Komunitas Unik

Tiga Komunitas Bicara Satu Masalah yang Dibenci

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 19/03/2018 15:57 WIB
Tiga Komunitas Bicara Satu Masalah yang Dibenci Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pagi di akhir pekan itu Aksara sudah siap dengan sarung tangan karet dan karung kosong di tangan. Bersama ratusan orang lainnya, mereka berencana menyisir sampah di sekitar Pantai Saba Blahbatuh, Gianyar Bali.

Baru beberapa meter berjalan, ia kaget karena melihat ada sebuah sofa yang terdampar di pinggir pantai.

"Sofa itu terlihat masih bagus, tapi mengambang bersama sampah lain. Sampai sekarang saya masih heran, kok ada orang yang terpikir membuang benda sebesar itu di laut. Apakah orang itu merasa kalau sofa adalah sampah yang bisa terurai dengan sendirinya?" kata Aksara kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon pada Kamis (15/3).


Masalah sampah di destinasi wisata telah lama menjadi pekerjaan rumah Indonesia, negara maritim yang populer akan kecantikan perairannya.

Bukan cuma Pantai Saba Blahbatuh, dikatakan Aksara saat ini pantai-pantai di Bali juga sedang darurat sampah. Akhir tahun kemarin, yang menjadi tajuk berita ialah mengenai tumpukan sampah di Pantai Kuta, pantai yang selama ini menjadi ikon Pulau Dewata.

Komunitas Trash Hero Indonesia yang dipimpin Aksara merupakan cabang dari komunitas dunia yang bermula di Thailand pada tahun 2016. Setelah Thailand dan Indonesia, saat ini komunitas itu juga eksis di Malaysia, Myanmar, Filipina, dan beberapa kawasan Eropa serta Amerika seperti Praha dan New York.

[Gambas:Instagram]

Di Indonesia sejak tahun 2015, komunitas Trash Hero eksis di beberapa destinasi wisata selain Bali, seperti Gili Meno, Pulau Komodo, dan Ambon. Aksara tidak ingat pasti jumlah anggotanya, namun ia mengklaim ada puluhan ribu orang, termasuk ekspatriat yang sedang tinggal atau berkunjung ke Indonesia.

"Trash Hero fokus di kawasan yang ramai seperti di destinasi wisata, karena level darurat sampah suatu negara bisa dilihat dari kondisi penanggulangan sampah di destinasi wisatanya," ujar Aksara.

Trash Hero membuka pendaftaran anggota melalui situs resminya. Tak ada biaya yang perlu dibayar, meski dompet donasi dibuka. Anggotanya hanya diminta siap bangun pukul 7 pagi di hari Minggu untuk memulai kegiatan bersih-bersih.

Di Bali, ada 11 cabang Trash Hero yang berkegiatan setiap minggunya. Yang tak sempat mendaftar juga bisa tetap datang, asal tak merasa jijik saat memungut sampah bekas pembalut wanita atau kantong plastik berisi sayur yang busuk untuk dimasukkan ke dalam karung.

"Ekspatriat yang ikut dalam kegiatan ini tentu saja merasa sedih dan prihatin dengan banyaknya sampah di Bali. Tapi, mereka cukup senang mendengar usaha dari banyak komunitas serta pemerintah untuk menanggulanginya sekarang," kata Aksara.

Walau komunitas berkegiatan di kawasannya masing-masing, namun jika ada masalah serius seluruh cabang akan turut serta. Seperti masalah sampah yang dikatakan Aksara sudah dalam level darurat saat ini.

"Lihat saja, saat ini lebih banyak sampah ketimbang turis yang nongkrong di sana. Pantai Kuta bukan hanya sepetak, ia memanjang sampai barat Bali. Jadi, masalahnya sampah bukan hanya di Pantai Kuta, sampai Pantai Jimbaran juga," ujar Aksara.

Aksara menjelaskan, sampah di Pantai Kuta dan pantai-pantai yang berada di barat Bali bukan hanya sumbangan dari penduduk dan turis, melainkan juga "hibah" dari laut.

Selama ini, jutaan ton sampah mengambang di perairan Indonesia. Sialnya, pantai-pantai di barat Bali ikut mereka darati. Kondisi sampah yang menumpuk di pinggiran pantai lebih parah saat musim hujan tiba.

"Oleh karena itu, selain aksi membersihkan pantai kami juga mengedukasi masyarakat sekitar untuk sadar diri tak membuang sampah ke sungai yang bermuara ke laut. Tak hanya jadi lebih bersih, kehidupan di laut juga ikut terlindungi dari ancaman sampah," kata Aksara.

