Hari Anak Nasional

Prostitusi Anak Tidak Mengenal Jenis Kelamin

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Senin, 23/07/2018 19:42 WIB
Prostitusi Anak Tidak Mengenal Jenis Kelamin Ilustrasi. (Foto: REUTERS/Jorge Silva)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anak pekerja seksual atau dikenal dengan istilah anak yang dilacurkan (AYLA) biasanya identik dengan perempuan. Namun, ternyata AYLA juga banyak terjadi pada anak laki-laki.

R (17), bukan nama sebenarnya, misalnya menjadi salah satu AYLA di tengah gemerlapnya Kota Bandung, Jawa Barat.

Tak seperti anak kebanyakan yang menjadi AYLA karena himpitan ekonomi, R masuk dalam pusaran itu lantaran kurangnya kasih sayang dari orang tua.


"Penyebabnya bukan faktor ekonomi, tapi kurang perhatian. Dia tidak mendapatkan kasih sayang. Jadi, AYLA ini bentuk pelariannya," kata pendamping R dari Konfederasi Anti Pemiskinan (KAP) Indonesia, S, bukan nama sebenarnya, saat berbincang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.


R kini tergabung dalam anak binaan Program Peduli dari KAP Indonesia. Program ini membawa misi untuk melindungi dan mengadvokasi anak-anak yang tidak mendapatkan hak anak, termasuk eksploitasi ekonomi dan seks.

Sudah beberapa bulan terakhir, S mencoba mendekati R termasuk keluarganya secara perlahan, agar R meninggalkan dunia malam. Hingga saat ini, S dan KAP masih berjuang membina R.

"Kami pelan-pelan, kalau langsung masuk ke persoalan soal seks misalnya, bukannya menerima atau nyaman malah akan kabur. Pelan-pelan kami mengarahkan supaya jangan terjerumus," tutur S.

R besar dalam keluarga yang berantakan. Ayah dan ibunya sudah bercerai sejak lama. Ibu R juga menikah kembali dan memiliki dua anak. Sehari-hari, R tinggal bersama nenek, ibu, satu saudara kandung, dan dua saudara tiri.


Keluarga yang berantakan ini membuat R tak mendapatkan kasih sayang yang cukup. R mulai bermalas-malasan ke sekolah untuk menuntut ilmu. Alhasil, dia dikeluarkan dari sekolah sebelum sempat mengikuti Ujian Nasional saat kelas 6 SD.

Karena sudah tak lagi bersekolah, R mencari kesibukan dengan bergaul bersama teman-teman sebaya. Sampai pada 2016, R dimasukkan dalam sebuah grup WhatsApp oleh temannya. Grup itu berisi informasi dan ajakan bermain di kelab malam. R mengaku nyaman berada di salah satu kelab besar di Bandung itu.

"Ada teman waktu itu membagikan 'player'. Pertama, mau nyobain, jadi keterusan," tutur R.

Dari kelab, kegiatan R malam itu biasanya berpindah ke apartemen untuk menemani lawan jenis hingga dini hari. Setiap kali bekerja, R biasanya hanya mendapat bayaran Rp100 ribu.


S mengaku terus memberikan binaan pada R, namun sering kali kesulitan. Menurut S, R mulai menunjukkan perubahan setelah menyadari dia tertular penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) beberapa bulan terakhir.

R mengaku sudah tak lagi ingin berkecimpung dalam dunia malam itu. Dia ingin fokus bekerja menjadi kuli bangunan.

"Pengen kerja, keterima sesuai ijazah SD seperti di (proyek) bangunan," ujar R.

Dalam peringatan Hari Anak Nasional, R menjadi salah satu anak yang berkesempatan mengikuti acara puncak di Pasuruan, Jawa Timur, yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo pada Senin (23/7). (agr)