Hadir di Jakarta, 'Digital Fashion Week' Tampil Beda

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Rabu, 13/12/2017 16:17 WIB
Kali pertama hadir di Indonesia, Digital Fashion Week sebelumnya digelar di Singapura dan Thailand. Pekan peragaan busana ini usung ruang interaksi desainer. Kali pertama hadir di Indonesia, Digital Fashion Week sebelumnya digelar di Singapura dan Thailand. Pekan peragaan busana ini usung ruang interaksi desainer. (Foto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah beberapa kali digelar di Singapura dan Thailand sejak lima tahun lalu, pekan mode Digital Fashion Week kini hadir di Jakarta. Sesuai namanya, pekan mode ini mengusung sejumlah aktivitas digital selama perhelatan berlangsung.

Nama 'digital' sendiri disebutkan merujuk pada gelaran yang dapat disaksikan secara livestream lewat website, Facebook maupun Youtube Digital Fashion Week. Dengan akses ini, penonton di seluruh dunia dapat menyaksikan secara langsung atau live kegiatan baik di backstage maupun on staga, serta berinteraksi dengan DFW lewat media sosial.

Setelah melalui tahapan kurasi, beberapa nama desainer yang akan tampil dalam show tunggal di DFW pertama ini antara lain, Harry Halim (Paris), Chu Suwannapha (Afrika Selatan), Betty Tran (Australia), David Tlale (Afrika Selatan), Michelle Surjaputra (Lotuz, Indonesia), dan Mariano Ippolito (IT's Lifestyle, Italia).



Charina Widjaya, Managing Director DFW Creative, menuturkan ini merupakan kali pertama DFW hadir di Indonesia. Sebelumnya, DFW telah lima tahun berjalan di Singapura dan Thailand.

"Kami melihat Indonesia itu pasar yang luas dan menjanjikan. Gelaran ini harapannya bisa mengangkat desainer Indonesia dan menumbuhkan rasa cinta masyarakat internasional akan karya desainer lokal," katanya dalam konferensi pers di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (13/12). 

Selain show tunggal desainer, DFW mengusung sejumlah program lainnya. Di antaranya, peragaan busana dari lulusan terbaik Raffles Design Institute, seperti Paul Nataphol dan Witchaya, keduanya dari Thailand, serta Inge Kiang (Ink Studio), Adelyn Putri (Nude Femme) dan Shannon Sutiono dari Indonesia.

Berbeda dengan gelaran fashion pada umumnya, DFW juga melakukan pemasaran demi menciptakan peluang bisnis bagi para desainer. Untuk pertama kalinya, DFW membuat Retail Pop-up Store di lantai 4 Plaza Indonesia. Kegiatan jual beli berlangsung setelah gelaran show oleh desainer. Retail Pop-up Store akan dibuka selama dua bulan ke depan.


Selain itu, DFW juga menggelar Fashion forum pada 14-15 Desember 2017. Di program ini, pakar industri fashion dunia siap berbagi kisah dan kiat antara lain, Elena Bara, digital fashion editor Vogue Italia, Valerio Mezzanotti, pendiri NowFashion.com majalah fotografi fashion real-time pertama yang mempublikasikan live fashion show, juga Gianmarco Morazzoni, desainer asal Italia dan pemilik Mora 1962.

Disampaikannya, DFW juga mempromosikan misi sosial melalui kreatifitas lewat kolaborasi bersama Project Kooka. Nantinya selebritas, seniman, desainer akan melukis boneka Kooka lalu dilelang. Hasil lelang akan disumbangkan ke organisasi non-profit untuk memperbaiki akses anak-anak kurang mampu terhadap pendidikan yang layak.

"Misi kami adalah menggelar acara yang lengkap yang terdiri dari panggung runway, fashion forum, sales event dan juga elemen seni serta kegiatan sosial," ujarnya.

Show pembuka

Gelaran yang akan berlangsung hingga 16 Desember mendatang ini bakal dibuka oleh show tunggal dua desainer, yakni Harry Halim, desainer berdarah Indonesia yang telah sukses di Paris dan Chu Suwannapha, desainer berdarah Thailand yang kini berbasis di Cape Town, Afrika Selatan.


Harry Halim yang belum lama ini membuka butik di kawasan Cipete, Jakarta Selatan akan menampilkan koleksi bertajuk 'Les Fleur du mal' atau flowers of evil. Busana akan didominasi warna hitam sesuai dengan kekhasan Harry, yakni warna-warna gelap.

Sedangkan Chu yang dikenal sebagai Prince of Prints bakal membawa print dari Afrika Selatan. Ia berkata, koleksi yang akan ia bawakan merupakan koleksi dari label miliknya, Chulaap.

"Koleksi ini lebih ke unisex atau androginy. Nanti anda akan melihat perbedaan antara print Afrika Selatan dan Jawa," ujarnya pada CNNIndonesia.com. (rah/rah)
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK