Cegah Thalassemia dengan Skrining Sebelum Menikah

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Rabu, 09/05/2018 09:05 WIB
Cegah Thalassemia dengan Skrining Sebelum Menikah Salah satu cara yang paling efektif mencegah penyebaran thalassemia adalah dengan melakukan skrining terhadap pasangan yang akan menikah. (Ilustrasi/Foto: Thinkstock/Gam1983)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyakit thalassemia merupakan penyakit bawaan kelainan darah yang diturunkan dari kedua orang tua. Penderita thalassemia mesti menjalani transfusi darah dan terapi kelasi besi seumur hidup.

Belum lagi, thalassemia yang tak bisa disembuhkan ini, juga membuat penderitanya mengalami banyak kerugian dari segi sosial dan finansial. Walau tidak dapat disembuhkan, penyebaran thalassemia dapat dicegah.

Dokter ahli hematologi onkologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Pustika Amalia salah satu cara yang paling efektif mencegah penyebaran thalassemia adalah dengan melakukan skrining terhadap pasangan yang akan menikah.



"Skrining kepada pasangan sebelum menikah dan ibu hamil adalah cara yang paling efektif memutus thalassemia," kata Pustika saat temu media memperingati Hari Thalassemia Sedunia di Kementerian Kesehatan, Senin (7/8). Hari Thalassemia Sedunia diperingati setiap 8 Mei.

Pustika menjelaskan skrining adalah metode pengujian yang dapat mengetahui gen thalassemia di dalam darah. Skrining dapat dilakukan di pusat kesehatan seperti Puskesmas dan rumah sakit.

Orang yang terlihat normal dapat membawa sifat thalassemia itu dengan beragam tingkatan mulai dari minor, intermedia dan mayor. Pengidap thalssemia minor hidup normal dan tak membutuhkan perawatan, sedangkan intermedia dan mayor memerlukan transfusi darah seumur hidup.

Berdasarkan prevalensi yang menyatakan 7-8 persen warga dunia memiliki gen thalassemia, diperkirakan sekitar 20 juta penduduk Indonesia membawa kelainan gen ini. Pustika menyarankan setiap pasangan yang hendak menikah untuk melakukan skrining terlebih dahulu agar tak kadung menurunkan gen thalassemia kepada anak.


"Sebaiknya pasangan skrining terlebih dahulu sebelum terlambat," ujar Pustika.

Kemungkinan penurunan gen thalassemia ini dapat dilihat berdasarkan probabilitas. skema penurunan thalassemia pada anak jika salah satu dari orang tua membawa sifat thalassemia maka kemungkinan anak 50 persen normal dan 50 persen pembawa sifat. Sementara jika kedua orang tua membawa sifat thalassemia kemungkinan anak 25 persen normal, 50 persen pembawa sifat dan 25 persen thalassemia mayor.

Menurut Pustika, dengan melakukan skrining pasangan dapat mengetahui risiko berat yang bakal dihadapi setelah menikah dan memiliki anak. Pustika menyebut pasangan yang positif memiliki gen thalassemia bakal diberikan konseling untuk dapat memutuskan pilihan.

"Ini tidak melarang, setiap orang berhak menikah. Apalagi rasanya sulit kalau sudah cinta. Tapi, sebaiknya tahu dan siap pada risiko yang dihadapi," ucap Pustika.

Menurut Pustika, cara ini terbukti berhasil menurunkan angka penderita dengan signifikan. Pustika mencontohkan Italia dan Yunana yang dulu merupakan negara dengan penderita thalassemia terbanyak melakukan skrining selama 20 tahun. Hasilnya, angka thalassemia mendekati 0 persen.


"Di Indonesia ini belum jadi prioritas utama, padahal penderita thalassemia mayor sudah mencapai 9.000 pasien. Di luar negeri sudah jadi program pemerintah. Pasangan tidak akan dapat surat nikah kalo belum skrining thalassemia," kata Pustika.

Selain itu, Pustika menyebut di luar negeri seperti Italia, Yunani dan Iran juga memberlakukan fatwa dapat mengaborsi janin saat berusia 14 minggu jika terdeteksi memiliki gen thalassemia.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan mengaku sedang merancang kebijakan tentang skring untuk dapat mencegah penyebaran thalassemia.

"Program skrinning adalah program yang dapat memutus rantai thalassemia, karena pentingnya kami sedang menyusun program. Nanti akan diturunkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) dan kebijakan," kata Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Asjikin Iman. (rah/rah)