Kopi Susu, 'Pencuri' Celah di Antara Milenial Kelas Menengah

Asri Wulandari, CNN Indonesia | Sabtu, 25/08/2018 15:31 WIB
Kopi Susu, 'Pencuri' Celah di Antara Milenial Kelas Menengah ilustrasi kopi susu (Ed Gregory)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jarum jam menunjukkan pukul 12.30 WIB. Siang hari, waktunya para pekerja beristirahat dan mencicipi makan siang lengkap dengan camilan atau segelas kopi yang bisa membuat mata kembali segar.

Betul saja, gerai Kopi Kenangan yang terletak di Mayapada Tower, Jakarta Pusat, mendadak ramai di siang hari pada medio Agustus ini. Belasan hingga puluhan pekerja muda mengerubungi gerai dan mengantre menunggu kopi susu dingin yang nikmat racikan sang barista.

"Emang biasanya jam segini itu pasti penuh, karena mereka (pekerja) pada istirahat, terus jajan dulu di sini," ujar salah satu pendiri Kopi Kenangan, James Pranoto, ketika ditemui CNNIndonesia.com.



Meski bukan barang baru, kopi susu tengah naik daun saat ini. Dimulai sejak pertengahan 2017 lalu, minuman kopi yang satu ini mendadak bikin banyak orang kepincut. Wajar rasanya jika sederet gerai kopi satu per satu bermunculan dan menjadikan racikan kopi susu sebagai produk unggulan.

Berdiri sejak Agustus 2017, Kopi Kenangan merespons tren kopi susu yang mulai naik pamor. "Awalnya memang karena melihat tren itu. Kami merasa ada celah di sana," ujar James.

Tak cuma James dengan Kopi Kenangan. Kini, mungkin ada puluhan, bahkan ratusan kedai kopi yang mengunggulkan produk kopi susunya. Sederet nama telah lebih dulu muncul.

Sebut saja Kopi Tuku, yang disebut-sebut sebagai pionir tren kopi susu di ibukota. Lalu ada juga nama-nama lain yang tak kalah kesohor seperti Kopi Di Bawah Tangga, Kopi Kulo, Animo, dan masih banyak lagi. Ini menggambarkan bahwa tren kopi susu sedang pelan-pelan membuka pasarnya semakin luas.

"Kopi itu bisnis yang sifatnya long term," kata James. Hal itu pula yang membuat Kopi Kenangan tak takut untuk terus berekspansi selama satu tahun berjalan. Tren kopi susu, kata James, tak akan padam.
Kopi Susu, 'Pencuri' Celah di Antara Milenial Kelas MenengahKopi susu yang kini menjamur menawarkan alternatif bagi kedai kopi yang sudah lama ada dengan harga yang relatif lebih murah pula. (Snapwire/Nate Mueller)
"Orang Indonesia udah terbiasa minum kopi," kata James. Kopi, baik kopi hitam atau kopi susu, telah menjadi minuman masyarakat Indonesia sejak dahulu kala. Dari zaman kolonial hingga era modern seperti zaman kiwari, kopi tetap menjadi teman banyak orang.

Terbukanya pasar ini didukung oleh berbagai faktor. Para pebisnis kopi susu ini diam-diam mengambil celah di tengah daya beli kelompok milenial kelas menengah yang tinggi.

"Demand kopi susu ini sekarang tinggi," tambahnya.

Konsumennya siapa lagi jika bukan kelompok masyarakat usia produktif yang selalu update dengan tren teranyar, punya rasa penasaran yang tinggi, dan bersedia menyisakan sedikit koceknya demi gaya hidup.

Belum lagi harga 'kopi susu kekinian' yang terbilang ramah dompet. Kisaran harga Rp15 ribu - Rp25 ribu yang relatif murah ini membuat milenial tak segan-segan mengeluarkan koceknya demi segelas kopi susu. Harga ini terbilang jauh dari banderol yang ditawarkan sederet coffee shop ternama yang telah lama muncul dan menawarkan produk serupa.

