Pedofil di Jambi, Orang tua Patut Waspada Ponsel Anak

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Selasa, 20/03/2018 21:34 WIB
Pedofil di Jambi, Orang tua Patut Waspada Ponsel Anak (Ilustrasi/Foto: emin ozkan/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kasus kejahatan seksual terhadap anak atau pedofil kembali menyita perhatian publik. Polda Jambi meringkus PN (28) yang diduga seorang pedofil. Sebanyak 87 anak laki-laki berusia 15-17 tahun menjadi korban.

Menurut Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jambi, Ajun Komisaris Besar Kuswahyudi Tresnadi pelaku membuat akun Instagram palsu dan menampilkan diri sebagai wanita. Pelaku pun merayu korban untuk mengirim video dan gambar bugil. "Setelah dikirim, diancam. Kalau enggak mau mengikuti kemauan tersangka, video dan gambar anak-anak itu mau disebarkan," kata Kuswahyudi seperti diberitakan CNNIndonesia.com, Selasa (20/3).

Menanggapi kasus pedofil Jambi ini, psikolog Mira Amir mengatakan orangtua patut lebih awas terhadap penggunaan ponsel pada anak. Selain beri pengertian akan penggunaan, bisa jadi juga membatasi pemakaiannya.

"Mereka mungkin awalnya chat biasa, lalu video call, begitu sudah malam anak itu sudah enggak fully alert. Mungkin orang yang di seberang sana kamu berani enggak gini-gini. Ujung-ujungnya nanti video beredar dan tahu pas keesokan harinya," lanjut Mira, saat dihubungi CNNIndonesia.com, pada Selasa (20/3).


Dalam kasus paedofil yang menimpa anak-anak di Jambi tersebut, Mira menaruh curiga ada motif ekonomi di baliknya, tak hanya sekadar motif untuk kepuasan diri pelaku. Pasalnya pelaku di sini hanya mendapat visual korban.

"Kalau sudah online begitu seperti kirim foto dan video, saya khawatir ada motif ekonomi, ada yang mau beli. Kemarin sempat ada kasus melibatkan jaringan internasional. Mungkin dia sebagai supply saja," kata Mira. 

Di samping itu, Mira menilai kebanyakan pelaku paedofil pernah mendapat perlakuan serupa. Ia mengalami pengalaman traumatis yang berkaitan dengan stimulasi atau rangsangan. Pelaku sebenarnya tak menginginkan sensasinya, tapi ia bisa tergugah untuk mendapatkan sensasi serupa. Trauma biasanya dialami saat kecil dan terbawa hingga dewasa.


Sementara, anak dalam usia remaja, kata Mira, mengalami masa mulai paham akan tubuhnya. Mereka dalam masa banyak mencari tahu. Mungkin, kata Mira, mereka pikir ini lucu, tapi kemudian mereka tidak menyangka bahwa dampaknya akan bisa sejauh itu.

Apa yang dialami oleh anak-anak sebagai korban paedofil ini menurut Mira sebaiknya mendapat perhatian khusus dari orang tua. Sebab, trauma masa kecil membawa dampak besar saat mereka dewasa ketika trauma tersebut tak mendapatkan penanganan.

Dalam hal ini, orang tua diharapkan perannya dalam proses pemulihan anak, karena korban pedofil ini berada dalam rasa takut.


"Orang tua kalau ingin tahu, juga mohon jangan terlalu berlebihan. Ada anak yang dia ingin membuka semua, ada juga yang enggak merasa nyaman. Jadi keluarga harus menunggu kesiapan anak," katanya.

"Di samping itu, dikonfirmasi ke anak, apa perlu dibantu untuk pembatasan (penggunaan) gawai, apa ada masalah atau sumber lain."

"Tipe anak yang lama main gadget dialihkan atau disalurkan ke aktivitas fisik. Orang tua diharapkan bisa membawa mereka untuk terlibat dalam aktivitas fisik misalnya olahraga. Orang tua jangan membiarkan mereka sendirian," tambah Mira menyarankan.

Jam Malam

Ia juga memperingatkan orang tua untuk mengontrol penggunaan gadget atau gawai anak-anak mereka. Bisa jadi, misalnya dengan memberlakukan jam malam buat anak, terutama buat mereka dalam memegang gawai.

Mira mengatakan waktu di atas pukul 22:00 anak cenderung kesulitan mengontrol diri. Lebih lanjut lagi ia menjelaskan jam-jam ini anak tak begitu fokus dengan apa yang dia lakukan atau katakan.


Mira menekankan penting bagi orang tua untuk membatasi penggunaan gawai oleh anak-anak. Pembiasaan ini sebaiknya dimulai sejak dini.

Di sisi lain, kini guru-guru di sekolah kadang memberikan tugas melalui Line atau Whatsapp grup, Drop Box atau media lain yang mengharuskan anak mengakses gawai. Mira menuturkan jika anak memiliki kontrol diri yang baik maka hal ini positif. Namun sayangnya banyak anak yang kontrol dirinya lemah.

"Kadang permasalahannya klasik, orang tua kalau sudah soal gawai menyerah. Tapi ada juga yang tegas dan terkesan tega. Hari sekolah anak ada yang tidak diperbolehkan pegang gawai. Mulai Jumat boleh tapi waktunya terbatas," tambahnya. 

Di luar peran orang tua, Mira menambahkan pihak kepolisian juga perlu menjelaskan pada anak bahwa mereka dalam kondisi aman. Kemungkinan anak merasa bahwa pelaku tidak sendiri dan masih ada pelaku-pelaku lain yang berkeliaran. Rasa aman ini mampu meredakan rasa takut anak sehingga anak mau bercerita kondisi yang sebenarnya. (rah/asa)