Menpar Minta Media Promosikan Indonesia Aman Pasca Teror

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Selasa, 15/05/2018 18:19 WIB
Menpar Minta Media Promosikan Indonesia Aman Pasca Teror Menteri Pariwisata Arief Yahya. (Dok. Kementerian Pariwisata)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan masih banyak destinasi wisata menarik di Indonesia yang bisa didatangi turis mancanegara pasca terjadinya serangan bom di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur.

Hal tersebut diungkapkannya menyikapi imbauan perjalanan sejumlah yang diterbitkan negara-negara tetangga atas kondisi keamanan di Indonesia.

"Masih banyak destinasi lain yang bisa dikunjungi, salah satunya Bali," kata Arief di hadapan wartawan saat berada di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa (15/5).


Ia menjelaskan bahwa lokasi Surabaya tak berada dekat dengan Bali, sehingga ia meminta kepada media dan semua pihak memberitahu dunia mengenai hal tersebut.

"Misalnya London atau Birmingham mendapat serangan teroris, tapi kita merasa seluruh Inggris terdampak. Menghindari kesan tersebut, mohon media ikut membantu membatasi. Tolong sebut Surabaya jauh dari Bali, misalnya begitu," ucapnya.

Sebelumnya sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Australia, Hong Kong, Inggris, dan Singapura mengeluarkan imbauan perjalanan bagi warganya akibat serangkaian teror bom Surabaya dan Sidoarjo.

Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia mengeluarkan peringatakan keamanan untuk warganya yang sedang berada di Indonesia, terutama Surabaya.

Arief menilai wajar negara-negara mengeluarkan imbauan perjalanan setelah serangan teror terjadi. Hal tersebut demi keamanan warga negaranya yang sedang berada di luar negeri.

"Itu memang kewajiban agar tidak datang ke daerah tertentu di sebuah negara. Jadi bukan larangan berpelesir (travel banned). Itu malah lebih berat," kata Arief.

Secara garis besar, Arief menyatakan imbauan perjalanan dari sejumlah negara belum terlalu mempengaruhi jumlah kunjungan turis mancanegara ke Indonesia.

"Kalau mau terus terang yang datang ke Surabaya juga tidak sampai sekian persen. Tapi contoh saja pemerintah Australia beberapa kali mengeluarkan imbauan perjalanan, syukur jumlah kunjungan ke Indonesia tidak terlalu berpengaruh," pungkasnya.

(ard)