Nusa Dua Tak Ingin Jadi Tempat Wisata yang Membosankan

Priska Sari Pratiwi, CNN Indonesia | Sabtu, 14/10/2017 14:47 WIB
Nusa Dua Tak Ingin Jadi Tempat Wisata yang Membosankan Nusa Dua kini mulai berbenah agar menjadi destinasi wisata favorit bagi turis dalam dan luar negeri. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Nusa Dua, CNN Indonesia -- Nusa Dua mungkin tak sepopuler Kuta atau Seminyak sebagai tujuan wisata di Pulau Bali. Sebagai kawasan mewah di selatan Bali, Nusa Dua awalnya lebih dikenal sebagai tempat pertemuan formal acara berskala internasional, yang terkesan membosankan.

Sebut saja Konferensi Perubahan Iklim PBB, pertemuan APEC, hingga gelaran Miss World pernah diselenggarakan di tempat ini.

Tak hanya ingin dikenal sebagai tempat meeting, Nusa Dua kini mulai berbenah agar menjadi destinasi wisata favorit bagi turis dalam dan luar negeri.


Puncaknya pada Maret lalu, saat kawasan ini telah menjadi tujuan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al-Saud untuk berlibur bersama keluarganya.

Dikelola Indonesia Tourism Development Center (ITDC), perusahaan pelat merah ini berupaya menciptakan Nusa Dua sebagai destinasi gaya hidup dan festival.

Tak hanya menyediakan hotel bintang lima, pusat kuliner, dan wisata belanja, pengelola kawasan ini juga mulai menggelar berbagai festival untuk meramaikan suasana, salah satunya Nusa Dua Fiesta (NDF) yang tengah digelar di Pulau Peninsula, kawasan ITDC pada 11-15 Oktober 2017 ini.

Wakil Direktur Utama ITDC Jatmiko K Santosa mengatakan, pihaknya ingin mengubah pola pikir turis mengenai kawasan Nusa Dua menjadi tempat wisata yang lebih menyenangkan.

“Orang selama ini kenal Nusa Dua itu tempat meeting aja, itu mindset yang ingin kami ubah. Tapi tetap dengan target kedatangan turis high end,” ujar Jatmiko ditemui di kawasan Nusa Dua, Bali, Jumat (13/10).

Melalui NDF, pihaknya sengaja menyajikan hiburan budaya khas Pulau Dewata yang menyasar turis kalangan menengah ke atas. Jika sebelumnya NDF kurang diminati karena terkesan seperti pesta rakyat, kali ini pihaknya mencoba mengusung konsep segala ada dengan gelaran acara musik hingga pesta kuliner.

"Kami mencoba mendekatkan sasaran tamu high end sehingga berubah dengan konsep playground,” kata dia. Nyatanya sejak perubahan konsep itu, jumlah turis yang berkunjung pun meningkat hingga empat kali lipat.

[Gambas:Instagram]

Jatmiko menyadari, sejak awal kawasan Nusa Dua memang didesain bagi kalangan menengah ke atas. Tak heran, banyak fasilitas hotel mewah bintang lima yang sengaja dibuat dengan akses langsung ke pantai pasir putih di kawasan Nusa Dua. Fasilitas dan kemewahan ini ia manfaatkan betul dengan tak berhenti di acara NDF saja.

Jatmiko mengatakan, ITDC telah menyiapkan rangkaian acara yang akan digelar mulai Maret 2018. Namun ia masih enggan membocorkan lebih jauh acara apa saja yang akan digelar selain NDF.

"Mulai Maret nanti sudah bisa dilihat jadwal event di Nusa Dua apa saja, yang jelas bukan cuma NDF," katanya.

[Gambas:Instagram]

Tak hanya gelaran acara, pihaknya juga berencana mengembangkan wisata Pantai Water Blow. Pantai yang terkenal dengan sensasi ombak besar ini, menurutnya, termasuk salah satu destinasi favorit para turis yang fasilitasnya masih sangat minim. Ia berniat membuat pantai ini lebih terbuka dan bisa menjadi pilihan kongko bagi para turis.

Penataan Water Blow rencananya dilakukan sebelum gelaran International Monetary Fund (IMD) World Bank Annual Meeting pada Oktober 2018.

Tak hanya tempat wisata, pihak ITDC juga akan mempersolek Bali Collection sebagai salah satu pusat belanja di Nusa Dua. Jatmiko sadar betul para turis yang berkunjung ke Nusa Dua tak sekadar ingin menikmati tempat wisata.

"Orang liburan lihat pantai sehari dua hari bosan, setelah itu mereka pasti ingin belanja. Kami akan lakukan lagi penataan di Bali Collection," ucapnya.

Perbaikan Infrastruktur

Pihak ITDC rupanya juga menaruh perhatian besar pada perbaikan infrastruktur dasar di kawasan Nusa Dua. Perbaikan infrastruktur rencananya akan dimulai dengan penggantian penggunaan tabung gas elpiji yang masih digunakan di beberapa hotel.

Ia mengaku tak nyaman dengan keberadaan tabung gas elpiji bekas yang diletakkan begitu saja di luar hotel.

"Kami akan ganti dengan pipa-pipa, jadi para tamu tidak akan melihat lagi tabung-tabung gas itu," katanya.

[Gambas:Instagram]

Pengembangan kawasan ITDC di Nusa Dua juga diklaim tetap akan mengutamakan kelestarian lingkungan alam sekitarnya. Salah satunya dengan pengelolaan limbah berkonsep new water,  yang secara sederhana berarti mendaur ulang air bekas menjadi air bersih.

Konsep ini tak berbeda jauh dengan pengelolaan di Singapura. Cara itu diyakini Jatmiko dapat meminimalisasi pembuangan limbah di kawasan Nusa Dua.

"Pengolahan limbah ini sebenarnya sudah lama ada, tapi tidak dikembangkan dengan baik. Di sini tugas kami untuk memperbaiki," ucap Jatmiko.

Peran Masyarakat

Pengembangan wisata di kawasan ITDC Nusa Dua diakui Jatmiko tak lepas dari peran masyarakat setempat. Selama ini pihaknya berupaya menjalin hubungan baik dengan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan ITDC.

Salah satunya dengan membuat pelatihan bahasa Mandarin bagi para pedagang di sekitar kawasan wisata. Jatmiko beralasan, selama setahun terakhir turis asal China mulai membanjiri kawasan wisata Nusa Dua.

Pelatihan bahasa Mandarin dinilai penting untuk memudahkan mereka berinteraksi dengan para turis mancanegara asal China.

[Gambas:Instagram]

"Sekarang gelombang turis China di sini luar biasa, maka kami buatlah pelatihan bahasa Mandarin," katanya.

Kendati demikian, hingga saat ini Jatmiko belum tahu pasti berapa banyak jumlah turis yang berkunjung di kawasan ITDC Nusa Dua. Ia tak menampik jumlahnya sedikit berkurang pasca status Gunung Agung.

Namun sebagai bagian dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pihaknya menargetkan ada 10 juta turis asal mancanegara pada 2019 yang memanfaatkan kawasan wisata yang dikelola pemerintah.

“Kami targetkan ada 10 juta turis yang memanfaatkan maskapai hingga tempat wisata milik pemerintah pada 2019,” ucapnya.