LANCONG SEMALAM

Berpetualang ke 'Destinasi Birahi' di Belanda

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Minggu, 19/08/2018 12:31 WIB
Berpetualang ke 'Destinasi Birahi' di Belanda Pemandangan kawasan De Wallen, Amsterdam, di malam hari. (AFP PHOTO / ANP / KOEN VAN WEEL)
Amsterdam, CNN Indonesia -- Bagi sebagian orang, kawasan prostitusi memiliki daya tarik tersendiri: kelap-kelip cahaya temaram, liukan dan tatapan para wanita penjaja kesenangan yang memiliki seribu makna, cerita mereka yang menggantungkan hidup darinya, hingga ketegangan kala menantang hukum dan norma.

Apalagi ketika menginjakkan kaki untuk pertama kali di Amsterdam, Belanda. Mana lagi lokasi yang terbersit di benak selain kawasan terkenal red light district alias 'Kramat Tunggak' Belanda?

Kawasan pelacuran di Belanda ini sudah dikenal seantero dunia sebagai daerah prostitusi terbesar dan tertua di peradaban manusia modern.


Prostitusi di Belanda sudah ada sejak abad ke-13 Masehi. Bermula dari berkembangnya pelabuhan Amsterdam kala itu, prostitusi muncul berupa wanita-wanita di dekat pelabuhan yang menemani para pelaut melepas lelah berlayar sembari minum-minum.

Kegiatan kesenangan duniawi itu semakin berkembang ketika masuk abad ke-14 Masehi. Kawasan jalan De Wallen, Singelgebied, dan Ruysdaelkade yang berada di tepi kanal yang terhubung dengan pelabuhan, lambat laut menjadi kawasan merah.

Prostitusi di Belanda juga pernah mengalami masa pencekalan hingga upaya mengekang kesenangan duniawi dengan menyantumkan ayat-ayat Bibel di sekeliling rumah bordil supaya para wanita penjaja dan pelanggannya tobat.

Nama 'red light' sendiri datang dari berkembangnya rumah bordil pada paruh kedua abad 18 Masehi. Para PSK dikumpulkan oleh germonya masing-masing di sebuah rumah yang terpasang lampu merah sebagai 'tanda' bagi pencari prostitusi.

Kini kawasan red light district terpusat di De Wallen, membentang seluas sekitar enam hektare berupa ratusan rumah bordil berjejer dan berhimpit dengan pintu kaca berisi seorang wanita di malam hari, siap menyambut para petualang birahi.

Perlu dicatat, hanya orang yang telah berusia 16 tahun ke atas yang boleh keluar masuk tempat yang menyediakan layanan birahi. Jika muka kelihatan muda, tak segan penjaga keamanan menanyakan kartu identitas. Kalu terbukti belum cukup umur, mereka tak segan mengusir. Bebas dan bertanggungjawab, begitu pikir saya.

Saya awalnya ditunjukkan kawasan ini oleh pemandu wisata saat menjajal wisata tur kanal di siang hari musim panas di Amsterdam pada beberapa pekan kemarin. "Sebelah kiri dan kanan adalah kawasan red light district," kata si pemandu.
Suasana red light district De Wallen.Suasana red light district De Wallen. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Bayangan akan kawasan prostitusi yang kumuh, rumah bedeng dari triplek yang ada bolong di sana-sini, bau apek sedikit anyir, dan banyak preman seperti di Indonesia mendadak sirna.

Kawasan ini berpanorama cantik dengan kanal di tengah jalan berisi air mengalir. Sebenarnya ini mengingatkan akan Kali Sentiong di Kemayoran, namun tanpa bau busuk, air berwarna hitam, dan sampah yang bikin jijik.

Rumah-rumah dari bata merah dengan arsitektur kuno Belanda berjejer rapi. Sesekali plang 'sex shop', 'live show', dan 'hotel' terpajang. Namun itu tak mengurangi keindahan kawasan ini, apalagi langit biru di siang hari musim panas amat mendukung membuat foto Instagram yang apik.

Tapi petualangan itu hanya sekelebat. Tak banyak yang bisa diamati bila perahu yang ditumpangi melaju dengan lancar. Banyak orang lokal yang nongkrong di tepi kanal di red light district, entah menikmati angin sejuk semilir, nge-gele, hingga cipokan tanpa sungkan.

