Adat Laut di Pelabuhan Ratu

agr, CNN Indonesia | Minggu, 05/08/2018 13:04 WIB
Adat Laut di Pelabuhan Ratu Salah satu jenis ikan yang ada di Teluk Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. (Foto: CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Cimaja, CNN Indonesia -- Saat menyebut kata Cimaja, sebagian orang akan berpikir bahwa satu-satunya kegiatan yang bisa dilakukan adalah surfing, surfing, dan surfing. Padahal ada beberapa opsi kegiatan terkait wisata yang bisa dilakukan, salah satunya adalah memancing.

Terletak di Teluk Pelabuhan Ratu, memancing adalah sebuah tradisi yang tidak bisa disingkirkan dari nadi kehidupan masyarakat, khususnya mereka yang berada di kawasan Pelabuhan Ratu.

Sebelum merencakan pergi melaut, saya sudah menghubungi seorang nelayan di kawasan Pelabuhan Ratu. Ia menyarankan saya untuk mempertimbangkan rencana melaut di pagi hari, pasalnya ombak di Teluk Pelabuhan Ratu sedang ganas dan tidak bisa diprediksi.



"Wah minggu lalu mah ombaknya gede banget. Di sini bisa sampai enam meter, Kang. Dua hari kemarin aja gak ada yang melaut. Kapal-kapal itu pada berantakan," ujar salah seorang nelayan di Pelabuhan Ratu, Ejang Soma atau yang akrab disapa Gober, saat saya menemuinya sehari sebelum pergi memancing.

"Kita lihat besok ya Kang, semoga ombaknya sama kaya hari ini."

Apa yang dikatakan Gober tidak berlebihan, karena pada akhir bulan Juli ombak di pesisir selatan Pulau Jawa sedang ganas.

Tak hanya perahu-perahu di kawasan Pantai Pelabuhan Ratu yang amburadul diterjang ombak, sebuah kapal nelayan di sebuah pantai di Jawa Tengah juga sampai terbalik digulung ombak.

Saya sudah membayangkan jika tidak memiliki kesempatan untuk memancing, maka lebih baik saya menghabiskan waktu bersama para nelayan sembari mendengarkan cerita yang meluncur dari mulut mereka tentang pengalaman bertatap muka dengan ombak. Atau hal-hal seru terkait pantai selatan Jawa.

Usai azan Magrib berkumandang Gober berpamitan untuk pergi melaut, saya pun mengamati beberapa perahu nelayan yang mengangkat sauh untuk menuju tempat yang jauh. Pendaran cahaya jingga di cakrawala mengiringi perjalanan mereka.


Kail, Senar, dan Ikan Ekor Kuning

Pada hari Sabtu (28/7) sekitar pukul 08.00 WIB, saya kembali bertemu dengan Gober di dekat Pantai Pelabuhan Ratu. Ternyata ia dan seorang temannya bernama Ade, sudah menanti sembari menyiapkan peralatan dan umpan.

"Ombaknya lumayan tinggi nih, kang. Kita gak bisa jauh-jauh. Sekarang kita-jalan dulu ya baru mancing," ujar Gober sembari mengendalikan arah perahu jukung berbahan fiber yang sudah saya sewa.

Memancing Ikan dengan Cara Tradisional di Pelabuhan RatuMenyiapkan umpan sebelum memancing. (Foto: CNN Indonesia/Tri Wahyuni)

Melihat pantai dari arah lautan memang memberikan kesan yang berbeda. Ombak yang terkesan besar dari arah pantai, tidak menunjukkan keganasannya jika dilihat dari lautan. Namun gelombangnya tetap membuat kapal mengalun kencang.

Dalam perjalanan menuju pantai Cimaja, saya melihat kontruksi bangunan Pesanggrahan Bung Karno di daerah Citepus. Bangunan seluas 1.500 meter persegi itu terbilang sederhana namun cukup kuat untuk meredam terjangan ombak, karena fondasinya didirikan di atas batu karang yang kokoh.


Setelah nyaris satu jam berputar-putar, kami pun beranjak menuju lokasi memancing yang berada di dekat Dermaga Baru Karang Sari dan Pesanggrahan Bung Karno.

