Surat Dari Rantau

Ramadan ala Miniatur Indonesia di Korea Selatan

Sukaryadi, CNN Indonesia | Senin, 11/06/2018 13:08 WIB
Ramadan ala Miniatur Indonesia di Korea Selatan Ilustrasi. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Ansan, CNN Indonesia -- Korea Selatan (Korsel) adalah salah satu negara yang ramah terhadap Muslim. Hal itu bisa terlihat dari kebijakan negaranya yang meletakkan aspek halal dalam sektor pariwisatanya. Untuk mencari tempat makan halal atau tempat ibadah bukanlah hal yang sulit di Negara Ginseng.

Saat ini di setiap kota sudah ada masjid, kalau tidak salah sudah ada 59 masjid di Korsel. Dari puluhan masjid, lima di antaranya merupakan donasi umat Muslim di Korsel.

Nuansa Islami semakin terasa di kota Ansan, yang berada di Provinsi Gyeonggi.


Kota yang berjarak dua jam perjalanan kereta dari Seoul ini sering disebut sebagai minaturnya Indonesia, karena banyaknya pendatang dari Indonesia yang bermukim di sini.

Mayoritas penduduknya berasal dari suku Jawa, Sumatera, Kalimantan hingga Nusa Tenggara Timur.

Setiap akhir pekan kota Ansan selalu ramai oleh warga negara Indonesia. Sejumlah acara kumpul-kumpul digelar. Paling rutin saat bulan Ramadan tiba.

Sama seperti di Indonesia, acara buka puasa bersama biasanya diadakan di tempat makan, salah satu pilihannya ialah Warung Indonesia.

Selain terjamin kehalalannya, di tempat makan ini mereka juga bisa melepas rindu akan kuliner Tanah Air yang biasa disantap saat bulan puasa, seperti kolak pisang.

Buka puasa bersama juga biasanya digelar setiap hari di Masjid Ansan. Setelah buka puasa, jamaah melakukan salat Magrib dan Tarawih bersama.

Saat Idul Fitri dan Idul Adha juga digelar salat Ied di masjid ini.

Acara buka puasa bersama berlangsung setiap hari Sabtu atau Minggu, karena hari Senin sampai Jumat mayoritas masih sibuk bekerja. 

Warga negara Indonesia yang menetap di Ansan kebanyakan bekerja sebagai buruh pabrik. 

Hampir tak ada tanggapan negatif terhadap umat Muslim, terutama saat menjalani ibadah puasa. Namun penduduk setempat yang non-Islam banyak yang penasaran dan bertanya mengenai kondisi tubuh seseorang yang menahan makan dan minum hampir seharian.

Mereka menganggap tak makan dan tak minum bisa menyebabkan orang kehilangan nyawa hahaha... Apalagi di Korsel waktu berpuasanya selama 16,5 jam. Sahur pukul 03.00 dan buka pukul 19.00.

Saat Lebaran biasanya setiap kedutaan besar menggelar acara spesial. Menu makanannya juga serupa dengan yang biasanya dihidangkan di kampung halaman, ketupat dan opor ayam.

Makanan halal tersedia, tempat ibadah tak sulit dijangkau. Tapi yang masih saya rindukan adalah sungkeman dengan orang tua, saudara, dan kerabat saat Lebaran.

Beruntung teknologi sudah semakin canggih, sehingga saya bisa "mudik" lewat video call hehehe...

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com, ike.agestu@cnnindonesia.com, vetricia.wizach@cnnindonesia.com.

Kami tunggu!

(agr/ard)