Tahun Keenam, 'Pencerah Nusantara' Atasi Ancaman 'Stunting'

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Jumat, 13/04/2018 21:04 WIB
Tahun Keenam, 'Pencerah Nusantara' Atasi Ancaman 'Stunting' Sekumpulan anak muda yang tergabung dalam 'Pencerah Nusantara' melakukan penilaian kebutuhan puskesmas dan masyarakat sekitar, serta edukasi gaya hidup sehat. (Foto: CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Telah berjalan selama enam tahun, 'Pencerah Nusantara' sebagai salah satu inisiatif kepemudaan turut memperkuat sistem layanan kesehatan primer di daerah tertinggal di Indonesia.

Model intervensi kesehatan berbasis tim yang diadopsi Kementerian Kesehatan RI menjadi program nasional ini memiliki temuan dan praktik yang memberikan wajah baru pada layanan kesehatan primer di berbagai daerah di Indonesia.

"Awalnya kami melakukan intervensi ke banyak hal, sekarang kami ingin fokus pada program kesehatan ibu dan anak serta gizi masyarakat. Ada ancaman stunting," ungkap Siska Verawati, Program Manager Pencerah Nusantara, di Jakarta, beberapa waktu lalu.


Saat ini, Pencerah Nusantara menjalankan program di delapan lokasi yakni, Aceh Selatan (NAD), Muara Enim (Sumatera Selatan), Cirebon (Jawa Barat), Grobogan (Jawa Tengah), Sumbawa Barat (NTB), Gunung Mas (Kalimantan Tengah), Mamuju Utara (Sulawesi Barat) dan Konawe (Sulawesi Tenggara).


Sebelumnya, Siska menuturkan tim dikirim ke daerah-daerah rawan. Tim mengawali langkah dengan intervensi ke tujuh lokasi pada 2012-2015 yakni Sikakap (Sumatera Barat), Karawang (Jawa Barat), Pasuruan (Jawa Timur), Ende (NTT), Berau (Kalimantan Timur), Toli-toli dan Sigi (Sulawesi Tengah). Selama tiga tahun, terdapat tiga tim berbeda yang dikirim tiap tahunnya.

Ia menunjukkan hasil positif yakni perubahan dalam berbagai hal terkait perubahan layanan di Puskesmas. Perbaikan ini dapat dilihat lewat manajemen puskesmas, promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, kesehatan ibu dan bayi, gizi serta perawatan medis dasar.

Sebagai program di bawah Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) yang awalnya bernama Kantor Utusan Presiden untuk Millenium Goals, 'Pencerah Nusantara' merupakan upaya penguatan layanan primer, dan juga implementasi nasional Sustainable Development Goals (SDGs).

"Ini merupakan program penguatan layanan primer. Mereka, yang turut dalam program, latar belakangnya tidak hanya kalangan medis, tapi juga nonmedis dan dikirim secara tim," ujar Anindita Sitepu, Direktur Program CISDI dalam diskusi media di Tjikini Lima, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (12/4).

Anindita berkata tim Pencerah Nusantara melakukan penilaian kebutuhan puskesmas dan masyarakat sekitar. Di samping itu, mereka juga melakukan penguatan kapasitas tenaga kesehatan lokal, edukasi kesehatan, posyandu (ibu hamil, bayi dan balita), penguatan manajemen puskesmas, serta pemberdayaan pemuda dan komunitas.


Penguatan puskesmas

Profesor Akmal Taher, staf khusus Menteri Kesehatan RI bidang Peningkatan Pelayanan menuturkan kehadiran Pencerah Nusantara sangat membantu puskesmas-puskesmas, apalagi puskesmas yang berada di daerah terpencil dan sumber daya manusianya terbatas.

Menurutnya kehadiran tim tak serta merta menambah amunisi tenaga fisik di sana, tetapi lebih pada membawa suasana kerja dan cara kerja baru.

"Ini sangat biasa, stimulus dari luar memang sangat gampang (membawa perubahan), perubahan terasa misal dari pencatatan yang rapi juga perencanaan yang bagus," katanya.


Apalagi, lanjutnya, fasilitas kesehatan primer merupakan 'backbone' kesehatan masyarakat. Promosi gaya hidup sehat dapat dimulai dari puskesmas sehingga masyarakat mau fokus pada pencegahan daripada pengobatan.

"Mencegah penyakit jauh lebih menguntungkan. Meski sekarang kalau sakit ada pelayanan kesehatan, teknologi medis bagus, dia tertolong tapi biaya bisa sangat mahal," tambahnya.
(rah/rah)