Sajian Ekstrem Serangga Saus Pesto di Bangkok

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Selasa, 03/10/2017 19:28 WIB
Sajian Ekstrem Serangga Saus Pesto di Bangkok Di Bangkok, serangga biasanya disajikan dalam bentuk kudapan. Namun, sebuah bistro justru menyajikan banyak makanan berat yang dibuat dari serangga. ( AFP PHOTO / LILLIAN SUWANRUMPHA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bangkok memang surganya makanan unik dan ekstrem. Warga Bangkok memang menggemari dan tak takut untuk mencicipi makanan yang tak biasa.

Serangga adalah salah satu makanan yang cukup digemari warga Bangkok termasuk jangkrik dan ulat sutra. Hewan-hewan kecil ini seringkali menjadi kudapan yang dinikmati sehari-hari.

Sudah bukan hal asing lagi jika menyusuri jalanan di Thailand dan menemukan pedagang kaki lima yang menjajakan serangga untuk dijual ke warga maupun turis sebagai makanan ringan. Tapi, bayangkan bagaimana jika restoran mewah yang menghidangkan olahan makanan tersebut?



Satu bistro di Bangkok, Insects in the Backyard menyajikan daging sapi yang diolah dengan bumbu pesto dan tambahan serangga sebagai salah satu menu yang ditawarkan.

"Di Thailand ada sejarah panjang antar penduduk lokal dan konsumsi serangga dalam jumlah besar. Namun, pada dasarnya disantap sebagai kudapan, bukan sebagai bagian dari makanan besar," jelas Regan Suzuki Pairojmahakij salah satu pemilik Insect in the Backyard dilansir dari Fox News.

"Kami tertarik untuk mengubah pikiran orang yang memandang serangga sebagai kudapan menjadi bagian dari masakan besar," lanjutnya.

Bersama dengan koki veteran beberapa restoran Thailand, Thitiwat Tantragarn dan timnya, mereka menciptakan menu yang menawarkan tujuh jenis serangga berbeda, seperti semut, jangkrik, ulat bambu, ulat sutera, dan kumbang air raksasa.


Thitiwat mengaku telah memasak daging ayam dan babi dalam waktu yang cukup lama. Namun, memasak serangga ialah dunia baru dalam seni memasak dan sebuah pelajaran baru.

"Ini adalah sesuatu yang baru. Anda tinggal di dunia ini jadi harus belajar hal-hal baru," ujar Thitwat.

Salah satu pelanggan Insects in the Backyard, Kelvarin Chotvichit, mengungkapkan bahwa menu yang ditawarkan memberikan gagasan baru akan rasa dan tekstur makanan.

"Saat aku mencicipinya itu membuatku memiliki sikap baru akan makanan, bahwa serangga bisa dimakan. Rasanya juga enak. Tidak seaneh yang dipikirkan. Dan ada kesan renyah seperti cemilan. Aku menyukainya," tutur Kelvarin.

Pakar makanan dari PBB telah mengungkapkan bahwa serangga ialah sumber nutrisi yang baik karena kaya akan protein, mineral, dan lemak baik. Dampak peternakan serangga pada lingkungan juga rendah karena tingkat hasil karbon yang jumlahnya tergolong sedikit.

Meskipun begitu, serangga bukanlah makanan yang disukai semua orang. Perasaan jijik dan geli yang menjadi masalah utama restoran ini dirasakan oleh salah satu pelanggan.

"Saya masih memiliki penghalang. Di pikiranku masih ada sesuatu yang menghentikanku untuk memakannya. Tapi ya, rasanya seperti makanan biasa," tutur Patr Srisook.

"Tentu saja ada nilai mengejutkan dengan menghidangkan serangga yang mungkin akan mengundang orang. Namun, intinya untuk umur panjang atau keberlangsungan restoran dan untuk serangga yang bisa dimakan, ia harus bisa berdiri sendiri.

"Harus menarik dan terasa lezat. Dan harus bisa memberikan sesuatu ke masakan," jelas Regan. (tab/chs)