Mengenal Kejayaan Bahari Indonesia lewat Kapal Pinisi

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Jumat, 17/08/2018 11:46 WIB
Tujuh tiangnya merupakan simbol surat Al-Fatihah serta makna bahwa orang Indonesia harus mampu menaklukan tujuh samudera besar di dunia. Pembuatan Kapal Pinisi di Tana Beru, Sulawesi Selatan. (AFP PHOTO / YUSUF WAHIL)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa..."

Tak salah jika alm Ibu Soed menciptakan lagu 'Nenek Moyangku Seorang Pelaut'. Tentunya lagu tersebut bakal membakar semangat anak-anak Indonesia untuk terus menjadi negaranya yang dikelilingi perairan yang luas dan kaya.

Indonesia mungkin belum semodern negara-negara maju dalam hal teknologi. Tapi Indonesia ialah negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki 17.504 pulau.


Wisata bahari sudah pasti menjadi magnet kedatangan jutaan turis mancanegara ke Indonesia setiap tahunnya. Di sini mereka bisa surfing sampai menyelami dasar laut dari Sabang sampai Merauke.

Berbicara mengenai lagu 'Nenek Moyangku Seorang Pelaut' yang langsung terlintas di benak pasti wujud kegagahan Kapal Pinisi.


Kapal Pinisi yang berbahan kayu merupakan kreasi asli Suku Bugis dan Suku Makassar yang bermukim di Sulawesi Selatan. Masyarakat dua suku ini memang terkenal sebagai pelaut yang tangguh dan cekatan.

Menurut naskah kuno Lontarak I Babad La Lagaligo, kapal ini pertama kali dibuat pada abad ke-14 oleh Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu untuk berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai.

Sayangnya dalam perjalanan pulang kapalnya dihantam gelombang dan terbelah tiga ke perairan Desa Ara, Tanah Lemo, dan Bira. Masyarakat ketiga desa itu lalu membangun kembali kapal ini dan dinamakan Pinisi.

Merakit Kapal Pinisi butuh usaha dan dana yang tak sedikit. Ritual kuno juga ikut menyertai.


Pertama, ada hari baik untuk mencari Pohon Jati dan Pohon Meranti yang kayunya digunakan sebagai bahan pembuat kapal, yakni setiap tanggal 5 dan 7 setiap bulannya. Kedua angka tersebut berarti rezeki.

Sebelum pohon berusia tua itu ditebang, ada doa yang dirapalkan. Gunanya untuk mengusir roh penunggu pohon tersebut. Seekor ayam ikut dipotong sebagai simbol berserah diri untuk yang terbaik.

Kapal ini memiliki dua tiang layar utama dan tujuh layar tambahan. Dua tiang merupakan simbol kalimat syahadat dan tujuh tiang merupakan simbol surat Al-Fatihah serta makna bahwa orang Indonesia harus mampu menaklukan tujuh samudera besar di dunia.

Pembuatan Kapal Pinisi bisa berlangsung selama satu sampai dua tahun. Yang mengerjakan minimal sepuluh orang.

Satu kapal bisa berharga sampai milyaran rupiah, tergantung ukurannya.

[Gambas:Instagram]

UNESCO telah mengakui eksistensi Kapal Pinisi sebagai Warisan Tak Benda Dunia. Filosofi adat dan budaya dalam pembuatannya menjadi alasannya.

Hingga zaman berganti, Kapal Pinisi tetap menjadi moda transportasi yang sering digunakan untuk mengangkut orang dan barang dalam pelayaran antarpulau di Indonesia.

Di sejumlah destinasi wisata, kapal ini bahkan digunakan untuk mengangkut turis.

[Gambas:Instagram]

Beberapa operator wisata yang menyediakan wisata dengan Kapal Pinisi ialah Plataran Private Cruises, SongLine Cruises, dan Sea Safari Cruises.

Ketiga perusahaan tersebut memiliki rute pelayaran mulai dari Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Bali sampai Kepulauan seribu.

Plataran menawarkan paket berlayar sambil menikmati kuliner Indonesia.

Sementara SongLine Cruises dan Sea Safari Cruises menawarkan pelayaran dengan paket menyelam atau surfing.

Harga paket yang ditawarkan mungkin tak murah, namun pengalaman berwisata di atas Kapal Pinisi pasti sangat mengesankan.

(ard)