Jaringan Hotel Mewah Buka Hotel 'Millennial' di Jakarta

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 12/12/2017 02:17 WIB
Jaringan Hotel Mewah Buka Hotel 'Millennial' di Jakarta Ilustrasi. (AFP PHOTO / Yuri KADOBNOV)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jaringan hotel Marriott International Inc. sudah lama dikenal memiliki banyak properti yang mewah.

Di Indonesia, Marriott sudah membangun St. Regis, Westin, Ritz Carlton, Courtyard, Sheraton, dan Le Meridien. Semua properti tersebut berada di kawasan utama dan berarsitektur megah, tentu saja dengan tarif menginap yang tidak murah.


Semakin banyaknya turis muda yang berwisata membuat Marriott meluncurkan lini properti yang berharga “lebih terjangkau”. Setelah Four Points, pekan kemarin mereka mengenalkan tiga brand properti baru, yakni Fairfield, Moxy, dan Aloft.


Ketiga hotel ini memiliki tarif menginap mulai dari Rp550 ribuan per malam, harga yang cukup murah untuk menginap di properti milik Marriott.

[Gambas:Instagram]

Fairfield berkonsep hotel plus gedung pertemuan, yang akan perdana dibangun di Bali dan Surabaya. Sedangkan Moxy dan Aloft berkonsep lebih "millennial", yang perdana dibuka di Bandung dan Jakarta.


Di Jakarta, Aloft berada di pinggir jalan kawasan Menteng, tidak jauh dari kawasan Cikini, Sabang, dan Sarinah.

“Dengan harga yang lebih terjangkau, kami tidak menurunkan kualitas. Kesan Marriott-nya tetap ada, dengan properti yang berada di kawasan utama dan layanan berkelas. Peluncuran brand baru ini bertujuan untuk memberikan lebih banyak pilihan menginap dengan beragam harga dari Marriott,” kata Juru Bicara Marriott Asia Pasifik, Shu Ping, kepada CNNIndonesia.com.

Shu Ping lanjut mengatakan, pihaknya menyadari kalau sudah banyak “hotel murah” di Bandung dan Jakarta. Tapi, ia mengungkapkan kalau Moxy dan Aloft memiliki konsep berbeda demi pengalaman menginap yang unik.

[Gambas:Instagram]

“Di Moxy, dari dekor sampai layanan khas anak muda. Lobi kami berbentuk bar, kamarnya bergaya industrial minimalis. Sedangkan Aloft dekorasinya kami bangun dengan lebih eklektik seperti rumahan. Saat masuk ke dalam bangunannya, tamu seakan pulang ke rumah, bukan tidur di hotel yang kaku,” ujar Shu Ping.

“Tak cuma fasilitas, menu makanannya juga diperbaharui, lebih anak muda. Selalu ada tempat ngopi dan bar di Moxy dan Aloft. Beragam acara musik juga bakal digelar di sana,” lanjutnya.

Sebelum membangun properti baru, Marriott selalu melakukan survei pasar terlebih dahulu. Lokasi sebelum bisnis, begitu kata Shu Ping. Demikian alasan Moxy dan Aloft dibangun di Bandung dan Jakarta, dua kota yang dipenuhi oleh hotel berharga ratus ribuan rupiah.

“Kami sadar sudah ada banyak hotel di Bandung dan Jakarta. Tapi kami juga yakin bisa bertahan dalam kompetisi tersebut, karena jumlah turis millennial semakin bertambah setiap tahunnya. Belum lagi tamu muda yang bepergian untuk pekerjaan,” pungkas Shu Ping.

(ard)