Saya akan menjajal tempat ini di malam hari, batin saya kala itu.

Matahari di Amsterdam tenggelam kala jam menunjukkan pukul 21.30. Horison jingga sudah mulai beranjak pergi. Pukul 22.00 tepat saat bulan dan bintang sudah menguasai langit, saya mulai menyusup keluar dari hotel, meninggalkan teman-teman dan memaksa raga tropis ini melawan angin dingin Amsterdam yang menggigit.

22.00 - Mulai Berpetualang

Google Maps membantu para pelancong amatir di Amseterdam menemukan De Wallen. Ternyata tak perlu pergi dengan kendaraan. Menurut teknologi penunjuk arah itu, hanya perlu 10 sampai 15 menit berjalan kaki dari hotel saya yang terletak di kawasan Singel.

Kawasan De Wallen terletak di jantung Amsterdam, berdekatan dengan Dam Square yang merupakan 'alun-alun' ibu kota Belanda ini. De Wallen muncul sekitar tahun 1270, bersamaan dengan berkembangnya Damrak di utara Dam Square sebagai pelabuhan.

Damrak merupakan kawasan yang berdiri di sekitar kanal dan bendungan Sungai Amstel, sungai cikal bakal Amsterdam. Kawasan bendungan yang dibuat agar Amsterdam tidak banjir ini kemudian menjadi daerah sandaran kapal-kapal.
Keramaian wisatawan kala mengunjungi red light district De Wallen, Amsterdam.Keramaian wisatawan kala mengunjungi red light district De Wallen, Amsterdam. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Dahulu mungkin Damrak berisi dengan toko-toko untuk keperluan para nelayan dan rumah-rumah penduduk. Kini, kawasan itu lebih banyak berisi toko yang setiap musim liburan akan memasang tanda 'SALE' atau 'rabaat' besar di etalasenya.

Beberapa blok yang saya lalui di kawasan Damrak juga berisi restoran khas dari negara tertentu, namun yang paling banyak saya temui berasal dari Argentina.

Hal ini menjadi wajar, mengingat reputasi makanan Argentina yang baik di mata orang Belanda sejak 1981.

Selain itu fakta bahwa Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti, permaisuri dari Raja Belanda saat ini, Willem-Alexander, lahir di Buenos Aires, Argentina, turut mendukung merebaknya restoran khas negara Amerika Selatan tersebut.

Bila Anda memutuskan untuk berjalan-jalan di Amsterdam, pastikan selalu waspada akan pengguna sepeda. Selayaknya pengguna sepeda motor di Jakarta, pengendara sepeda di kota ini cukup banyak, tak begitu peduli dengan pejalan kaki, dan sebagian besar dari sepeda tak memiliki rem.

22.20 - Masuk Jantung De Wallen

Saya sebenarnya sudah menginjakkan kaki di kawasan De Wallen saat menjejak lahan Monumen Nasional di Dam Square dan menyusuri Damstraat yang berisi banyak kafe dan restoran.

Namun saya perlu berjalan lagi melewati kanal di Oudezijds Voorburgwal yang sempat saya susuri melalui perahu, dan melewati jalan Oude Doelenstraat untuk tiba di tujuan saya: jantung De Wallen dan Red Light Secret Museum of Prostitution.

Saya pun berbelok masuk Oudezijds Achterburgwal, jantung De Wallen. Di jalan tepi kanal ini, kendaraan dilarang masuk. Jalan hanya boleh untuk pejalan kaki dan sepeda.

Suasana jalan ini remang. Cahaya hanya datang dari lampu jalan di tepi kanal yang juga ogah-ogahan menyala dan beberapa lampu pelang nama di dinding bangunan.

Jalanan dari konblok yang tak rata, ditambah pencahayaan yang minim bagi mata miopi saya, sempat membuat kaki tersandung.

Di kawasan ini, selain prostitusi, juga tersebar kafe kanabis. Kafe tersebut bukan menjual makanan atau minuman dari ganja, melainkan hanya lokasi legal untuk menikmati ganja sembari makan atau minum.

Bahkan ada Hash Marihuana and Hemp Museum di jalan ini. Museum itu berisi berbagai pertunjukan sejarah serta budaya menikmati ganja dari berbagai daerah di dunia.

