Christina Andhika Setyani
Lulusan universitas negeri di Yogyakarta dan kini menjadi ahli gizi di rumah sakit swasta di Jakarta. Seseorang yang cukup cerewet soal makanan.

Pilih Diet Sama Sulitnya seperti Pilih Jodoh

Christina Andhika Setyani, CNN Indonesia | Sabtu, 13/01/2018 19:48 WIB
Pilih Diet Sama Sulitnya seperti Pilih Jodoh Ilustrasi. (Peter Belch via tookapic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagai seorang ahli gizi, saya seringkali diberi pertanyaan dari orang-orang yang terobsesi ingin punya tubuh langsing.

Yang terkadang membingungkan, hal ini diucapkan oleh orang yang nyata-nyatanya punya tubuh bugar dan ‘terkalkulasi’ bertubuh cukup langsing.

Tapi memang tak aneh, karena terkadang memang tak ada kata cukup dan puas untuk punya tubuh
langsing. Apalagi untuk perempuan.


Salah satu cara untuk mencapai tubuh langsing ini, adalah dengan diet. Kata ini kerap terdengar, tapi apa sebenarnya diet itu?

Menurut KBBI, diet adalah aturan makanan khusus untuk kesehatan dan lainnya (biasanya atas petunjuk dokter).

Namun di Indonesia jika mendengar kata diet yang akan muncul pertama kali dalam benak kita adalah untuk menurunkan berat badan dan tidak boleh makan ini dan itu.
Dalam ilmu gizi sendiri, diet bukan hanya untuk menurunkan berat badan tetapi juga untuk membantu proses penyembuhan dan pemulihan tubuh dari keadaan sakit dengan menerapkan pengaturan pola makan yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.

Saat ini banyak jenis diet bermunculan dengan iming-iming dapat menurunkan berat badan tanpa tersiksa, dalam waktu yang singkat, yang kadang disertai berbagai macam obat.

Sebut saja diet yang membebaskan untuk mengonsumsi berbagai macam jenis makanan dan dalam jumlah bebas kemudian puasa hingga 24 jam, makan hanya 1 kali sehari, tidak makan malam, tidak makan karbohidrat, dan lainnya.

Setiap kali mendengar ‘ucapan niat diet’ karena si anu bisa turun sekian kilo, si itu bisa sekian kilo, saya sih cuma bisa senyum saja. Sesekali sambil "menasehati" (walau saya tahu akan diabaikan, karena keinginan mereka untuk kurus jauh lebih besar daripada keinginan mendengarkan omongan saya).

Pilih diet bukan semudah cap-cip-cup pilih permen aneka rasa yang kalau salah tebak masih bisa dinikmati karena rasanya sama-sama manis. Tapi sebaliknya, salah pilih diet, bisa membahayakan tubuh.

Diet keto misalnya, bagi orang yang metabolisme tubuhnya tak cocok dengan diet ini, akan punya banyak masalah.

Menurut Rita Ramayulis (ahli gizi dan dosen Poltekkes Jakarta II), diet keto dalam waktu lama akan membuat pH darah asam dan tulang menjadi keropos (karena proses penyeimbangan pH darah membutuhkan kalsium yang tersimpan ditulang), dan sel sel tubuh banyak yang menjadi aus karena proses pemecahan zat gizi yang tidak normal.

Coba dipikir lagi, kenapa setiap tahunnya ada banyak jenis diet-diet baru yang populer? Salah satunya, karena ada orang yang tak cocok dengan diet yang sudah ada dan berusaha untuk menciptakan diet baru yang sesuai untuk tubuhnya sendiri.

Ya, diet itu personal!

Dalam ilmu gizi, kebutuhan masing masing orang akan berbeda tergantung dari kelompok umur, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, aktivitas dan faktor stresnya. Demikian pula dengan metabolisme dan kebiasaan atau pola hidup, sehingga tidak bisa dipukul rata untuk semua orang.

Ibarat kata, pilih diet itu seperti pilih jodoh, harus yang nyaman dan sreg di hati serta tubuh, tidak suka menyakiti, dan tak bikin pusing juga galau.

Ada beberapa alasan diet tak boleh asal-asalan atau sekadar ikut tren.

Pertama, diet ngasal akan menyebabkan tubuh kehilangan zat gizi mikro dan makro sehingga dapat mengganggu metabolisme tubuh. Zat gizi makro adalah karbohidrat, lemak, dan protein sedangkan zat gizi mikro adalah vitamin dan mineral.

Meski pada dasarnya diet memang mengurangi jumlah asupan zat gizi tertentu di bawah kebutuhan normal, sayangnya, ada banyak yang gagal paham. 
Misalnya, untuk menurunkan berat badan, asupan karbohidrat harus dikurangi. Tapi yang kerap terjadi, karbohidrat bahkan sampai dieliminasi alias ditendang begitu saja dari daftar makanan. Padahal karbohidrat juga punya jasa penting untuk tubuh. 

Karbohidrat, lemak, protein, dan lainnya, seharusnya tetap ada dalam daftar makanan Anda, hanya saja jumlahnya harus disesuaikan dengan kebutuhan.

Alasan kedua mengapa Anda tak boleh pilih diet sembarangan dan diet cepat adalah karena sebenarnya bukan lemak yang hilang melainkan air.

Kok bisa?

Komposisi berat badan sendiri dihitung dari penjumlahan lemak dan air. Air dalam tubuh lebih cepat terbuang dibandingkan dengan lemak. Lemak dalam tubuh biasanya tersimpan di bawah kulit sebagai cadangan dan hanya bisa dihilangkan dengan olahraga yang didukung dengan pola makan yang benar (rendah lemak dan banyak serat) dalam jangka waktu tertentu.

Ketiga, diet asal-asalan hanya akan menambah kecenderungan tubuh mengalami sindrom yoyo, yakni suatu kondisi dimana berat badan tubuh turun dan naik dengan cepat menyerupai yoyo.

Awalnya terjadi penurunan berat badan tetapi karena tidak berhasil mempertahankan dalam jangka waktu yang panjang akhirnya berat badan kembali naik, dan kemudian berusaha kembali untuk menurunkan berat badan dan siklusnya berulang terus.

Siklus turun-naiknya BB dalam yoyo sindrom ini akan sangat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang, karena akan menurunkan motivasinya dan tingkat kepercayaan diri karena merasa terus gagal dalam mempertahankan berat badannya.

Jadi, diet apa yang paling baik? Diet yang paling baik adalah diet gizi seimbang. Diet gizi seimbang biasanya digambarkan dengan bentuk Piramida Makanan.

Piramida makanan adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan dan berat badan ideal (Depkes,2014). (stu)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS


BACA JUGA