Gober dan Ade mengajarkan saya metode memancing tradisional dengan menggunakan senar, pemberat, dan kail. Pertama-tama kami menyiapkan umpan yang telah disiapkan yaitu cumi-cumi.

Setelah dipotong memanjang dan dibersihkan, umpan tersebut dikaitkan ke kail yang berjumlah tiga buah. Setelah itu umpan dilemparkan ke area yang sudah dipilih oleh Ade.

Tidak ada alat lain selain perpaduan ketiga hal itu, metode ini benar-benar mengasah perasaan dan kesabaran.

"Nanti kalau udah kerasa ada yang narik-narik, langsung angkat," ujar Gober.

Mungkin terdengar sederhana, namun pada praktiknya sulit bukan kepalang. Masalahnya adalah harus bisa membedakan mana tarikan ikan dan mana yang terseret ombak.

Setelah setengah jam berlalu, saya tidak menghasilkan apa-apa selain memberi makan ikan dengan cuma-cuma karena umpan yang sudah tidak tersisa.

Sedangkan Gober berhasil mendapatkan dua ekor ikan ekor kuning, meskipun ukurannya tergolong kecil namun cukup menggembirakan perasaan kami yang haus akan hasil tangkapan.

Tidak lama berada di sana, Ade mengarahkan kami untuk berpindah lokasi. Benar saja di lokasi baru yang dipilih Ade, ikan ekor kuning jauh lebih besar dan banyak. Saya pun akhirnya berhasil mendapatkan seekor ikan ekor kuning, rasanya sangatlah menyenangkan.

Memancing Ikan dengan Cara Tradisional di Pelabuhan RatuIkan hasil tangkapan dengan metode memancing tradisonal. (Foto: CNN Indonesia/Tri Wahyuni)

"Biasanya di sini tempatnya Kakap dan Kue, tapi kayanya tinggal ekor kuning yang masih melek," kata Ade sembari bercanda.

Laut dan Tradisi

Selain menjadi titik tolak wisata memancing, Pantai Pelabuhan Ratu juga terkenal dengan adat pesta laut, yaitu melarungkan kepala kerbau dan sesaji lainnya ke tengah laut. Tradisi ini diselenggarakan oleh para nelayan setempat setiap tanggal 5 April.

Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas anugerah yang telah diberikan berupa hasil tangkapan ikan. Acara pesta laut ini biasanya disertai pula dengan berbagai kegiatan seperti bakti sosial, lomba-lomba, dan pementasan.

Wisata memancing mulai menggelora sejak 10 tahun terakhir. Tarif menyewa kapal bervariasi tergantung dari seberapa jauh jaraknya, biasanya berkisar antara Rp500 ribu sampai Rp2 juta per sekali jalan.

Gober, lelaki sudah nyaris 20 tahun menjadi nelayan, menuturkan waktu yang tepat untuk memancing adalah selain bulan Desember sampai April. Karena saat itu ombak sedang besar, sehingga jarang ada nelayan yang melayani pesanan untuk memancing.

Memancing Ikan dengan Cara Tradisional di Pelabuhan RatuTak hanya dengan cara tradisonal, banyak pula warga atau wisatawan yang memancing dengan peralatan memancing modern. (Foto: CNN Indonesia/Tri Wahyuni)

"Sebenernya kalau buat kami sih ombaknya gak terlalu besar, tapi kan keselataman tamu kami utamakan. Meskipun ada juga tamu yang nekat, tapi kami terpaksa gak melayani. Daripada kenapa-kenapa," ujar Gober.

Tak hanya wisata memancing, perahu milik Gober juga cukup sering disewa untuk wisata tadabur alam.

Biasanya, ia menuturkan, mereka yang melaksanakan tadabur alam pergi melaut selepas Isya. Kemudian selama semalam suntuk mereka solat dan berzikir di tengah lautan.

Jika mendapatkan tamu yang menyewa kapal untuk wisata tadabur alam, Gober tidak bisa menyetel lagu dangdut untuk menghilangkan penat. Namun aktivitas memancingnya tetap tidak bisa dihentikan.

(ard)