"Selain kepunahan alam dan cara daur ulang, edukasi yang kami sampaikan juga mengenai aturan pemerintah. Mereka jadi mengerti, kalau buang sampah sembarangan bisa terjerat Perda 11/2013 yang hukumannya dari denda sampai penjara. Itu yang kami rasa bisa membuat mereka sadar diri," lanjutnya.

'Komunitas sampah bukan pemulung'

Bernama dan berkegiatan hampir sama, namun komunitas Trashbag fokus dengan masalah sampah di pegunungan.

Tahun kemarin bertepatan dengan Hari Kemerdekaan, mereka mengadakan acara Sapu Jagat, yakni mendaki 17 gunung di Indonesia dan memunguti sampah di sana.

Acara tersebut merupakan agenda dua tahunan, namun setiap bulannya di 12 cabang dari Sabang sampai Merauke, ada saja komunitas yang melakukan kegiatan serupa.

Komunitas yang eksis sejak tahun 2011 ini membuka keanggotaan melalui akun Facebook resmi mereka. Anggotanya sampai saat ini sudah 4.000 orang.

[Gambas:Instagram]

Sang ketua, Jacky, mengatakan kalau seluruh anggotanya manusia sungguhan, bukan hantu, apalagi pemulung sampah. Tak ada biaya untuk bergabung, tinggal mendaftar melalui akun media sosial resmi Trashbag Community.

"Kami memang peduli dengan masalah sampah, tapi kami bukan pemulung. Kami hadir sebagai pengingat agar kalau mendaki jangan mengotori gunung," kata Jacky melalui sambungan telepon pada Jumat (16/3).

Dari acara Sapu Jagat tahun kemarin, Jacky mengatakan kalau sebagian besar taman nasional di Indonesia, terutama yang memiliki gunung populer untuk didaki seperti Gunung Kerinci, sedang dalam masa darurat sampah.

Sama seperti yang terdampar di pantai-pantai Bali, sampahnya berupa plastik pembungkus makanan dan minuman.

"Film-film petualangan tampaknya membuat banyak pendaki awam berdatangan. Ya tidak ada yang melarang, hanya saja mereka harus tahu cara mendaki untuk keselamatan dan menghormati alam pegunungan untuk kebersihan," ujar Jacky.

Jacky lanjut mengatakan, tak hanya pemerintah yang harus bertanggungjawab dalam mengatasi masalah sampai di pegunungan. Pendaki pun tak luput dari salah.

"Pendaki itu ya kalau mendaki makanannya yang bergizi, jangan hanya masak mie instan yang sampahnya lalu dibuang sembarangan. Pemerintah juga harusnya mulai membatasi jumlah pendaki yang bisa naik ke gunung setiap harinya, agar jumlah sampah bisa ditekan," tegas Jacky.

Ekspatriat sama pedulinya

Tak hanya penduduk Indonesia, pendatang dari luar negeri yang menetap di Tanah Air juga ikut peduli dengan masalah sampah yang terus terjadi dan tak juga terselesaikan.

Komunitas Clean Up Jakarta berusaha memberi solusi atas hal tersebut. Berkegiatan sejak tahun 2013, setiap kali menggelar acara memungut sampah mereka mengajak para ekspatriat yang tinggal di Indonesia, khususnya di Jakarta, untuk turun tangan.

Kegiatanya diadakan pada akhir pekan di sejumlah ikon Jakarta, seperti Bundaran Hotel Indonesia, Taman Menteng, tak lupa menyasar ke sejumlah objek wisata seperti Kota Tua.

[Gambas:Instagram]

Agustina Iskandar, salah satu koordinator Clean Up Jakarta, mengatakan kalau komunitasnya tak eksklusif untuk ekspatriat, penduduk Indonesia sudah pasti boleh bergabung dengan cara mendaftar ke situs resmi mereka.

"Mayoritas yang ikut memang ekspatriat, karena mereka sama-sama berpikir apa yang harus dilakukan untuk membuat Indonesia jadi lebih baik selama mereka menetap di sini. Tapi intinya kami membuka pendaftaran untuk umum kok," kata Agustina Iskandar saat ditemui di kantor Clean Up Jakarta, Jakarta, pada Jumat (16/3).

Tahun ini, Clean Up Jakarta akan kembali menggelar acara memungut sampah akbar se-Indonesia.

Jika tak ada aral melintang, Agustina mengatakan acara akan digelar serentak dari Sabang sampai Merauke pada 15 September 2018, yang bertepatan dengan World Cleanup Day 2018.

"Kami berharap semakin banyak masyarakat yang sadar untuk menjaga lingkungannya, selagi kita masih punya banyak waktu untuk menanggulanginya," pungkas Agustina.

(ard)