Melanglang Malta, Negeri Mungil di Tengah Mediterania

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Rabu, 22/08/2018 22:13 WIB
Berada di tengah Mediterania, Malta yang hanya berjarak 80 kilometer dari Italia menyajikan banyak hal menarik untuk dijelahi para pelancong. Berada di tengah Mediterania, Malta yang hanya berjarak 80 kilometer dari Italia menyajikan banyak hal menarik untuk dijelahi para pelancong. (CNN Indonesia/Christine Nababan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Udara hangat menyambut saat saya mendarat di Bandara Internasional Malta, satu-satunya bandara milik negara seluas 316 kilometer persegi tersebut. Hari itu, Sabtu, pekan ketiga Juli 2018, suhu udara di Malta menunjukkan level terhangatnya, mencapai 34 derajat celsius.

Menurut Luqa Weather Averages, puncak musim panas Malta memang jatuh pada Juli-Agustus. Pada bulan-bulan itu, temperatur udara terendah berada pada level 28 derajat celsius saat malam hari dan 34 derajat celsius jelang pagi hingga malam hari.

Pun demikian, udara Malta yang kelewat hangat tak menyurutkan langkah saya untuk melanglang di negara kepulauan yang terletak 80 kilometer dari selatan Italia dan 284 kilometer dari Tunisia tersebut.


"Silakan pakai sabuk pengaman Anda," ujar pengemudi taksi bandara.

Saya mengangguk.

Seketika sang sopir menginjak pedal gas dan melaju ke tempat penginapan yang cuma berjarak sekitar 18 kilometer dari bandara.

Di sepanjang perjalanan, saya disuguhi oleh pemandangan arsitektur khas Mediterania kuno dan bangunan dengan desain relief nan kompleks. Langit biru pun menambah elok pemandangan di negara berpenduduk 475 ribu jiwa itu.

Berselang 25 menit, sang sopir menyelak, "Anda telah tiba di St Paul's Bay."

Saya memang memilih St Paul's Bay untuk menikmati Malta selama lima hari ke depan. St Paul's Bay merupakan satu dari 68 wilayah (dewan kota) di Malta.

Dari 68 wilayah itu, 54 di antaranya terletak di Pulau Malta, pulau utama negara ini, dan 14 lainnya di Pulau Gozo yang merupakan pulau kedua Malta.

Namun, jangan membayangkan wilayah-wilayah tersebut seluas Jakarta, Bandung, atau Cirebon ya! Karena, luas Malta sebagai negara bahkan tak sampai separuh dari Jakarta.

Ibu kota Malta sendiri, Valetta, hanya seluas 800 meter persegi. Anda hanya butuh waktu kurang dari satu jam untuk menjelajahi setiap sudut Valetta. Tidak heran apabila Valetta dijuluki sebagai ibu kota terkecil dibanding ibu kota negara-negara lainnya di Uni Eropa.

Melanglang Malta, Negeri Mungil di Tengah MediteraniaPemandangan di sekitar Valetta, ibu kota Malta. (CNN Indonesia/Christine Nababan).

Destinasi 'Asing'

Bagi pelancong dari Asia, nama Malta mungkin tak terlalu populer. Tak sedikit bahkan yang mengernyitkan dahi ketika mendengar sebuah negara yang letaknya persis di tengah Laut Tengah (Mediterania) ini.

Namun bagi kebanyakan warga Eropa, Malta adalah destinasi salah satu destinasi favorit untuk liburan singkat atau sekadar menghabiskan akhir pekan.

Melanglang Malta, Negeri Mungil di Tengah Mediterania (EMBG)St Paul's Bay, satu dari 68 dewan kota Malta. (CNN Indonesia/Christine Nababan).

Maklumlah, dibanding negara-negara Uni Eropa lainnya, Malta terkenal beriklim hangat. Rata-rata suhu udara di Malta sekitar 23 derajat celsius. Pada puncak musim dingin, yakni Januari, temperatur Malta 'hanya' berkisar 12 - 18 derajat celsius. Ini berbeda dengan kebanyakan negara Eropa, misalnya saja Italia, negara tetangganya yang bisa mencapai minus di beberapa wilayahnya ketika musim dingin.