Saya tak ke museum tersebut mengingat sudah tutup pada pukul 22.00. Tapi rasanya saya tak perlu masuk museum untuk akrab dengan ganja. Sepanjang jalan aromanya sudah cukup memuaskan hidung.

Saya pikir suasana lengang adalah ciri khas kawasan ini. Ternyata saya salah. Saya menemukan keramaian, yang tak saya duga, hanya beberapa puluh meter setelah museum kanabis.
Pengunjung antre masuk Casa Rosso di red light district De Wallen, Amsterdam.Pengunjung antre masuk Casa Rosso di red light district De Wallen, Amsterdam. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Sebuah bangunan bercat hitam dengan pintu masuk gapura ala Romawi plus gambar gajah merah muda di atasnya membuat saya terpana. "Theatre Casa Rosso" bunyi tulisan di atas pintu masuk bangunan itu.

Bukan bangunannya yang membuat saya berhenti, melainkan antrean orang menunggu giliran untuk masuk. Saya melihat sekeliling, poster berisi beberapa pria dan wanita bugil dengan pose aneka gaya hubungan intim terpampang jelas di samping pintu masuk.

Orang-orang tersebut, pasangan lawan atau sesama jenis ataupun sendirian, mengantre untuk menoton pertunjukan seks yang dilakukan secara langsung. Biaya untuk menikmati pertunjukannya sekitar 55 euro (sekitar Rp923 ribu) sekali masuk dan mendapatkan dua minuman.

Casa Rosso merupakan wahana yang banyak direkomendasikan bila Anda ingin datang ke red light district. Pertunjukan di dalamnya memang berisi pemain yang bugil dan adegan seks, namun tidak seperti film porno.

Ada sembilan pertunjukan yang dihadirkan sepanjang malam, dan pengunjung boleh memilih dan selama yang ingin mereka saksikan.

Beberapa pengunjung mengatakan pertunjukan live sex di tempat ini seperti Broadway, kadang lucu, kadang membosankan. Dengan kata lain, pertunjukan teater namun bernuansa seks dan bugil.

"Sodom dan Gomorrah," batin saya melewati tempat itu.

22.30 - Museum

Perjalanan menuju Red Light Secrets tak butuh waktu lama sebenarnya, bila kerumunan manusia yang mengisi setiap inchi konblok jalan red light district ini tak begitu ramai. Ramainya kawasan ini mengingatkan Tanah Abang Blok A jelang Lebaran.

Tak semua orang memadati rumah bordil. Banyak juga yang melihat-lihat, berhenti memandang sebentar, lalu jalan lagi. Sebagian memutuskan untuk kongko di tepi kanal sembari menghisap ganja atau tembakau.

Museum yang saya tuju akhirnya terlihat. Bentuknya hanya sebuah rumah, karena memang museum ini dibangun di bekas rumah bordil tempat kerja seorang pelacur ternama di kawasan, Annie.

Annie ditemukan tewas pada malam 31 Desember 1956. Ia ditemukan tak bernyawa di balik sebuah selimut, bugil, dan ada bekas cekikan di lehernya. Polisi tak bisa menemukan pelaku yang menewaskan pelacur asal Belanda itu hingga kini.
Museum prostitusi Red Light Secrets di De Wallen, Amsterdam. Museum prostitusi Red Light Secrets di De Wallen, Amsterdam. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Kini lokasi pembunuhannya dibangun sebuah museum yang berisikan berbagai koleksi, diorama, hingga berbagai aksesori berkaitan dengan red light district dan dunia prostitusi. Bahkan Anda bisa merasakan menjadi sosok pelacur, dengan duduk di kursi dan membiarkan orang melihat Anda dari balik pintu kaca.

Biaya tiketnya 12,5 Euro (sekitar Rp208 ribu) per orang. Namun bila Anda beruntung, kadang ada diskon sebesar 3,5 Euro (sekitar Rp58 ribu). Museum ini buka dari pukul 10.00 hingga 24.00.

Minat turis melihat dunia prostitusi dari dalam ternyata cukup tinggi. Ini terlihat dari cukup panjangnya antrean masuk museum. Tapi itu terbayar dengan banyaknya informasi dan rahasia di balik red light district.

23.45 - Intip "teater dewasa"

Puas melihat museum, saya memutuskan untuk melihat pertunjukan lainnya. Live sex.

