Daftar 5 Label 'Streetwear' Lokal yang Jajal Pasar AS

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Sabtu, 23/06/2018 01:45 WIB
Daftar 5 Label 'Streetwear' Lokal yang Jajal Pasar AS Koleksi busana Monstore. Label streetwear ini dan empat lainnya akan pamer karya di Agenda Show California, AS. (Dok/Foto: Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lima lini busana pria kategori streetwear dari Indonesia bakal unjuk gigi di pameran streetwear terbesar di dunia, Agenda Show 2018 di California, Amerika Serikat. Label-label lokal ini terpilih setelah melalui serangkaian kurasi dari Badan Ekonomi Kreatif dan tim Agenda Show.

Lima label streetwear ini dipilih berdasarkan seleksi administrasi, orisinalitas desain, legalitas, dan kesiapan memasuki pasar internasional. Lima label ini juga sudah memiliki rekam jejak yang baik di pasar lokal dan beberapa negara lain.

Di Agenda Show 2018, lima label ini bakal memasarkan koleksi busana streetwear mereka untuk dipasarkan ke pembeli dan distributor asing. Bekraf menargetkan lima label ini dapat membuka jalan dan memasarkan label mereka serta membawa nama Indonesia di industri fesyen internasional. Berikut lima label streetwear lokal yang bakal unjuk gigi di Agenda Show 2018 pada 27-29 Juni mendatang: 



Elhaus

Elhaus merupakan label yang mengangkat pakaian pria modern berbahan denim. Mereka fokus membuat pakaian jadi dengan estetika modern tapi tetap mengedepankan nilai dan metode yang tradisional. Elhaus banyak menggunakan desain yang timeless dengan kontruksi bahan yang kuat. Rancangan Elhaus banyak terpengaruh dari gaya seragam angkatan atau army.

Di Agenda Show 2018, Elhaus akan memamerkan koleksi terbaru untuk Spring/Summer 2019 yang berkolaborasi dengan seorang seniman asal Yogyakarta.

[Gambas:Instagram]

Monstore

Lini busana streetwear ini memiliki koleksi unisex, apparel dan home. Dalam membuat pakaian jadi, Monstore mengedepankan desain yang berseni dan bercerita. Untuk Agenda Show 2018 nanti, koleksi Monstore terinspirasi dari masa penjajahan Belanda dan perjuangan Raden Saleh.

"Kami ingin memperlihatkan eksistensi Indonesia di masa penjajahan," kata desainer Monstore, Dita Sri Lestari.

[Gambas:Instagram]

The Old Blue & Co

Label yang berdiri sejak awal 2010 ini terinspirasi dari gaya busana masyarakat Amerika di tahun 1800-an hingga 1950-an. Pakaian-pakaian dari Old Blue memiliki desain jeans yang fungsional. Old Blue sudah memasarkan karyanya ke beberapa negara seperti Jerman, Rusia, Australia, Thailand, dan Malaysia.

[Gambas:Instagram]

Paradise Youth Club (PYC)

Paradise mengangkat gaya busana urban dari tahun 90-an. Desain PYC banyak terpengaruh dari gaya hidup selancar, skateboard dan musik. Koleksi busana PYC terdiri dari ragam kaus dan kemeja bergrafis.

"Saya dan teman-teman doyan skateboard, jadi ini yang mau kami bawa," tutur pendiri Paradise Hendrick Setup.

[Gambas:Instagram]

Pot Meets Pop

Label denim yang berdiri sejak 2009 ini berbasis di Bandung. Pot Meets Pop awalnya merupakan industri rumahan. Namun, kesuksesan penjualan koleksi Pot Meets Pop membuat label ini berrkembang dan memasarkan pakaian jadi hingga ke mancanegara.

[Gambas:Instagram]

Di Agenda Show 2018 Pot Meets Pop membawa koleksi terbaru untuk Spring/Summer 2019 yang beremakan Endless Piece of Mind. Koleksi ini terinspirasi dari era hippie di Amerika yang dikombinasikan dengan bahan denim dan dan nondenim. (rah)


BACA JUGA