LANCONG SEMALAM

Hurghada, Resor Musim Panas di Negeri Piramida

Olivia Drost, CNN Indonesia | Minggu, 29/07/2018 14:10 WIB
Hurghada, Resor Musim Panas di Negeri Piramida Suasana berwisata di kota Hurghada, Mesir. (AFP PHOTO / MOHAMED EL-SHAHED)
Hurghada, CNN Indonesia -- Sejarah Mesir selalu menjadi inspirasi dalam film petualangan atau misteri. Selain Piramida atau Sphinx di Giza atau modernnya ibu kota di Kairo, turis juga bisa datang ke kawasan resor Hurghada.

Tahn 2016 dan 2017 Hurghada sempat mendapat serangan teroris. Namun saat ini situasinya sudah kembali pulih.

Dari Jakarta turis bisa melakukan penerbangan lebih dulu ke Kairo (Bandara Internasional Kairo) selama kurang lebih 16 jam plus pilihan satu kali transit di Bangkok, Dubai, Istanbul, atau Abu Dhabi.


Sesampainya di Kairo, Hurghada bisa dijangkau dengan berkendara selama sekitar enam jam atau penerbangan singkat selama dua jam.

Sepanjang tahun Hurghada beriklim tropis, sehingga banyak turis yang datang untuk merasakan musim panas dari bulan Januari sampai Desember. Tak ketinggalan turis yang datang menumpang kapal pesiar.

Di Hurghada ada banyak operator wisata yang menyediakan kegiatan wisata air, mulai dari wakeboarding sampai diving.

Untuk diving turis bisa menyelam di titik Abu Ramada Island, Fanadir, Giftun Kebir, dan Giftun Soraya, serta melihat bangkai kapal kuno di El Mina atau Rosalie Moller.

Yang ingin berenang atau berjemur di pinggir pantai silakan saja, karena pantainya berpasir putih halus dan berombak tenang.

Sampai di bandara, jangan lupa untuk menukar mata uang yang dibawa dengan dolar Amerika Serikat, karena nilai tukarnya jauh lebih baik ketimbang di luar bandara.

Selanjutnya turis bisa menukarkan dolar AS dengan Mesir Pound yang menjadi mata uang utama di Hurghada.

Menikmati Kota Resor Musim Panas HurghadaPemandangan kota Hurghada, Mesir. (AFP PHOTO / MOHAMED EL-SHAHED)

Untuk berkeliling kota Hurghada, turis bisa menyewa mobil, menumpang taksi, atau naik bus. Ongkos taksi di sini terbilang murah. Banyak yang berkata alasannya karena produksi minyak negara ini melimpah. 

Tidak lupa menambahkan penduduk di sini berbahasa Inggris sederhana, selain bahasa Arab yang fasih. Menggunakan aplikasi penerjemah bisa jadi jalan pintas berkomunikasi dengan mereka.

Ada banyak pilihan tempat menginap di Hurghada, mulai dari yang bintang lima sampai hostel. Yang erkenal seperti Hurghada Marriott Beach Resort, Hotel Mercure Hurghada, Royal Beach Resort, dan Albatros Palace.

Sebaiknya pilih hotel yang berada di tengah kota karena bisa berjalan kaki dengan aman dan nyaman saat harus pulang di malam hari.

Berikut ini pengalaman saya melancong semalaman di Hurghada pada beberapa waktu yang lalu:

Menikmati Kota Resor Musim Panas HurghadaKeramaian kota Hurghada. (Dok Olivia Drost)

08.30 - Sarapan di Sul Mare Beach Restaurant

Menu Hurghadians Breakfast alias sarapan ala Hurghada menjadi pilihan saya untuk memulai hari di Sul Mare Beach Restaurant.

Menunya telur (dua telur dimasak sesuai pesanan), kacang merah rebus, falafel (bola kacang digoreng), keju feta, dan irisan tomat.

Menu Hurghadians Breakfast dihargai 42 Mesir Pound (sekitar Rp34 ribuan) per porsi.

Menikmati Kota Resor Musim Panas HurghadaMenu Hurghadians Breakfast. (Dok Olivia Drost)

Penduduk Mesir biasanya menyantap sarapan dengan kopi hangat.

Di rumah-rumah tradisional mereka biasanya menyeduh biji dan menggilingnya sebelum menyaringnya menjadi bubuk kopi.

Ada empat tingkatan kopi di Mesir; saada (pahit), arri-ha (dengan sedikit gula), mazbuta (dengan gula sedang), atau zijada (sangat manis). Dari Sul Mare Beach Restaurant saya menyantap sarapan sambil memandang ke arah Laut Merah.

10.00 - Sliders Cable Park

Setelah sarapan, waktunya membakar kalori. Bermain air di Pantai El Gouna menjadi kegiatan pertama saya hari ini.

Menikmati Kota Resor Musim Panas HurghadaDari berjemur sampai diving bisa dilakukan di sini. (AFP PHOTO / MOHAMED EL-SHAHED)

Pantai El Gouna bisa dibilang sebagai salah satu pantai andalan di Hurghada. Di sini juga banyak hotel dan resor mewah yang ramai didatangi turis asal Eropa dan Timur Tengah.

Menikmati Kota Resor Musim Panas HurghadaKegiatan wakeboarding. (Dok Olivia Drost)

Operator Sliders Cable Park menyediakan beragam permainan air untuk turis, salah satunya ialah wakeboarding. Untuk sesi dua jam, saya membayar 718 Mesir Pound (sekitar Rp580 ribu).