Tak jauh dari museum, sebuah bangunan hitam dengan lampu neon berwarna-warni terlihat mentereng di temaramnya kawasan red light district. 'Sex Palace' atau 'Peep Show' adalah beberapa kata yang menandakan tempat bisnis itu.

Sex Palace menawarkan hal yang tak jauh berbeda dari Casa Rosso, namun dengan harga yang amat miring. Hanya 2 Euro (sekitar Rp33 ribu) per orang untuk sekali menonton. Maka tak heran, banyak turis yang ingin memuaskan birahinya dengan dana terbatas memadati bangunan ini.

Begitu saya masuk ke dalam, ada sebuah ruangan lobi yang dipadati pengunjung. Mereka antre untuk masuk ke beberapa pintu bernomor yang berjejer bak memutari suatu aula.

Di antara pintu bernomor itu, ada sebuah poster berisi tujuh foto, enam berupa wanita bugil berpose seksi, dan satu pasangan pria-wanita, yang sudah ditandai masing-masing dengan nomor. Para model itulah penampil malam ini.

Di sisi lain, tak jauh dari pintu, ada sebuah mesin ATM dengan berbagai lambang layanan pembayaran internasional. Mesin ini hanya mengeluarkan uang dalam bentuk koin Euro.

Bagi mereka yang ingin menonton 'peep show' memang harus menyediakan koin pecahan 2 Euro (sekitar Rp33 ribu) atau 1 Euro (sekitar Rp16 ribu). Bila tak punya, ATM tersedia.

Tak ada hubungannya antara nomor pintu dengan nomor penampil. Semua pintu, yang berjumlah tujuh, serempak menunjukkan satu penampilan. Tinggal keberuntungan Anda membawa penampil nomor berapa.

Saya sudah menyiapkan dua koin masing-masing 2 Euro, ancang-ancang melihat sekali saja tak puas. Maka saya memilih pintu nomor tujuh karena tak banyak antrian.

Pintu itu ternyata menutup sebuah bilik bercahaya remang dan sempit. Kira-kira berukuran 70 x 70 sentimeter. Usai di dalam saya menutup pintu.

Sebuah kaca mirip layar buram terpasang berukuran 40 x 40 sentimeter. Di bagian bawah kanan kaca itu, ada lubang koin dan layar kecil untuk menunjukkan jumlah Euro yang dimasukkan.

Baiklah, saya masukkan 2 Euro. Begitu mesin sudah mengenali uangnya, lampu padam dan datang kegelapan, layar buram mendadak hilang dan berganti sebuah pemandangan erotis.
Bagi yang ingin menikmati pertunjukan bugil, Sex Palace menawarkan dengan harga miring.Bagi yang ingin menikmati pertunjukan bugil, Sex Palace menawarkan dengan harga miring. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Seorang wanita yang tampaknya sudah setengah baya berambut hitam, bugil, menari erotis di tengah sebuah ruangan. Ruangan itu dikelilingi tujuh kaca, dengan beberapa tampak manusia di dalamnya, menonton sang penampil.

Hanya satu yang tak ia tunjukkan, daerah kewanitaannya. Panggung tempat ia tampil bergerak memutar, memastikan seluruh pengintip mendapatkan jatah pertunjukan.

Tiba-tiba si penampil berdiri, mendatangi sebuah jendela dan mengetuk. Rupanya ia menegur si pengintip yang tak menutup pintu.

Oh iya, merekam dalam jenis apapun juga dilarang. Jangankan saat menonton pertunjukan, berfoto di lobi pun tak boleh. Pihak keamanan bisa segera mengetahui dan ada hukuman tersendiri mengingat pekerjaan prostitusi ini dilindungi hukum Belanda.

Usai menegur, si penampil berjalan keliling. Kadang menggoda yang mengintip di balik jendela. Setelahnya, ia keluar di salah satu pintu dan muncul seorang wanita berambut pirang, usia sekitar 30-an, agak sintal, mengenakan lingerie berenda berwarna pink.

Si wanita pirang ini tampaknya mengetahui kegairahan penonton di balik bilik mendapatkan penampil yang lebih muda, lebih segar. Ia lalu membentangkan kain alasnya di panggung.

Ia berpose sembari panggung memutar lalu merebahkan diri. Layar tiba-tiba buram dan lampu bilik menyala.

