Mengenali Gejala Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi

CNNIndonesia, CNN Indonesia | Sabtu, 21/04/2018 06:03 WIB
Mengenali Gejala Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi Penyakit jantung bawaan pada bayi bisa dikenali dengan memerhatikan warna biru di tubuh bayi atau mereka mulai kesulitan makan. (Ilustrasi/Foto: Thinkstock/yacobchuk)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pada sebagian besar kasus, Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada bayi kerap terjadi tanpa sebab yang diketahui. Penyakit dengan kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir ini diduga terjadi karena adanya gangguan atau kegagalan perkembangan struktur jantung pada fase awal perkembangan janin.

Dari catatan data RS Harapan Kita, dari 1.000 kelahiran yang hidup, 9 bayi di Indonesia di antaranya diketahui mengidap penyakit jantung bawaan (PJB).

"Bisa bermacam-macam, tapi bisa juga kita tidak tahu," ucap dokter spesialis jantung Oktaviani Lilyasari dalam diskusi mengenai Penyakit Jantung Bawaan di Hotel Ritz-Carlton Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (20/4).



Lebih jauh ia menambahkan, beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko PJB adalah infeksi rubella, genetik (keturunan), kelainan kromosom, hingga faktor lingkungan seperti radiasi dan polusi.

Menurut Oktaviani, satu dari tiga bayi dengan PJB memiliki jenis PJB yang kritis. Agar jiwa bayi yang memiliki PJB dapat tertolong, dibutuhkan penanganan secara tepat ketika gejala sudah nampak.

Warna biru di tubuh bayi

Gejala PJB yang paling nampak dan mudah dikenali adalah warna biru pada tubuh bayi, menurut Oktaviani. Warna biru ini biasanya nampak di selaput lendir.

"Biasanya di selaput lendir, di sekitar bibir atau lidah," kata Oktaviani.

Selain itu, warna kebiru-biruan juga dapat muncul di kuku, atau bahkan keseluruhan wajah bayi. Ketika sudah mendapat penanganan yang tepat, seperti operasi reparasi, biasanya warna kebiruan ini hilang secara dramatis.

Warna kebiru-biruan ini biasanya muncul pada individu yang memiliki PJB jenis sianotik. Pada PJB jenis ini, warna biru pada tubuh muncul karena kurangnya kadar oksigen di dalam darah.

Menurut Oktaviani, orangtua yang memiliki anak dengan PJB jenis sianotik ini juga kerap melaporkan bahwa anaknya sering mengalami kejang-kejang.

"Padahal itu bukan kejang, tapi spel. Aliran darahnya terhambat," kata Oktaviani.


Kesulitan makan 

Walau begitu, gejala warna biru pada tubuh ini tidak akan muncul pada bayi memiliki PJB non-sianotik. Penderita PJB non-sianotik biasanya memiliki lubang di sekat jantung, kelainan pada salah satu katup jantung, atau penyempitan alur pembuluh darah, berbeda dengan penderita PJB sianotik.

Oleh karenanya, orangtua juga perlu mengenali gejala-gejala lain PJB, seperti berat badan yang sulit naik dan kesulitan makan (sering tersedak). Bayi yang memiliki PJB juga biasanya sering mengalami infeksi saluran napas bawah, yang dapat menyebabkan batuk panas.

Selain itu, napas bayi yang memiliki PJB juga cenderung lebih cepat, hidungnya kembang kempis. Menurut Oktaviani, hal ini dinamakan retraksi, dimana tulang hidung terlihat cekung ketika bayi bernapas.

Walau kebanyakan gejala PJB dapat dikenali sejak lahir, gejala ini kadang bersifat minimal atau tidak nampak sama sekali. Hal ini disebabkan ketika bayi baru lahir, sirkulasi darah dan sistem pernapasan bayi masih mengalami transisi dari masa janin ke periode pascalahir. (ast/rah)