Kadar Karbon Dioksida di Atmosfer Capai Level Tertinggi

Rahman Indra, CNN Indonesia | Selasa, 31/10/2017 14:50 WIB
Kadar Karbon Dioksida di Atmosfer Capai Level Tertinggi Badan World Meteorological Organization ungkap kadar karbon dioksida di atmosfer capai level tertinggi pada 2016. Kondisi ini membuat bumi makin panas. (Foto: REUTERS/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kadar karbon dioksida di atmosfer mencapai level tertinggi pada 2016. Kondisi ini membuat bumi makin panas, dan berbahaya buat generasi mendatang. 

Laporan itu disampaikan badan World Meteorological Organization (WMO). Menurut laporan tersebut, kadar karbon dioksida mencapai rekor tertinggi dengan konsentrasi CO2 di angka 403,3 bagian per juta (ppm) di 2016, naik dari angka 400 bagian per juta (ppm) di 2015.

National Oceanic dan Atmospheric Administration menambahkan, naiknya kadar karbon ditengarai karena berbagai faktor terutama aktivitas manusia dan pengaruh 'kuat' El Nino. 



Meningkatnya konsentrasi efek rumah kaca di atmosfer ditengarai juga disebabkan karena industrialisasi yang dimulai sejak 1750. Ini juga didukung oleh sejumlah faktor lainnya antara lain pertumbuhan penduduk, dan penggunaan bahan bakar fosil.

"Tanpa upaya mengurangi kadar CO2 dan emisi gas rumah kaca, kita akan berada di kondisi membahayakan akhir abad ini, melebihi target yang juga kita ingin capai dari kesepakatan Paris," ungkap Petteri Taalas, Sekjen WMO dalam pernyataan resminya seperti dilansir dari CNBC, pada Selasa (31/10).

"Generasi mendatang akan mewarisi planet yang akan sangat tidak nyaman," ujarnya.

Kesepakatan Paris menargetkan pemimpin dunia berkomitmen untuk membuat pemanasan global 'berada di bawah' dua derajat Celcius di atas level industrial, dan mengupayakan batas suhu tak naik lebih dari 1,5 derajat Celcius. Namun, pada Juni lalu, Presiden Donald Trump mengumumkan menarik AS dari Kesepakatan Paris.


Taalas mengatakan CO2 bertahan di atmosfer ratusan tahun dan bertahan di samudra lebih lama.

"Kita akan menghadapi suhu lebih panas, efek perubahan iklim yang berbahaya di masa mendatang. Dan tak ada tongkat sihir ajaib yang menyingkirkan CO2 dari atsmofer," ujarnya.  

Erik Solheim, kepala UN Environment mengatakan beberapa tahun terakhir, ada pertaruhan besar akan energi terbarukan. Oleh karenanya, butuh upaya dua kali lebih besar yang dibutuhkan untuk isu perubahan iklim.

"Kita sudah ada beberapa solusi untuk ini, yang kita butuhkan sekarang adalah kemauan politik global dan respons akan kondisi darurat dan genting saat ini." (rah/rah)