Celoteh Wisata

Curahan Hati para 'Penjaga' Pulau Filonga

Sahril Abdullah, CNN Indonesia | Minggu, 12/08/2018 10:44 WIB
Curahan Hati para 'Penjaga' Pulau Filonga Pulau Filonga di Provinsi Maluku Utara. (Foto: Dok. Fhayz Abd Salam)
Jakarta, CNN Indonesia -- Provinsi Maluku Utara tergolong kaya akan pulau-pulau kecil tak berpenghuni. Sejauh ini, setidaknya ada 797 pulau yang sudah diberi nama namun sebagian lainnya belum bernama, bahkan ada yang tak tercatat dalam peta.

Filonga adalah salah satu pulau mungil di antara ratusan pulau tersebut, yang kerap dikunjungi warga maupun wisatawan. Pulau seluas 1,1 kilometer persegi ini terletak di sebelah timur laut Pulau Tidore.

Dari Pelabuhan rakyat Kotamabopo, pulau tak berpenghuni ini dapat ditempuh dalam 15 menit menggunakan speedboat atau kapal cepat. Namun jika menggunakan katinting atau perahu bermesin, butuh waktu sekitar 30 menit untuk dapat menikmati keindahan Filonga.


Di pulau Filonga, orang bisa melakukan beragam aktivitas seperti berenang, memancing, menyelam, ata sekadar berjemur.

Ada dua titik selam di pulau Filonga yang menjadi primadona, yakni Filonga Point 1 dan 2. Meskipun sesungguhnya ada 27 titik selam lain di tempat ini.

Seorang penyelam Nasijaha Diving Center (NJDC), Adita Agoes, menuturkan kondisi tutupan terumbu karang di Filonga Point bisa mencapai 70 persen pada kedalaman 2 sampai 10 meter. Sedangkan pada kedalaman 10 sampai 30 meter tingkat tutupan karangnya 60 persen.

Sekelumit Kisah para Penjaga Pulau Filonga Kondisi terumbu karang di Pulau Filonga, Provinsi Maluku Utara. (Foto: Dok. Fhayz Abd Salam)

"Mostly sand, tapi ada wall juga," tutur Adita kepada CNNIndonesia.com, Kamis (9/8).

Sementara itu, di sekitar pulau yang didominasi pasir putih itu juga ditumbuhi terumbu karang jenis soft coral seperti sponge dan seafan. Sementara hard coral yang sering ditemui adalah foliose dan acropora.

"Sayangnya, makin banyak pengunjung justru makin rentan karang rusak. Ini karena banyak pengunjung yang awam dengan perawatan alam bawah laut," ungkap Rio Timara Alting, seorang penyelam Kotamabopo Batobo Club (KBC).

Upaya konservasi

Sebagai satu-satunya diving center di Tidore, KBC merasa memiliki tanggung jawab besar menjaga Filonga, baik darat maupun bawah airnya.

Terlebih tak ada satu pun pihak yang secara resmi mengelola pulau seluas 1,1 kilometer persegi itu, termasuk Pemerintah Tidore Kepulauan.

Sekelumit Kisah para Penjaga Pulau Filonga Salah satu spot menyelam favorit di Pulau Filonga. (Foto: Dok. Fhayz Abd Salam)

Sehingga ada beberapa oknum pengunjung yang datang dan bersikap seenaknya.

"Kami sudah pernah mempresentasikan masa depan pariwisata selam di Tidore, termasuk Filonga. Tapi pemerintah kurang responsif. Janji memasang jembatan apung di pulau ini saja sudah lama diwacanakan tapi tidak pernah terealisasi," kata Rio.

Konservasi karang adalah salah satu cara KBC menjaga kelangsungan ekosistem bawah laut di Filonga, maupun Tidore pada umumnya.

Dari Pantai Kotamabopo, Pulau Maitara, Pulau Mare, hingga Pantai Akesahu, semuanya telah mendapat sentuhan kelompok ini.

"Kita lihat jika Filonga sudah membutuhkan tindakan konservasi, kami pasti turun tangan," kata Rio.

Upaya preventif lain menjaga pulau yang dikelilingi batuan raksasa itu adalah dengan 'mengamankan' sampah-sampah milik pengunjung. Rio yang nyaris tiap bulan mengantarkan tamu menyelam di sana kerap mendapati sampah yang ditinggal.

"Mau tidak mau harus kami bawa pulang (sampahnya). Tidak tega tinggalkan di sana," ujarnya.

Menjaga Filonga bukan sekadar menjaga kecantikannya, namun lebih dalam lagi yakni menyelamatkan populasi hiu sirip hitam (Carcharhinus limbatus), hiu sirip putih (Carcharhinus longimanus), dan penyu yang menjadi penghuni pulau itu.

"Keberadaan hiu dalam satu habitat adalah pertanda baik. Artinya di sana banyak ikan-ikan kecil juga yang merupakan makanan hiu ini," ulas Rio.

Sekelumit Kisah para Penjaga Pulau Filonga Menuju pulau Filonga dengan katinting. (Foto: Dok. Fhayz Abd Salam)

Adita menambahkan, pengelolaan Filonga bisa melibatkan kampung pesisir terdekat. Dengan begitu, masyarakat ikut diberdayakan dan memiliki sense of belonging terhadap Filonga.

Menurutnya ketika dikelola secara profesional, bersih, ada fasilitas alat keselamatan, tempat bersandar perahu, hingga toilet ramah lingkungan, para pengunjung yang datang tidak akan keberatan jika dibebani biaya. (agr/ard)