Melahirkan 5 Anak Lebih Tingkatkan Risiko Alzheimer 70 Persen

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Senin, 30/07/2018 12:51 WIB
Melahirkan 5 Anak Lebih Tingkatkan Risiko Alzheimer 70 Persen ilustrasi hamil (Pexels/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Memiliki banyak anak ternyata meningkatkan risiko munculnya alzheimer atau penyakit progresif yang menghancurkan memori dan fungsi mental. 

Penelitian terbaru menunjukkan perempuan yang melahirkan lima anak atau lebih memiliki risiko 70 persen lebih tinggi terkena alzheimer dibandingkan dengan perempuan yang melahirkan lebih sedikit.

Perempuan tanpa demensia yang melahirkan lima anak atau lebih juga mendapatkan skor yang lebih rendah dalam tes kognitif yang umum digunakan.



Hasil penelitian ini didapat setelah menganalisis lebih dari 3.500 perempuan di Korea Selatan dan Yunani. Peneliti hanya meneliti perempuan yang berusia di atas 60 tahun, dengan rata-rata usia yang diujikan di kedua negara adalah 71 tahun.
 
"Berdasarkan penelitian sebelumnya, kami berharap menemukan kaitan antara kehamilan dengan persalinan dapat dikaitkan dengan risiko penyakit Alzheimer," kata salah satu peneliti yang merupakan neuropsikiatris di Seoul National University Ki Woong Kim, melalui e-mail kepada CNN.

Temuan lain yang menarik dari penelitian ini adalah perempuan yang pernah mengalami satu atau dua kali mengalami keguguran lebih kecil kemungkinan terkena alzheimer dibandingkan perempuan yang tidak pernah hamil.

"Kami cukup terkejut bahwa kehamilan yang tidak lengkap berhubungan dengan risiko lebih rendah terkena Alzheimer, kami tidak mengharapkan ini pada awal penelitian kami," kata Kim.


Menurut Kim, hubungan antara melahirkan dan alzheimer ini dipengaruhi oleh hormon yang naik turun pada perempuan saat masa kehamilan. Kim menjelaskan saat trimester pertama kehamilan, kadar estrogen naik sedikit, lalu melonjak tajam di sisa kehamilan. 

Pada trimester ketiga, kadar estrogen dapat mencapai 40 kali lipat lebih tinggi daripada puncak saat menstruasi. Dalam empat hari setelah melahirkan, estrogen justru menurun drastis menjadi jumlah rata-rata.

Di saat yang sama, hormon prgesteron dan hormon stres atau kortisol meningkat denga cepat selama kehamilan dan menurun setelah melahirkan.

"Karena sebagian besar kehamilan yang tidak lengkap terjadi pada trimester pertama kehamilan, ada kemungkinan bahwa kadar estrogen yang sedikit meningkat pada trimester pertama kehamilan berada dalam kisaran optimal untuk mengurangi risiko penyakit Alzheimer," kata Kim.

Di sisi lain, terlalu banyak melahirkan dapat membuat wanita mengalami proses naik turun hormon yang berlebihan sehingga mengurangi fungsi otak.

Tetapi terlalu banyak kelahiran dapat melakukan hal yang sebaliknya, kata Kim, dengan terus menerus mengekspos wanita ke tingkat estrogen dan hormon stres yang meningkat secara dramatis, diikuti dengan penarikan mendadak. (chs/chs)