Sukabumi Diterjang Gelombang Tinggi, Turis Diminta Tak Nekat

ANTARA, CNN Indonesia | Senin, 30/07/2018 14:15 WIB
Sukabumi Diterjang Gelombang Tinggi, Turis Diminta Tak Nekat Wisatawan mengamati ombak tinggi di kawasan wisata Pantai Glagah, Temon, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bulan Juli sampai Agustus menjadi puncak musim panas di Indonesia. Banyak turis menyerbu pantai untuk berwisata, mulai dari sekadar berjemur, surfing sampai diving.

Perairan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, belakangan ini menjadi primadona baru destinasi wisata singkat masyarakat di Jabodetabek.

Berjarak sekitar lima jam perjalanan darat dari Jakarta, pantai-pantai di sana ramai dikunjungi turis untuk memancing atau surfing. Salah satu yang populer ialah Pantai Cimaja.


Namun hingga akhir pekan kemarin perairan laut selatan Kabupaten Sukabumi diterjang oleh gelombang pasang setinggi tiga meter yang menyebabkan air laut naik hingga ke pesisir pantai.

Kondisi itu terjadi di jam-jam turis beraktivitas, mulai dari pagi sampai siang.

Ketua Forum Koordinasi SAR Daerah Kabupaten Sukabumi Okih Pajri mengatakan bahwa kondisi alam seperti ini tak terduga sebelumnya, sehingga sangat berbahaya untuk turis.

"Informasi yang kami terima gelombang pasang ini mencapai tiga meter, tentu berbahaya untuk aktivitas di laut," kata Okih, seperti yang dikutip dari Antara pada Senin (30/7).

"Gelombang tinggi merupakan anomali alam, tetapi untuk tahun ini kondisinya lebih parah karena ketinggiannya cukup tinggi. Bahkan puluhan warung dan beberapa perahu nelayan rusak akibat diterjang gelombang," lanjutnya.

Pihaknya juga mengimbau dengan kondisi gelombang dan ombak yang tidak bersahabat ini baik nelayan maupun turis tak nekat beraktivitas di laut dahulu.

Situasi terakhir saat ini air dari beberapa pantai di Palabuhanratu hingga Cisoloksudah naik ke darat dan hampir mencapai ke permukiman warga yang ada di pesisir.

Nelayan di sana memilih tidak melaut karena kondisi gelombang yang tidak memungkinkan untuk diarungi.

Okih mengatakan pihaknya kini mulai berkoordinasi dengan sejumlah instansi dan relawan untuk melakukan penyisiran dan penjagaan terkait gelombang tinggi di sepanjang pantai Kabupaten Sukabumi.

(ard)