Komunitas Unik

Berburu Fenomena Langit dalam Trip Astronomi

agr, CNN Indonesia | Senin, 26/02/2018 12:07 WIB
Berburu Fenomena Langit dalam Trip Astronomi Masyarakat menyaksikan fenomena Super Blue Blood Moon 2018 di Jakarta. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) pada tahun 2016 lalu membuat perhatian publik Indonesia tertuju kepada sebuah hal baru yang sebenarnya purba, yakni astronomi.

Bahkan Menteri Pariwsata Arief Yahya, langsung "menasbihkan" fenomena itu sebagai destinasi wisata baru, yakni destinasi waktu. Pasalnya banyak orang, terutama dari luar negeri, berbondong-bondong datang ke pelosok Indonesia untuk mengamati peristiwa langka di langit yang hanya berlangsung dalam hitungan menit atau bahkan detik itu.

Awal tahun ini, publik Indonesia kembali mengalami fenomena astronomi langka yaitu Gerhana Bulan Total (GBT) 'Super Blue Blood Moon'. Sayangnya, pemerintah kurang mempromosikan fenomena tersebut sebagai atraksi wisata.


Padahal, komunitas astronomi Jejak Pengamat Langit (JPL), mengatakan kalau segala peristiwa di langit sangat berpotensi untuk mendatangkan turis ke Indonesia. 

Hal tersebut terbukti dari jumlah peserta dalam setiap kegiatan yang mereka selenggarakan.

JPL terbentuk atas ide Madhonna Nur Aini, Gigih Ikhbal, dan Riza Miftah Muharram. Berawal dari perbincangan mengenai trip astronomi di grup WhatsApp, mereka nekad mendirikan JPL dan merealisasikan trip astronomi pertamanya, yakni pada GMT 2016, tepatnya di Belitung. 

Saat itu, jumlah peserta yang ikut sebanyak 100 orang. Hingga saat ini, sebanyak 250 orang telah ikut trip astronomi yang diselenggarakan JPL.

"GMT 2016 menjadi istimewa di Indonesia, karena negara Indonesia menjadi satu-satunya negara yang dilewati GMT," ujar Maradhonna Nur' Aini, atau yang biasa disapa Donna.

[Gambas:Instagram]

"Trip astronomi jadi menarik, karena peserta bisa menyaksikan fenomena langit di tengah objek wisata. Trip astronomi sudah pasti dilakukan di daerah pelosok, terutama yang minim polusi cahaya dan udara. " lanjutnya.

Selama menggelar trip, komunitasnya juga tak lupa untuk memberdayakan masyarakat setempat. Misalnya dengan menyewa jasa mereka sebagai pemandu wisata atau menyewa rumah mereka sebagai tempat istirahat.

[Gambas:Instagram]

"Masyarakat lokal pasti lebih paham mengenai titik terbaik untuk menyaksikan fenomena langit. Setiap kali trip, kami berusaha selalu mengikutsertakan mereka," ujar Donna.

Jika tak ada fenomena langit besar, JPL tetap mengadakan trip-trip astronomi yang seru, seperti pengamatan bintang atau planet.

Salah satu peserta, Astari, mengatakan kalau dirinya sempat mengikuti trip astronomi menyaksikan fenomena Galaksi Bimasakti di Gunung Bromo.

"Ikut trip itu karena penasaran dengan kegiatannya. Ternyata, sangat menarik dan menambah wawasan. Yang paling seru, saya jadi tahu mengenai teknik astrofotografi (fotografi astronomi)," kata Astari. 

Untuk menjadi anggota JPL syaratnya cukup mudah, cukup dengan mengikuti salah satu trip astronomi yang diselenggarakan. Informasi pendaftarannya bisa melalui situs resmi atau akun Instagram resmi mereka.

Agenda JPL terdekat adalah 'Eclipse Party' di Lombok pada 28 Juli 2018. Dalam kegiatan ini peserta bisa menyaksikan gerhana bulan total sekaligus berkunjung ke objek wisata sekitarnya, seperti Pantai Pink, Desa Adat Sade, Bukit Merese, sampai Gili Pasir.

[Gambas:Instagram]

(ard)