Ahli:Jangan Sembarang Percaya Omongan Dokter Soal Hoax Vaksin

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Rabu, 20/12/2017 14:12 WIB
Ahli:Jangan Sembarang Percaya Omongan Dokter Soal Hoax Vaksin Mengalirnya informasi negatif soal vaksin membuat orang jadi ragu untuk vaksinasi. Sebelum percaya satu informasi, teliti dulu latar belakang 'informan.'(Dok. HelloSehat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan selama ini terus menyuarakan pentingnya vaksin. Hal ini dilakukan baik melalui program vaksinasi maupun publikasi media. Informasi terkait vaksin pun mengalir di berbagai platform media sosial.

Meski bermaksud memberikan maupun menanggapi informasi, tapi terkadang hal ini justru membuat sebagian orang bingung. Hindra Irawan Satari, dokter spesialis anak sekaligus Konsultan Infeksi Tropik Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM mengingatkan masyarakat untuk cermat dalam melihat informasi yang beredar terkait vaksin.

Kendati informasi yang beredar di media sosial berasal dari 'cuitan' dokter sekalipun, ia berkata bahwa publik harus tahu latar belakang dokter tersebut.



"Vaksinologi itu ilmu yang luas. Spesialis anak saja learning by doing, sering berhadapan dengan vaksin dan baca tiap hari. Disiplin lain bicara soal vaksin, bisa beda," katanya dalam diskusi media bersama Forum Ngobras di Nutrifood Inspiring Center (NIC), Jakarta Pusat, Selasa (19/12).

Latar belakang yang harus diperhatikan tak hanya soal disiplin ilmu yang digeluti, tapi juga jam terbang praktik. Dokter yang akrab disapa Hinky ini mengatakan, dokter yang tak pernah praktik tentu jarang berhadapan langsung dengan kasus di lapangan.

Dia mengungkapkan bahwa mungkin sebagian besar masyarakat meyakini bahwa mereka bisa tetap sehat tanpa vaksin. Terkait hal ini, dia pun menjelaskan bahwa kondisi sehat dan sakit seseorang punya berbagai kondisi dan faktor.


Dia juga mengungkapkan bahwa hal ini disebabkan juga karena cakupan imunisasi yang luas. Semisal cakupan imunisasi 95 persen, maka 5 persen yang tidak imunisasi terlindungi oleh mereka yang imunisasi dan tidak tertular penyakit. Kondisi seperti ini dikenal sebagai herd immunity.

"Ada yang bilang ASI saja cukup. Jelas tidak cukup. Setelah 6 bulan bayi perlu makanan tambahan," katanya. (chs/chs)