Sial! Koin saya habis. Sudah sekitar 10 menit saya menonton pertunjukan itu rupanya. Saya otomatis merogoh kantong, mengeluarkan sebuah koin 2 Euro terakhir. Pertunjukan dimulai lagi.

Si penampil berambut pirang melakukan gerakan yang tak jauh berbeda dengan penampil pertama. Setelah itu, ia melepas kain terakhir yang menempel di tubuhnya.

Ia bangkit dan berkeliling. Pikiran iseng saya muncul. Saya mencoba menarik perhatiannya dengan cara mengetuk jendela dan memberikan isyarat untuk mendekat. Ia sadar dan mulai bergerak ke arah saya. Layar saya mendadak penuh pemandangan daerah perutnya.

Ia lalu berpegangan pada sebatang besi yang terpasang di atas jendela saya. Sesekali membungkuk, menengok saya, dan mengedipkan mata dengan genit sembari tersenyum nakal. Bilik saya mendadak terasa gerah.

Ternyata cara saya diikuti penonton yang lain. Mendadak si wanita pirang itu banyak panggilan.

Lama kelamaan ruangan ini sudah kelewat sumpek dan saya mulai pusing, butuh lebih banyak udara segar.

01.00 - Keliling De Wallen

Lumayan, total 6 Euro (sekitar Rp100 ribu) untuk pertunjukan "teater dewasa" sekitar 30 menit.

Usai dari sana saya memutuskan berkeliling red light district. Mencoba menembus keramaian yang seolah tak sadar waktu sudah dini hari, udara semakin dingin.

Sesekali, aroma pesing muncul. Ternyata bau itu datang dari bilik kencing yang terdapat di tepi kanal. Bilik berupa tabung dan setinggi dua meter itu merupakan tempat orang pipis, namun tanpa air untuk membilas.

Sekitar 60 sentimeter bagian bawah bilik itu pun tak berpenutup dengan tujuan agar mengetahui bila ada orang di dalamnya. Sehingga sudah dipastikan yang bersedia untuk mampir dan buang hajat di situ adalah kaum Adam. Tapi saya memilih menahan kencing alih-alih ikut nimbrung di tabung pesing itu.
Para PSK menjajakan diri melalui pintu berkaca di red light district De Wallen, Amsterdam.Para PSK menjajakan diri melalui pintu berkaca bercahaya merah di red light district De Wallen, Amsterdam. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Perjalanan saya pun sempat terhenti di sejumlah rumah bordil yang menonjolkan pintu etalasenya. Disinari cahaya merah dari neon yang terpasang sepanjang tepi pintu, para wanita ini menjajakan diri.

Beberapa duduk anteng, seolah tak sadar bila diamati ribuan pasang mata. Beberapa yang lain mencoba atraktif, mulai dari mengirim 'sun' ke laki-laki yang dianggap potensial jadi pelanggan, menggoda, berpose sensual, hingga sengaja membenarkan bra dan pakaian mininya.

Tapi sebagian lain cuek, ada yang main ponsel, dandan, hingga beres-beres.

Sejumlah wanita penjaja juga memamerkan keunikannya. Ada yang berpakaian dengan leather atau kulit bagi mereka yang leather fetish, ada yang sudah siap dengan atribut bondage, ada pula berkostum ala anak sekolah, pun ada yang berusaha menarik perhatian dengan teknologi terbaru: bra dan celana dalam yang berpendar dalam gelap.

Mungkin bagi sebagian orang, melihat para pelacur menjaja di balik pintu kaca seperti etalase di Amsterdam ini sebagai keunikan. Namun kisah di balik pintu itu cukup panjang.

Etalase pelacur yang khas dari daerah ini bermula pada abad ke-19. Kala itu pemerintah Belanda berusaha mengekang para PSK dengan cara melarang mereka nongkrong di luar pintu rumah bordil dan hanya boleh menggoda pelanggan dari balik jendela.

Seiring dengan berjalannya waktu, jendela tersebut berevolusi menjadi pintu kaca yang difungsikan sebagai etalase tempat para pelacur menjajakan diri.

Bila Anda berminat untuk menikmati pelayanan dari para penjaja seks ini, maka setidaknya Anda harus menyediakan uang 50 Euro (sekitar Rp840 ribu) untuk momen intim bersama mereka.

