HARI GIZI NASIONAL

4 Kiat Cegah Bayi Gizi Buruk di Hari Gizi Nasional

Puput Tripeni Juniman | CNN Indonesia
Kamis, 25 Jan 2018 15:40 WIB
Gizi buruk masih jadi momok di Indonesia, dalam rangka Hari Gizi Nasional, berikut merupakan kiat mencegah gizi buruk sejak 1.000 hari pertama kehidupan bayi. ilustrasi (Thinkstock/Wavebreakmedia Ltd)
Jakarta, CNN Indonesia -- Memperingati Hari Gizi Nasional dan waspada gizi buruk, ada beberapa hal yang perlu dicermati para ibu. Gizi buruk bukan hanya perkara kekurangan makanan saja. Buruknya gizi ternyata dipengaruhi rendahnya asupan nutrisi termasuk vitamin, mineral, dan zat esensial lain yang masuk ke dalam tubuh.

Pemenuhan gizi untuk mencegah gizi buruk pada anak ini harus dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupannya.

"Seribu hari pertama kehidupan ini sangat penting bagi perkembangan otak. Semua ditentukan pada tahap ini," kata Dokter Nutrisi Anak Damayanti Rusli Sjarif dalam diskusi memperingati Hari Gizi Nasional bersama Muslimat Nadhlatul Ulama di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Selasa (23/1).



Hanya saja 1.000 hari pertama untuk mencegah bayi gizi buruk ini bukan dihitung setelah si bayi lahir, melainkan sejak masih dalam kandungan.

Lalu bagaimana langkah mencegah bayi lahir dengan gizi buruk? Dalam rangka hari gizi nasional, berikut merupakan kiat mencegah gizi buruk sejak 1.000 hari pertama kehidupan bayi.

1. Asupan makanan bergizi
Mencegah gizi buruk bukan hanya harus dilakukan langsung ke bayi. Para ibu (khususnya yang sedang hamil dan masih menyusui) harus memakan makanan yang bergizi untuk dirinya dan jabang bayi.

Makanan yang termasuk dalam makanan bergizi adalah makanan yang terdiri dari karbohidrat kompleks, protein, lemak, dan serat.

2. Mengontrol kandungan
Damayanti menyarankan agar orang tua rutin mengecek kandungan ke bidan atau dokter. Menurut dokter Damayanti yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia ini (IDAI), malnutrisi bukan hanya dari asupan ibu tapi ada faktor lain.

"Penyebab anak lahirnya kecil bukan hanya makan ibu, tapi bisa jadi karena plasenta, genetatif dan sebagainya. Hal ini mesti diperiksa supaya bisa diambil tindakan sedini mungkin," ucap Damayanti.

3. ASI dan MPASI
Asupan utama bagi bayi adalah Air Susu Ibu atau ASI yang eksklusif. Damayanti tidak menganjurkan pemberian susu formula karena tak ada satupun yang bisa menandingi ASI.

"ASI itu penting, dibandingkan susu formula manapun, ASI pasti unggul," ujar Damayanti.

ASI ini baru bisa ditambahkan dengan makanan lain setelah anak berusia lebih dari enam bulan dan siap menerima makanan pendamping ASI.

Menurut Damayanti, MPASI haruslah makanan yang banyak mengandung zat besi dan protein seperti hati ayam, bebek atau angsa.


4. Periksa berat dan tinggi badan anak
Timbanglah berat dan tinggi badan anak ke puskesmas atau rumah sakit secara rutin.

Menurut Damayanti, anak yang kekurangan gizi bakal terlihat pada usia tiga bulan. Pada usia itu, berat dan tinggi badannya cenderung tidak bertambah. Jangan sungkan untuk segera pergi ke puskemas atau rumah sakit agar diberi tindakan yang tepat.

"Konsultasikan dengan ahli untuk pengukuran yang tepat karena sudah ada grafiknya," ujar Damayanti.

Nantinya, petugas kesehatan akan memberikan rekomendasi penanganan yang sesuai dengan kondisi anak dan ibu. (chs/chs)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER