Lambat Deteksi, Shanti Hadapi Kanker Payudara Stadium 3

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Minggu, 04/02/2018 11:31 WIB
Lambat Deteksi, Shanti Hadapi Kanker Payudara Stadium 3 Kurangnya informasi tentang kanker payudara membuat Shanti Persada terlambat melakukan pemeriksaan dini. (Foto: Dok. Padrinan/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kurangnya informasi tentang kanker payudara membuat Shanti Persada terlambat melakukan pemeriksaan dini. Shanti baru ke dokter saat payudara sebelah kanannya terasa sakit dan mengeras.

Dokter lalu melakukan serangkaian pengecekan mulai dari USG, mammografi hingga biopsi. Hasilnya, pada Maret 2010 itu, Shanti yang saat itu berusia 42 tahun didiagnosis menderita kanker payudara stadium lanjut, 3B.

"Aku enggak tahu info sama sekali soal deteksi dini dan kanker. Karena aku merasa, masa kena kanker sih? Secara hidup sehat, makanan sehat, keluarga juga orang tua enggak ada yang kena, aku merasa dunia kanker jauh itu banget," kata Shanti saat berbincang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.



Padahal, kanker payudara yang diderita Shanti merupakan satu dari sedikit jenis kanker yang bisa dideteksi dini. Kanker payudara bisa dideteksi dini dengan melakukan SADARI alias periksa payudara sendiri dengan meraba payudara.

Perempuan disarankan untuk melakukan SADARI pada hari ketujuh sampai ke-10 dari hari pertama haid atau pada tanggal yang sama bagi yang sudah monopause. Apabila dirasakan ada benjolan, perubahan tekstur kulit, dan mengeras segera periksa ke dokter. Deteksi dini dapat membuat pengobatan lebih ringan dan kesempatan sembuh lebih besar.

Namun, terlambat deteksi tak lantas membuat Shanti putus asa. Dia tetap menjalani perawatan dan penyembuhan sesuai arahan dokter.

Shanti menjalani operasi pengangkatan payudara, enam kali kemoterapi dan 30 kali radiasi dalam kurun waktu 1,5 tahun. Semua itu dilakukan Shanti sambil bekerja di agensi periklanan.

Dia hanya sesekali izin ke rumah sakit untuk melakukan perawatan. Biasanya, Shanti memilih jadwal kemoterapi pada hari Kamis, agar efek setelah kemoterapi muncul dua atau tiga hari setelahnya yakni pada hari Sabtu atau Minggu.


"Aku terus bekerja kok, cuma minta izin kalau jadwal kemoterapi. Aku melawan efek kemo dengan tetap berkegiatan," tutur Shanti.

Kegigihan Shanti berbuah hasil. Setelah serangkaian pengobatan, Shanti dinyatakan bebas dari kanker. Walaupun pada 2015, dia kembali terkena kanker kelenjar getah bening karena penyebaran dari payudara. Shanti kembali melawan kanker itu hingga dinyatakan sembuh.

Kini, Shanti sibuk mengembangkan yayasan Lovepink, sebuah komunitas bagi penderita kanker payudara. Shanti membesarkan komunitas itu bersama sahabatnya Madelina Mutia. Mereka bertemu saat sama-sama menjalani pengobatan kanker payudara pada 2010.

Melalui komunitas Lovepink, Shanti ingin menekan angka kanker payudara stadium lanjut di Indonesia. Shanti genjar mempromosikan upaya deteksi dini agar kanker dapat dengan cepat ditangani. Shanti tak ingin keterlambatan yang sempat dialaminya terjadi pada orang lain.

"Saya fokus kampanye deteksi dini karena 80 persen kanker payudara itu ditemukan pada stadium lanjut, artinya deteksi dini tidak jalan," tutur Shanti. (rah/rah)