Rasa Kesepian Tak Ubahnya dengan Penyakit Kronis

Rahman Indra , CNN Indonesia | Jumat, 13/10/2017 16:48 WIB
Rasa Kesepian Tak Ubahnya dengan Penyakit Kronis Studi menemukan bahwa rasa kesepian dapat memberi dampak buruk bagi kesehatan setara dengan mengidap penyakit kronis seperti diabetes dan tekanan darah tinggi. (Foto: Jeff Sheldon/Unsplash.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rasa kesepian terkadang dianggap sebagai hal yang biasa dan bisa menghilang seiring berjalannya waktu. Namun, studi menemukan bahwa rasa kesepian dapat memberi dampak buruk bagi kesehatan setara dengan mengidap penyakit kronis seperti diabetes dan tekanan darah tinggi.

Badan profesional untuk dokter umum di Inggris, Royal College of General Practitioners (RCGP), mengungkapkan orang yang kesepian memiliki kesempatan meninggal lebih cepat hingga 50 persen dibanding orang dengan kehidupan sosial yang baik. Angka ini menempatkan rasa kesepian sebagai penyebab kematian tinggi seperti diabetes.

Orang yang cenderung mengalami kesepian juga diketahui lebih sering berkonsultasi dengan dokter dibanding pasien lain.

Hasil penelitian Campaign to End Loneliness 2013 lalu menemukan bahwa tiga di antara empat dokter bertemu dengan lima pasien yang kesepian per hari. Satu di antara sepuluh bertemu dengan eman hingga sepuluh pasien per hari karena mereka merasa kesepian. Namun hanya 13 persen dokter yang merasa mampu untuk membantu mereka.


Ketua RCGP Dokter Helen Stokes-Lampard memaparkan bahwa pasien mengunjungi dokter karena kesepian dan menginginkan interaksi dengan orang lain. Ia juga menganjurkan agar dokter memberi waktu kepada pasien agar mereka memiliki seseorang untuk diajak bicara, meskipun tuntutan pekerjaan terus meningkat.

Ia menjelaskan bahwa menjadi pendengar yang baik lebih berguna daripada memberikan obat atau saran dalam mengatur gaya hidup.

"Petunjuk menjelaskan bahwa kita harus berbincang dengan mereka tentang berat badan, olahraga, dan memberi resep obat. Namun nyatanya, hal yang dibutuhkan pasien ialah seseorang untuk mendengarkan dan mencari tujuan untuk hidup," ujarnya dilansir dari The Guardian. 

Dalam konferensi tahunan RCGP Helen mengungkapkan bahwa isolasi sosial dan kesepian serupa dengan penyakit kronis jangka panjang karena dampak buruk yang diberikannya kepada kesehatan pasien.


"Dokter melihat pasien, banyak yang sudah janda, memiliki berbagai masalah kesehatan seperti diabetes, hipertensi, dan depresi. Namun, seringkali masalah utama mereka bukan medis, tapi mereka kesepian," tuturnya.

Penelitian lain yang dilaksanakan Campaign to End Loneliness menunjukkan bahwa orang yang kesepian 52 persen merindukan keberadaan orang lain, 51 persen merindukan tertawa dengan seseorang, dan 46 persen merindukan untuk tidak dipeluk.

"Dampak kesehatan akibat rasa kesepian bisa sangat menghancurkan. Hal ini lebih parah dari obesitas dan sama buruknya dengan merokok 15 batang rokok per hari. Kesepian kronis bisa memperpendek usia dan masalah ini terus berkembang," tutur Direktur Eksekutif Campaign to End Loneliness Laura Alcock-Ferguson.

Helen kembali menjelaskan bahwa rasa kesepian dan terkucilkan cenderung dirasakan oleh penduduk lansia. Rasa kesepian tersebut juga bukan sesuatu yang bisa diobati dengan obat-obatan atau perawatan di rumah sakit. Ia menambahkan agar dokter menyediakan waktu untuk pasien yang terkucilkan secara sosial.


Badan amal AGE UK memaparkan bahwa jutaan penduduk lansia di Inggris mengalami kesepian, sebuah kondisi menyedihkan tentang rasa ketidakbahagiaan yang mendalam. Perasaan terkucilkan tersebut bisa menjadi pertanda bagi kesehatan yang buruk.

Badan kesehatan Inggris, National Health Service (NHS), mengungkapkan dengan memiliki seseorang untuk diajak berbicara isu kesehatan yang dihadapi bisa tersampaikan.

Lebih lanjut direktur Age UK Caroline Abraham mengungkapkan bahwa rasa kesepian terkadang menjadi wajah isu mendasar yang serius dan tidak boleh dianggap sebagai masalah kecil. Dokter dianjurkan untuk selalu waspada akan masalah kesehatan mental seperti depresi. (tab)