Naik Mobil Pribadi Tak Jamin Bebas Paparan Polusi Udara

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Sabtu, 28/07/2018 21:39 WIB
Naik Mobil Pribadi Tak Jamin Bebas Paparan Polusi Udara ilustrasi mengendarai mobil (Thinkstock/Mulecan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di tengah udara Jakarta yang baru saja dinobatkan sebagai kota paling berpolusi di dunia, banyak masyarakat memilih untuk menaiki mobil pribadi. 

Naik mobil pribadi kerap menjadi menjadi pilihan untuk menghindari udara luar yang tercemar. Namun ternyata, berkendara dengan mobil pribadi di jalan raya tak menyelesaikan masalah karena tetap saja tidak aman dari polusi udara.


Ahli kesehatan lingkungan Budi Haryanto menjelaskan polusi udara yang terdiri dari partikel-partikel berbahaya seperti PM2,5, NOx, SO2, dan CO itu tetap dapat masuk ke dalam mobil dan terhirup oleh orang yang berada di dalamnya.


"Selama ini, orang banyak berpikir naik kendaraan ber-AC dan tertutup itu aman dan bebas dari polusi. Tapi, ternyata tidak. Polusi di dalam mobil tetap saja tinggi dan melebih ambang batas dari WHO," kata Budi saat memaparkan temuannya mengenai polusi udara ambien dalam Seminar Kolaborasi Lintas Sektor: Menuju Udara Bersih 2030, di Jakarta.

Akademisi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini mengungkap penelitian yang pernah dilakukan terhadap kualitas udara yang dihirup pengguna mobil pribadi di Jakarta. 

Penelitian itu menemukan saat seseorang masih berada di rumah, ia menghirup udara yang normal. Akan tetapi, dalam perjalanan selama 2,5 jam dari Ciputat menuju Salemba kualitas udara yang dihirup pengguna mobil pribadi itu menurun pesat. 

Ia dapat menghirup partikel debu hingga 40 part per million (ppm). Padahal, ambang batas WHO berada di kisaran 9 ppm per satu jam.

"Ini penelitian terhadap salah seorang setara eselon III yang menggunakan mobil tergolong mewah dengan harga di atas Rp400 jutaan. Tetap saja tidak aman walaupun cuma duduk di dalam mobil," ucap Budi.


Kualitas udara yang dihirup kembali normal selama beraktivitas di kantor. Saat pulang kerja, kualitas udara kembali memburuk hingga 30 ppm.

"Pas pulang, kualitas udara buruknya kembali tinggi beberapa kali lipat dari ambang batas," ucap Budi.

Hasil yang sama juga ditemukan terhadap pengendara mobil dari Depok hingga Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Kualitas udara yang dihirup memburuk saat menaiki mobil pribadi. (chs)