati-hati. Kalau suhunya panas sekali, maka saya khawatir hasilnya akan jadi pahit," kata Agung saat ditemui CNNIndonesia.com di Urban Life Coffee, Fashion & Sneakers di Mal Ciputra Jakarta, Jumat (29/9).

Menyusuri Jejak Kopi, dari yang Instan hingga Seduh SendiriMenyeduh kopi kini mulai beragam dan terus berkembang. (Foto: Unsplash/Pixabay)
Menurutnya, penggunaan french press atau plunger adalah salah satu alat seduh manual yang paling mudah, sekaligus murah untuk digunakan para pemula. Cukup siram, baru tekan penekan pada tutup, lalu tuang air kopi ke cangkir.

Mengenal teknik manual brewing

Di kesempatan yang berbeda, Hendri Kurniawan, pemilik kedai kopi A Bunch of Caffeine Dealers (ABCD) dan ABCD School of Coffee, Jakarta, membagikan sejumlah hal yang perlu diperhatikan saat Anda hendak mencoba menyeduh kopi sendiri menggunakan metode pour over.

Mengapa pour over? Karena menyeduh kopi dengan penyaringan seperti chemex atau V60 diyakini bakal menghasilkan cita rasa yang lebih murni dan segar.

Pertama, tentu Anda harus memastikan bahwa Anda sudah memiliki penyaring kopi terlebih dulu. Selain itu, kata Hendri, pastikan juga Anda punya mesin grinder atau penggiling kopi.

"Artinya, jangan gunakan kopi bubuk jika Anda ingin menyeduh kopi secara manual," kata Hendri, kepada CNNIndonesia.com, pada Jumat (29/9).


Pasalnya, saat melakukan manual brewing yang diharapkan adalah kenikmatan mencicipi keaslian cita rasa kopi tersebut. Beserta sensasi dari aroma yang berbeda. Aroma asli kopi tersebut hanya akan keluar saat diseduh sesaat setelah digiling.

"Kalau yang sudah jadi bubuk dan disimpan terlebih dulu, biasanya kopinya sudah apek. Jadi, beli biji dulu baru giling. Biar lebih fresh. Lagi pula, mendapatkan biji kopi tidak sulit lagi. Sudah banyak roaster-roaster baru yang sedia biji kopi nusantara," ujarnya.

Setelah itu, belajar menghitung rasio. Menurut Hendri, rasio paling umum yang digunakan saat menyeduh kopi adalah 1:15. Artinya, saat Anda menggunakan 1 gram kopi, maka Anda harus menuangnya dengan 15 gram air mendidih.

Suhu air juga harus diperhatikan. Suhu yang disarankan adalah sekitar 92-96 derajat Celcius. "Jadi, kalau kita merebus air sampai mendidih, tunggu sebentar sampai bui airnya turun, baru dituang," kata dia.

Tahap selanjutnya, diserahkan kepada masing-masing Anda. Putaran tangan saat menyeduh air, kata Hendri, biasanya dapat disesuaikan dengan tingkat kehalusan dari hasil gilingan biji kopi sebelumnya.

Normalnya, kata Hendri, bisa antara 2,5 hingga 4 menit. Oleh karena itu, teknik menyeduh pun bisa mempengaruhi rasa akhir kopi yang disajikan.