Penderita Meningkat, Penyakit Kardiovaskular Patut Diwaspadai

CNNIndonesia, CNN Indonesia | Kamis, 26/04/2018 16:44 WIB
Penderita Meningkat, Penyakit Kardiovaskular Patut Diwaspadai Angka penderita penyakit kardiovaskular yang berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah di Indonesia disebut meningkat. (Ilustrasi/Foto: Thinkstock/pixelheadphoto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyakit kardiovaskular yang berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah menduduki peringkat pertama sebagai penyakit yang menyebabkan kematian. Berdasarkan data WHO, 37 % kematian di Indonesia disebabkan karena penyakit jantung dan pembuluh darah. Penyakit ini terjadi karena dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tekanan darah tinggi, kolestrol, diabetes dan juga pola hidup tidak sehat seperti merokok.

Tingginya angka kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular membuat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat.

"Bila hanya mengandalkan pada aspek pengobatan saja akan menghabiskan biaya yang sangat besar, maka diperlukan upaya dari pemerintah dan organisasi kesehatan di masyarakat untuk aspek pencegahan serta promosi kesehatan. Sebelum sakit sebaiknya dicegah," jelas Anwar Santoso, dokter spesialis kardiovaskular, saat diwawancarai di Jakarta, Rabu (25/4).



Hasil riset kesehatan dasar Indonesia dari tahun 2007-2013 menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan terhadap kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung. Riset tersebut juga menunjukkan, di Indonesia terdapat dua provinsi yang tercatat memiliki resiko tinggi terhadap penyakit jantung yaitu Sulawesi Selatan dan Bangka Belitung.

PERKI bekerjasama dengan Yayasan Jantung Indonesia disebutkan akan memberikan intervensi pada 50 puskesmas yang berada di daerah tersebut.

"Kami ingin mengintervensi masyarakat yang memiliki faktor resiko jantung untuk berupaya mencegah penyakit tersebut. Berdasarkan dari data kesehatan dan juga dengan berbagai pertimbangan kami memutuskan untuk memberikan edukasi pada 50 puskesmas yang tedapat di dua provinsi tersebut," jelas Siska Suridanda Danny, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah.


Program ini akan mendorong petugas kesehatan untuk memantau kesehatan mereka yang beresiko penyakit jantung dengan menggunakan aplikasi.

Nantinya masyarakat yang datang ke puskesmas akan melakukan pemeriksaan rutin seperti tekanan darah, kolestrol, kadar gula darah dan sebagainya. Hasil dari pemeriksaan tersebut akan dipantau melalui aplikasi oleh tim kesehatan.

"Jadi nanti semua terpantau melalui aplikasi mobile. Apa lagi di zaman sekarang semua orang hampir memiliki akses dengan gadget. Kami berharap melalui aplikasi ini diberikan kemudahan untuk mengontrol dan membantu masyarakat dalam menerapkan pola hidup sehat," tambah dia.

Selain untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat, program ini juga bertujuan untuk memberdayakan unit kesehatan setempat seperti puskesmas. (cel/rah)