Selain itu, menarik mengetahui sejarah dan budaya negara Malta yang ternyata banyak diwariskan dari suksesi kekuasaan Arab, Spanyol Prancis, dan Inggris. Bagi warga asing seperti saya, bahasa nasional mereka, yaitu Maltese, agak terdengar seperti turunan bahasa Arab. Meski demikian, bahasa resmi yang diakui pemerintah setempat adalah bahasa Inggris.

Malta sendiri menjadi negara republik pada 1974, 10 tahun setelah merdeka dari Inggris. Negara ini baru bergabung dalam Uni Eropa pada 2004.

Sejarah panjang tentang warisan Kristen dan Keuskupan Agung tercatat di Malta setelah tersiar kabar yang mengklaim bahwa Rasul Paulus terdampar di negara ini.

"Malta adalah tujuan wisata populer bagi saya dan orang-orang Inggris lainnya. Tidak hanya tentang pulau dan pantai, Malta juga menawarkan monumen bersejarah warisan dunia, seperti Hypogeum of Hal Saflieni dan tujuh situs megalitik tua," terang Maddox Manfred, turis asal Inggris yang saya temui di Valetta.

Jelajah Malta 5 Hari

Sebetulnya, ada banyak tempat bersejarah dan atraksi yang wajib masuk daftar Anda selama berpelesir ke Malta. Setidaknya ada 179 landmark yang bisa Anda kunjungi, 185 jenis aktivitas luar ruangan dan olah raga air yang bisa dilakukan, dan masih banyak lagi.

Namun, saya membatasi lima hari kunjungan dengan singgah ke beberapa tempat. Hari pertama, karena alasan waktu yang singkat, saya memutuskan untuk mengelilingi wilayah tempat saya menginap, Mosta Road, St Paul's Bay.

Hanya berjalan kaki 700 meter dari Mosta Road ke Buggiba, pusat keramaian di St Paul's Bay, Anda bisa menikmati pelabuhan dan pantai. Ada ratusan kapal bersandar di pelabuhan ini, menyuguhkan pemandangan yang sangat cantik. Apalagi, selama musim panas, mentari bersinar terang benderang hingga pukul 8 malam.

Melanglang Malta, Negeri Mungil di Tengah Mediterania (EMBG)Pemandangan di Buggiba, St Paul's Bay. (CNN Indonesia/Christine Nababan).

Tak jauh dari Buggiba, berjarak sekitar 300 meter, Anda akan melihat pusat keramaian St Paul's Bay. Di sini, banyak restoran dan bar berjejer, termasuk swalayan. Pesan saya, makan lah di saat jam makan siang dan makan malam, yakni sekitar pukul 11-14 dan pukul 18-22. Atau, Anda akan kecewa mendapati seluruh restoran tutup pada pukul 15-18.

Berlanjut ke hari berikutnya, saya memutuskan untuk melakukan tur seharian ke Mdina, Mosta Church dan Mosta Dome, dan Ta Qali Crafts Village. Mdina merupakan kota benteng yang dulunya pernah menjadi ibu kota Malta. Di sini, Anda akan menjelajahi jalan-jalan sempit dengan panorama laut.

Kemudian, saya mampir ke kota kecil Mosta, dengan tujuan utama Gereja Mosta, yang kubahnya disebut-sebut sebagai salah satu kubah gereja terbesar di dunia.

Lalu, saya singgah di Ta Qali Crafts Village, dusun yang disulap dari lokasi pangkalan udara Perang Dunia II menjadi markas para pengrajin. 

Di kampung yang terletak di pinggiran Attard dan hanya berjarak beberapa kilometer dari Mdina dan Rabat ini, Anda akan melihat aktivitas para pengrajin yang tengah membentuk kaca, perhiasan, termasuk berbagai jenis kerajinan dan artefak, dan patung.