Bila menginginkan yang lebih, maka itu tergantung pada penawaran harga dari pelanggan dan kesediaan sang penjaja, seperti ketika saya tak sengaja mendengar seorang pria keturunan Afrika menawar seorang penjaja dengan harga 100 Euro (sekitar Rp1,6 juta).

Namun bukan berarti dengan membayar pelanggan bisa bertindak sesuka hati.

Sejumlah norma telah ditetapkan bagi pelanggan maupun pengunjung kawasan De Wallen, seperti: dilarang memfoto para PSK, jangan menyentuh jendela, menghargai perempuan, jangan mengintip celah pintu, jangan berdiri di depan pintu, bayar di awal dan diskusikan mana yang boleh dan tidak dilakukan, selalu gunakan kondom, menjaga kebersihan, jangan memaksa apalagi menggunakan kekerasan.
Replika 'ruang kerja' para PSK di red light district De Wallen yang dipamerkan di Red Light Secrets Museum, Amsterdam.Replika 'ruang kerja' para PSK di red light district De Wallen yang dipamerkan di Red Light Secrets Museum, Amsterdam. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Karena biaya untuk menikmati pelayanan para penjaja seks ini tak murah, maka seringkali pengunjung De Wallen hanya melihat-lihat dan memandang dari seberang pintu. Seperti yang beberapa kali saya temukan, pria usia 20-an memandang para penjaja ini cukup mendalam, kadang malah terlihat terbengong-bengong.

Para wanita yang bekerja di De Wallen ini memang tergolong amat beragam dan banyak yang rupawan, pun memiliki tubuh yang terawat bak pemain film porno.

Kawasan De Wallen juga bukan hanya untuk mereka yang heteroseksual. Sejumlah rumah bordil tersedia untuk kelompok LGBTQ+. Biasanya, rumah bordil ini tertandai dengan bendera kebanggaan LGBTQ+, rainbow flag, baik menggantung di atas etalase atau pun dari ornamen rumahnya.

Tapi saya belum menemukan etalase yang berisi laki-laki tampan nan berotot menjajakan diri bagi para pelanggan homoseksual. Kebanyakan yang saya temukan justru amat tertutup. Rumah bordilnya tak memiliki etalase. Lebih mirip gay bar sebenarnya. Padahal, tercatat ada 3.000 pelacur lanang di Belanda.

Namun pada suatu blok di tengah padatnya De Wallen, saya terkejut dengan seorang penjaja berdandan seperti wanita yang berpose sensual di sebuah etalase. Riasannya amat feminin, cenderung drag queen.

Dan tebakan saya tepat, etalase tersebut berisi penjaja waria.

02.30 - Perjalanan Pulang

Setelah memutuskan untuk mencari toilet untuk melepas hajat kecil dengan bayaran 2 Euro, saya memutuskan kembali ke hotel.

De Wallen masih ramai dini hari itu, baik bagi mereka yang sengaja mencari kehangatan di balik pintu rumah bordil, atau mereka yang seperti saya: penasaran dengan kawasan prostitusi legendaris di peradaban manusia itu.

Butuh waktu agak lebih lama untuk bisa menemukan kembali jalanan utama yang saya lewati di awal mengunjungi De Wallen. Ada sekitar 300 rumah bordil yang saling mengelompok membentuk blok-blok dan gang bak labirin.

Selain itu, masih banyak pintu-pintu kaca dengan lampu merah yang menyala tersebar di De Wallen. Saya rasa butuh lebih dari lancong semalam untuk menyusuri gang-gang kawasan prostitusi seluas lebih dari 6.000 meter persegi ini.

Tapi bukan cuma rumah bordil, sex shop, sex live theatre, atau kafe di De Wallen. Di sejumlah rumah yang saya lewati, ada pula museum, toko unik khusus kondom yang berisi aneka macam bentuk kondom, juga penginapan budget seperti AirBnB.

Udara dingin Amsterdam dan kerinduan kehangatan di balik selimut menemani benak saya meninggalkan 'Sodom dan Gomorrah' era modern itu dengan riwayat sejarah panjangnya, sekaligus mengingatkan saya bahwa prostitusi adalah profesi tertua dalam sejarah umat manusia.

(ard/asa)