Bingungkan Turis, Pos Tiket Bromo Diminta Pindah Lokasi

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Kamis, 05/04/2018 17:05 WIB
Bingungkan Turis, Pos Tiket Bromo Diminta Pindah Lokasi Ilustrasi turis di Gunung Bromo. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pos tiket Gunung Bromo milik Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) diminta digeser lebih ke dalam. Pasalnya, keberadaannya saat ini disebut sering menimbulkan masalah bagi turis yang akan menginap di hotel sekitarnya.

Ketua PHRI Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Digdoyo Djamaludin mengatakan, usulan itu berdasarkan beberapa pengalaman pahit yang menimpa turis belakangan ini.

Ia menceritakan salah satu pengalaman pahit yang menimpa tiga wisatawan asing yang ingin menanyakan harga hotel di Bromo Permai dan Lava View Lodge, yang notabene berada di dalam TNBTS.


Meski hanya menanyakan harga, namun petugas tak resmi malah meminta mereka untuk membayar tiket masuk TNBTS.

"Maaf saya sedikit komplain di tiket masuk TNBTS Cemorolawang. Mereka hanya mau cek harga kamar, namun mereka diharuskan bayar tiket masuk dulu. Mohon pengertiannya yang di pos tiket masuk," kata Digdoyo pada Kamis (5/4).

Kesalahpahaman ini lebih sering terjadi terutama saat musim turis.

Pria yang akrab dipanggil Digdoyo itu menegaskan, kejadian semacam itu sebenarnya tak perlu terjadi jika keberadaan pos tiket lebih masuk ke dalam.

Artinya, posisi pos yang sekarang seharusnya berada setelah jalan yang mengarah ke dua hotel tersebut.

"Makanya kami mengusulkan adanya pemindahan pos tiket. Semoga pos tiket cepat dipindah agar tidak menimbulkan pro dan kontra seperti saat ini. Apalagi saat ini mulai ada penerapan tiket online yang berpotensi menimbulkan kemacetan," kata Digdoyo.

Sementara itu, Sarmin, Kasi 1 Pengelolaan Wisata Wilayah 1 TNBTS, mengungkapkan usulan itu memang bagus, hanya saja pihaknya tidak bisa memutuskan dalam waktu dekat.

"Selain itu jika itu dipindah, tempatnya juga sulit dengan posisi seperti pos tiket saat ini. Butuh kajian segala aspek, karena mencari tempat baru juga sulit," jelas Sarmin.

(dik/ard)