Surat dari Rantau

'Emma' dan Melupakan Mandi Pagi di Amsterdam

Endratno Budi Santosa, CNN Indonesia | Minggu, 18/03/2018 11:28 WIB
'Emma' dan Melupakan Mandi Pagi di Amsterdam Kanal Prinsengracht and Brouwersgracht di Amsterdam yang beku dan dijadikan lahan ice skating. (REUTERS/Michael Kooren)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kampung halaman saya di Malang, Jawa Timur. Selain dikenal sebagai Kota Apel, kota ini juga dikenal dengan suhunya yang dingin.

Tapi belakangan ini, saya dengar Apel Malang malah semakin langka. Suhu udaranya juga sudah tak begitu dingin.

Jika saat saya kecil dulu suhu udaranya bisa di bawah 20 derajat Celcius, saat ini katanya suhu rata-ratanya di atas 30 derajat Celcius.


Mungkin karena banyak lahan hijau di Malang yang dijadikan pemukiman, sehingga dua identitas tersebut harus berdamai dengan zaman.

Tahun ini tepat 1,5 tahun saya meninggalkan Malang untuk merantau bersama keluarga ke Belanda, tepatnya di Amsterdam.

Dari kota dingin ke ke kota dingin, tapi tentu saja dingin di Amsterdam lebih menggigit dibandingkan Malang.

Bagi penduduk dari negara dua musim macam saya, suhu dingin di sini terasa sepanjang tahun, meski sedang zomer (musim panas, bulan Juli-Agustus), yang suhu paling gerahnya mencapai 28 derajat Celcius.

Suhu dingin bakal lebih dingin di musim dingin. Tahun ini rasanya saya dan keluarga merasakan musim dingiin terberat, ditambah dengan Badai Emma yang meniupkan angin dari Siberia.

Tahun lalu saya merasakan suhu dingin minus 4 derajat Celcius. Musim dingin tahun ini, suhunya minus 10 derajat Celcius. Orang dari negara tropis macam saya sudah pasti keluar rumah dengan terlihat mengenakan lapisan baju paling tebal.

Istilah udara dingin menusuk tulang yang biasanya ada di karya sastra saya rasakan betul di musim dingin tahun ini.

'Emma' dan Absennya Mandi Pagi di AmsterdamSuasana musim dingin di Amsterdam tahun ini. (Dok. Budi Endratno)

Walau dingin menerpa Amsterdam, kegiatan sehari-hari tak terhenti, kecuali jika ada badai datang. Orangtua yang punya anak masih sekolah seperti saya, harus ikhlas bangun pagi untuk menembus dingin jam 8 pagi.

Mandi pagi jadi hal yang tak wajib dilakukan. Tinggal berdoa, malam hari suhu dingin menghangat. Kalau tidak, ya kembali ke konsep pertama hehehe...

Selain anak sekolah, pekerja kantoran juga melakukan aktivitasnya seperti biasa. Di bawah langit mendung, mereka tetap berjalan kaki menuju stasiun atau halte. Ada juga yang tetap bersepeda.

Musim dingin juga membuat mesin-mesin mengalami gangguan. Kereta atau trem bisa terlambat datang 2-3 jam karena hal tersebut. Padahal di musim biasa, selalu tepat waktu.

Pengguna jalan raya juga tak lepas dari masalah. Salju tebal membuat beberapa persimpangan tertutup. Yang jalan kaki juga was-was tergelincir salju yang licin (slecht). Kasus kecelakaan sudah pasti terjadi.

Tapi, selalu ada hikmah di balik situasi buruk. Salju menjadi banyak alasan orang untuk bermain di luar rumah, terutama bagi anak saya.

'Emma' dan Absennya Mandi Pagi di AmsterdamTetap ceria di musim dingin Amsterdam. (Dok. Budi Endratno)

Dia bahkan bergurau, kalau penduduk Amsterdam harusnya bersyukur salju turun, karena bisa langsung membuat Es Serut hahaha...

Saya, istri, dan anak biasanya bermain lempar bola salju. Kalau sedang kreatif, kami membuat manusia salju. Kata anak saya lagi, pemandangan musim dingin di sini mirip dalam film 'Frozen'.

Saya juga sering mengajak istri dan anak saya untuk bermain seluncur es. Walau tak mahir dan lebih sering terjatuh, kami berusaha menghibur diri melewati musim beku ini.

Penduduk Amsterdam biasanya menggunakan danau atau sungai yang membeku sebagai lahan bermain ice skating. Sayangnya, sungai di sebelah rumah belum terlalu beku sehingga masih berbahaya untuk dilangkahi.

Merasakan musim dingin di Amsterdam memang terasa asyik. Tapi terkadang saya dan keluarga juga merindukan "musim dingin" di Malang.

Walau lebih gerah, tapi setidaknya kami tak perlu mengigil untuk berkegiatan di pagi hari.

Saya jadi teringat pepatah, 'sebaik-baiknya hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri'.

----

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com, ike.agestu@cnnindonesia.com, vetricia.wizach@cnnindonesia.com.

Kami tunggu!

(ard)