Laporan dari Sydney

Kawanan Lumba-lumba dan Paus di Perairan Kanguru

Feri Agus, CNN Indonesia | Sabtu, 02/06/2018 16:09 WIB
Kawanan Lumba-lumba dan Paus di Perairan Kanguru Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Sydney, CNN Indonesia -- Kawasan perairan Australia dikenal dengan serangan hiu yang ganas. Hiu memang tak tanpa alasan menyerang manusia, meski ada beberapa jenis hiu yang agresif seperti hiu putih, hiu harimau, dan hiu banteng.

Perairan Negeri Kanguru tak hanya menjadi habitat para hiu, tetapi juga kawanan lumba-lumba hidung botol dan jalur migrasi paus bungkuk.

Kawanan lumba-lumba dan paus ini menjadi objek wisata yang menarik setiap tahunnya.


Salah satu perairan yang menjadi lokasi wisata lumba-lumba dan paus itu di Jervis Bay, New South Wales.

Saya bersama rombongan Tourism Australia dam Garuda Indonesia datang ke teluk di pesisir timur Australia itu pada beberapa hari yang lalu.

Jervis Bay menjadi rumah bagi lebih dari 80 lumba-lumba hidung botol. Perairan ini juga jalur migrasi paus bungkuk setiap tahunnya, tepatnya pada Mei dan November.

Kedatangan kami bulan ini bisa dibilang momen yang pas.

Kami berangkat dari penginapan di kawasan Kiama pukul 08.20. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Bila berangkat dari Sydney tentu harus berangkat lebih pagi dari itu.

Dari Kiama mobil kami mengarah ke Huskisson, letak dermaga untuk berlayar wisata lumba-lumba dan paus. Kami sampai di dermaga Huskisson sekitar pukul 09.20.

Matahari bersinar terik, namun udaranya terasa sejuk. Awak kapal juga mengatakan kalau cuaca cukup bersahabat untuk berlayar. Rombongan kami diantar oleh agen tur Dolphin Watch Cruises.

Satu orang penumpang dikenakan biaya AUS$35 (sekitar Rp366 ribu) per satu jam tur.

Kapalnya dapat membawa sekitar 20 sampai 30 penumpang. Namun saat itu hanya ada sekitar 15 orang yang ikut. Tepat pukul 10.00 kapal bergerak menjauh dari dermaga.

Kawanan Lumba-lumba dan Paus di Perairan KanguruDermaga Huskisson. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)

Baru sekitar 20 menit berlayar, seekor lumba-lumba melompat dari dalam air. Kemunculannya itu mengundang para wisatawan termasuk saya berdiri dan segera membidikan kamera.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Dari kejauhan beberapa ekor lumba-lumba berenang seakan mengikuti kapal kami. Hewan yang memiliki pendengaran tajam itu sesekali melompat ke atas. Kapal pun mengurangi memperlambat jalannya.

Saking cepatnya dan tak mengetahui pasti lumba-lumba muncul di titik mana, saya kesulitan untuk mengabadikan gambarnya. Saya hanya berhasil mengabadikan lumba-lumba itu dengan merekamnya, meski tak maksimal juga.

Kapal terus menjauh dari daratan. Sampai akhirnya kapal kami melewati bagian teluk. Kapal kembali melambat untuk mendeteksi keberadaan paus bungkuk. Mata saya dan para penumpang lain seksama memperhatikan ke arah perairan sekitar.

Tak lama terlihat sebuah semburan air seperti dari punggung seekor paus. Kapal langsung tancap gas menuju lokasi semburan itu. Benar saja seekor paus bungkuk berwarna hitam melompat ke atas dan langsung mengepakan ekornya di air ketika masuk ke dalam laut kembali.

Sempat berhenti sejenak memperhatikan keberadaan paus, kapal kembali bergerak menjauh dari bagian teluk. Terpaan angin dan hempasan ombak memberikan sensasi tersendiri dalam melihat kawanan lumba-lumba dan paus bungkuk ini.

Beberapa menit berjalan belum melihat ada tanda-tanda keberadaan lumba-lumba maupun paus. Tak lama kemudian seorang penumpang melihat semburan air dari dalam laut. Selanjutnya dari lokasi semburan itu muncul seekor paus melambat kepermukaan dan kembali turun lagi.

Kapal kemudian memutar arah dan mulai menyusuri tebing yang membentuk teluk. Perlahan kapal berjalan, mata penumpang seksama melihat kiri dan kanan untuk memastikan keberadaan paus. Bukan paus yang muncul, namun beberapa ekor lumba-lumba yang berenang mengikuti kapal.

Sesekali lumba-lumba itu lompat ke permukaan laut. Lumba-lumba berwarna abu-abu itu kemudian menghilang kembali. Tak lama terlihat lagi semburan dari seekor paus dari arah belakang kapal. Namun, saat kapal memutar arah dan menuju titik sembuaran itu, hewan besar itu tak muncul kembali.

Akhirnya pencarian lumba-lumba dan paus dihentikan. Kapal kembali menuju dermaga. Berharap diperjalanan pulang melihat lumba-lumba maupun paus bungkuk. Perjalanan mencari kedua mamalia itu memakan waktu sekitar 2 jam. Cukup puas meski tak sempurna mengabadikan binatang laut itu.

Menyusuri Pantai Pasir Putih

Usai wisata lumba-lumba dan paus, saya dan rombongan melanjutkan perjalanan ke pantai pasir putih di Greenfield Beach Picnic Area. Membutuhkan waktu sekitar 10 menit berkendara dari dermaga Huskisson, Jervis Bay ke tempat wisata itu.

Terdapat dua pantai yang bisa dikunjungi, yakni Greenfield Beach dan Hyams Beach. Kedua pantai yang disebut memiliki pasir terputih di dunia ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Jervis Bay.

Air laut yang jernih dengan warna biru kehijauan dan hamparan pasir putih menyambut kami ketika tiba di Greenfield Beach. Pantai yang indah di sisi timur Benua Australia ini. Pasirnya cukup lembut saat saya coba menggenggamnya.

Kawanan Lumba-lumba dan Paus di Perairan KanguruPemandangan pantai yang berpasir putih halus. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)

Airnya cukup tenang, sangat pas bagi yang ingin berenang di pantai tersebut. Siang itu pantainya sedang sepi, seakan milik pribadi.

Puas di Greenfield Beach, kami melanjutkan berjalan kaki menuju Hyams Beach. Jarak kedua pantai itu sekitar 1 kilometer. Kami menyusuri jalan tanah setapak. Sepanjang pantai banyak ditumbuhi pohon 'gumtree'.

Pohon-pohon yang rimbun ini melindungi pejalan kaki dari terpaan sinar matahari. Meski siang itu cukup terik, namun angil laut yang berhembus membuat tubuh terasa dingin. Setelah 15 menit berjalan akhirnya kami tiba di Hyams Beach.

Pantai ini memiliki pasir yang lebih putih dan lebih luas dari Greenfield Beach. Batuan karang berdiri kokoh di sisi utara pantai tersebut. Pengunjung dapat menyusuri batuan karang itu untuk sekedar mengabadikan pemandangan sekitar.

Ombak yang tenang membuat pantai tersebut bersahabat bagi pengunjung yang ingin bermain air.

(ard/ard)