13.30 - Jajan Tahini dan Pita

Masakan Mesir merupakan campuran tradisi kuliner dari Yunani, Turki, Palestina, Suriah, dan Lebanon.

Di waktu makan siang saya berhenti di salah satu kedai yang berada di Jalan Sheraton. Saya memesan Kami memesan menu tahini dan pita, roti tradisional Mesir.

Menikmati Kota Resor Musim Panas HurghadaMenu Tahini dan Pita. (Dok Olivia Drost)

Jika Pita cocok disantap dengan Hummus (bumbu halus berbahan kacang), makan Tahini biasanya disantap dengan Baba Ghanoush (bumbu halus berbahan terung, bawang, tomat, minyak zaitun, dan rempah).

Dua menu ini dihargai 50 pound Mesir (sekitar Rp 40 ribu).

14.30 - Menunggang Unta di Desa Suku Bedouin

Selain perairan, Hurghada yang seluas 36 kilometer juga dikelilingi oleh gurun pasir.

Ada banyak kegiatan di gurun pasir yang dikemas untuk turis, mulai dari berkendara dengan ATV sampai reli. Tarif paketnya mulai dari 495 Mesir pound (sekitar Rp400 ribuan) per orang selama lima jam.

Mengunjungi Suku Bedouin juga masuk dalam paket tersebut.

Di tengah gurun pasir ada desa Suku Bedouin yang tegak berdiri. Areanya cukup luas, terlihat ada pemukiman sederhana berbentuk gubuk dan kandang-kandang unta dan kambing di sana.

Menikmati Kota Resor Musim Panas HurghadaUnta milik warga yang bisa ditunggangi turis. (Dok Olivia Drost)

Masyarakat Suku Bedouin sangat ramah kepada pendatang. Mereka tak segan menyediakan minum teh panas kepada rombongan yang datang.

Suku Bedouin mungkin mirip dengan Suku Badui yang ada di Indonesia. Mereka gemar bepergian dan hidup menyatu dengan alam.

Selain di Mesir mereka juga bermukim di Maroko, Irak, Palestina, sampai Qatar. Populasi terbesar ada di Mesir dengan jumlah 902 ribu jiwa.

Di desa Suku Bedouin saya disambut tarian tradisional dan merasakan atraksi naik unta menjelajah padang pasir.

Sejumlah warga suku ikut membantu turis yang ingin menjajal kendaraan utama mereka.

17.30 - El Mina Masjid

Puas menghabiskan waktu di Desa Bedouin saya memutuskan kembali ke Hurghada menggunakan bus. Di Mesir, seperti di Indonesia, mayoritas masyarakat adalah Muslim. Dengan demikian Islam adalah bagian penting dari budaya Mesir.

Masjid menjadi pusat aktivitas masyarakat Hurghada. Masjid terbesar di sini adalah masjid El Mina Masjid atau yang bernama lain Masjid Putih.

Di bulan Ramadan masjid ini dipenuhi masyrakat yang beribadah mulai dari sore sampai dini hari.

Menikmati Kota Resor Musim Panas HurghadaEl Mina Masjid. (Dok Olivia Drost)

Di malam hari masjid ini disorot lampu berwarna kehijauan. Saking besar dan bersinarnya, masjid ini bisa terlihat dari perairan yang ada di sekitarnya.

Masjid ini bisa dijangkau dengan berjalan kaki di Jalan Sheraton. Selain yang ingin beribadah, turis umum diizinkan masuk untuk melihat arsitekturnya.

Yang penting tetap berpakaian sopan dan tak mengundang keributan.

19.00 - Al Halaka Fish Restaurant

Rasanya kurang pas jika ke Pantai Laut Merah tapi tidak menyantap menu seafood yang disajikan di restoran di sana.

Di area pelabuhan ada banyak tempat makan yang bahan masakannya berasal langsung dari kapal-kapal nelayan, sehingga rasanya lebih segar.

Pilihan saya malam itu ialah makan di Al Halaka Fish Restaurant.

Menu yang saya pesan sup ikan, lobster, udang, cumi-cumi bakar, serta nasi goreng.

Sebagai pelengkap ada bumbu hummus yang bisa dicocol untuk lauk, selain saus tomat dan saus cabai. Seluruh hidangan ini bisa dinikmati untuk dua orang. Saat itu saya merogoh kocek 120 pound Mesir (Rp 100 ribu).

20.30 - Pasar Malam

Hurghada adalah kota turis, jadi setiap malam dipastikan ada pesta. Namun saya mengunjungi Mesir saat Ramadan, sehingga hampir tak ada keriaan selama sebulan.

Tapi malam Ramadan tetap meriah dengan hadirnya sejumlah pasar malam. Pasar-pasar malam di sini tersebar di banyak gang-gang kecil.

Menikmati Kota Resor Musim Panas HurghadaMakan di pinggir jalan jadi sarana sosialisasi yang menarik bagi turis. (Dok Olivia Drost)

Barang dagangan yang dijual tergantung kelompok pedagang yang bermukim di setiap gangnya, ada yang menjual karpet, kain, bahan makanan, sampai batu permata.

Bagi yang lelah berbelanja bisa santai sejenak di kafe-kafe kecil yang berada di sekitar gang untuk menyantap halva (sejenis kue kacang kukus) atau mengisap shisha.

Menikmati Kota Resor Musim Panas HurghadaPasar malam yang selalu ramai. (Dok Olivia Drost)
(ard)