Tak cuma melihat-lihat, Anda juga dapat membawa pulang hasil kerajinan dari kampung ini dengan merogoh kocek beberapa euro.

Jika Anda merasa sedikit bosan berjalan-jalan, Anda bisa bergeser ke Museum Penerbangan Malta yang letaknya berdekatan dengan kampung ini. Kemudian, apabila Anda lelah berjalan-jalan, Anda bisa bersantai di Taman Nasional Ta'Qali setempat. Ada juga stadion nasional, dan pasar sayuran.

Menariknya, tidak ada tiket yang harus dibayar untuk mengunjungi Ta Qali Craft Village. Ya, gratis. Namun, harap diingat, berkunjung ke kampung ini cuma diperbolehkan  pada pukul 09.00-16 Senin hingga Jumat, dan pukul 09.00-12.00 pada Sabtu dan Minggu.

Melanglang Malta, Negeri Mungil di Tengah MediteraniaPemandangan di Comino Island, Malta. (CNN Indonesia/Christine Nababan).

Di hari ketiga, saya berlayar ke Pulau Gozo, Comino, dan Blue Lagoon. Untuk melakukan tur ini, saya harus menyewa jasa biro perjalanan untuk bergabung dengan pelancong lainnya dalam kapal bermuatan sekitar 100 penumpang.

Biayanya boleh dibilang relatif murah. Pasalnya, dengan 22 euro atau setara Rp363 ribu (kurs Rp16.500 per euro), Anda akan diboyong berwisata sekaligus ke dua pulau, berenang di Blue Lagoon yang menjadi ikon wisata Malta, dan makan minum sepuasnya selama di kapal.

Di hari keempat, saya melakukan tur empat pantai di Malta, yakni Ghajn Tuffieha, Golden Bay, Mellieha Bay, dan Imgiebah Bay. Beruntung, karena lokasi pantai ini berdekatan satu dengan yang lain.

Bahkan, dari Ghajn Tuffieha ke Golden Bay, Anda bisa berjalan kaki sejauh 600 meter. Kedua pantai ini sama-sama memiliki pasir berwarna kuning keemasan. Namun, yang ditawarkan keduanya sangat berbeda jauh.

Jika berlabuh di Ghajn Tuffieha, pastikan Anda memiliki waktu sedikitnya dua jam untuk berkeliling. Menarik karena pantai ini menawarkan beberapa spot berenang tersembunyi di balik bukit. Anda hanya perlu menanjak setinggi 100 meter dan melihat pantai lainnya. Bahkan, jauh dari hiruk pikuk.

Kemudian, pantai lainnya, yakni Mellieha Bay merupakan pantai pasir terbesar di Malta. Di pantai ini, pengunjung juga bisa belajar berselancar. Tidak jauh dari sana, Anda bisa mengunjungi Imgiebah Bay, pantai yang berukuran lebih kecil nan tenang.

Beruntung, Malta memiliki transportasi publik yang cukup baik. Sehingga, tak sulit untuk mencapai pantai-pantai tersebut menggunakan bus umum. Anda cuma perlu merogoh kocek 2 euro untuk bisa membeli tiket bus umum. Yang lebih mengasyikkan, tiket bus yang Anda bayar itu berlaku selama dua jam dan bisa berganti-ganti jurusan.

Makanya, pada hari kelima, saya melakukan tur darat keliling kota Valetta sembari mengarah ke bandara dengan menggunakan bus umum.

Tur kota Valetta berlangsung sekitar tiga jam, termasuk satu jam makan siang. Itu pun banyak dihabiskan untuk melakukan wisata belanja yang sayang jika dilewatkan.

Sejauh kaki saya melangkah, rasa-rasanya sepekan di Malta sudah cukup untuk menjelajahi setiap jengkal negara kepulauan nan mungil ini. Apalagi, jika Anda memutuskan untuk menyewa kendaraan roda empat sebagai akomodasi liburan. (stu)