Surat dari Rantau

Rindu 'Warteg' di Leipzig

Maria Joanita Godjali, CNN Indonesia | Minggu, 11/03/2018 12:33 WIB
Rindu 'Warteg' di Leipzig Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Leipzig, CNN Indonesia -- Ting, ting!

Telepon genggam saya mendapat notifikasi pesan baru di grup WhatsApp hari itu.

Membaca isi pesannya membuat bibir saya tersenyum lebar. Ternyata pengirimnya adalah salah satu teman saya yang juga menjadi pelajar di Leipzig, Jerman.


"Saudara saudari yang terhormat, dalam rangka syukuran akan berakhirnya tahun ajaran 2017/2018, masak yuk!" tulisnya dalam pesan tersebut.

Tak hanya saya, sejumlah teman-teman pelajar lain yang tergabung dalam grup WhatApp langsung menyambut senang ajakan tersebut. Sama seperti saya, mereka merasa butuh perbaikan gizi setelah masa ujian berlalu.

Bagi saya, musim ujian di perkuliahan memiliki makna harafiah. Selain sibuk belajar, perut juga harus puas hanya diisi oleh pasta atau makanan instan lainnya.

Keinginan membuat Nasi Goreng harus ditunda, karena saya harus menghapal banyak mata pelajaran selama satu semester.

Terlebih lagi materi tersebut tertulis tidak dalam Indonesia, sehingga membuat kepusingan saya bertambah.

Oleh karena itu, usainya musim ujian wajib dirayakan dengan gegap gempita, salah satunya dengan makan enak!

Ada banyak makanan enak di Jerman, tapi kebanyakan masakan cepat saji. Tapi tahukah Anda, bahwa sejak pertama kali tinggal di negara yang jaraknya 10.779 kilometer dari Indonesia ini, saya selalu memimpikan menu makanan ala warteg hahaha...

Jadi, masak bersama menjadi solusi bagi saya dan teman-teman dari Indonesia untuk mengobati rindu akan kampung halaman. Menunya seputar Opor Ayam, Soto Ayam, Telur Balado, sampai Rendang.

Beruntung ada toserba Asia yang menyediakan bumbu-bumbu Indonesia, plus mie instannya.

Rindu 'Warteg' di LeipzigIlustrasi. (CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor)

Saya dan teman-teman berpatungan sebesar 3 Euro (sekitar Rp50 ribu) per orang untuk membeli bahan masakan yang bisa dijadikan dua menu.

Saya cukup ikhlas mengeluarkan uang sebesar itu, dibandingkan harus makan di restoran dengan menu ala kadarnya seharga minimal 7 Euro (sekitar Rp118 ribu). Hemat adalah kata kuncinya.

Tak ada yang benar-benar bisa memasak di antara kami. Beruntungnya, kami merantau di zaman modern, sehingga resep memasak menu Indonesia bisa dengan mudah didapatkan dari internet.

Saat tiba waktu makan, kami semua duduk lesehan di lantai. Ada yang mendengarkan musik, menonton televisi, atau mengobrol ngalor-ngidul.

Tinggal di luar negeri memang menyenangkan, apalagi jika bisa berkumpul dengan orang dari satu negara yang sama.

Bagi Anda yang belum punya kesempatan merasakannya, percayalah, kalau Anda juga beruntung tinggal di Indonesia, negara yang dikelilingi oleh jutaan warteg dan tempat makan murah meriah lainnya.

----

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com, ike.agestu@cnnindonesia.com, vetricia.wizach@cnnindonesia.com.

Kami tunggu!
(ard)