"Sebelum kami (pebisnis kopi susu kekinian) ada, mungkin segelas kopi susu kayak latte, cappuccino itu harganya bisa Rp30 ribu ke atas. Anak muda juga mikir-mikir lagi buat ngeluarin duit untuk itu," kata James.

Ditambah lagi dengan dukungan teknologi yang membuat promosi dan penjualan semakin mudah. Contoh nyata adalah adanya layanan pesan antar dari sejumlah jasa transportasi daring. Kini, di mana pun tempatnya, kita tinggal menyentuh layar gawai dan memesan apa yang kita inginkan. Tanpa tunggu waktu lama, kopi susu kesukaan pun hadir di depan mata.

Selain itu, masifnya pergerakan di media sosial juga jadi salah satu kunci mengapa peluang bisnis kopi susu ini terbuka luas. "Kita, tuh, terbantu banget dengan adanya media sosial," kata James.

Dengan cepat kilat, unggahan dari satu orang saja mampu menyebarkan pesan hingga ke mana-mana. "Apalagi sekarang zamannya anak muda udah tergantung banget sama media sosial," imbuhnya.

Ini adalah momen yang tepat. Gaya hidup milenial kelas menengah dan pesatnya perkembangan teknologi inilah yang dimanfaatkan para pebisnis kopi susu kekinian.

"Saya setuju, kalau sekitar lima atau tujuh tahun yang lalu saya buka bisnis ini, mungkin Kopi Kenangan enggak akan jadi apa-apa. Mungkin juga orang enggak akan ada yang tahu. Daya beli anak muda yang tinggi, teknologi, terus semacam media sosial, itu benar-benar mendorong bisnis ini terus naik," kata James.

Persaingan ketat bisnis kopi susu kekinian

Daya beli anak muda yang tinggi dan teknologi jadi dua hal utama yang mendorong tren kopi susu terus bergeliat. Hal itu pula yang bikin para pebisnis kopi susu ini meraup untung.

Kopi Kenangan, misalnya, yang biasa menghabiskan ratusan cup di setiap outlet-nya sehari-hari. Bahkan, jika sedang ramai betul, satu outlet bisa menghabiskan 1.000 cup. Jelas itu bukan angka yang kecil untuk bisnis sekelas UKM seperti ini.

"Memang bisnis ini sangat menjanjikan dan bisa berlangsung dalam waktu yang lama," kata James.

Namun, bukan berarti keuntungan bertubi-tubi itu hadir tanpa tantangan. Jelas, tantangan akan persaingan yang ketat itu ada di depan mata. Bermunculannya banyak produk kopi susu dan pasar yang terbuka luas mau tak mau menciptakan persaingan yang sengit.

"Persaingan jelas sangat ketat. Karena, kan, banyak banget ya. Pasarnya masih terlalu besar, persaingan jadi sengit," kata James.
Kopi Susu, 'Pencuri' Celah di Antara Milenial Kelas MenengahIlustrasi. (Antara/Rahmad)

Persaingan yang sengit itu terbukti oleh gerai kopi lain, Sagaleh, yang bisa dibilang menjadi salah satu pionir kopi susu di ibukota. Berdiri sejak April 2017-bahkan sebelum tren kopi susu melesat naik-Sagaleh justru mengalami penurunan penjualan. Penyebabnya, jelas semakin banyaknya produk kopi susu anyar yang bermunculan.

Dhydha, salah satu pendiri Sagaleh, mengatakan bahwa di awal berdirinya, kedai yang berlokasi di kawasan Kebayoran Baru ini berhasil menjual 500-600 cup per harinya. Itu pun angka yang tidak terprediksi.

"Awal Sagaleh berdiri itu, kami enggak memprediksi kalau kopi susu bakal jadi tren. Sagaleh dibuat murni karena kami berenam (pendiri Sagaleh) adalah penyuka kopi dan ingin menyediakan minuman untuk pekerja kantoran," kata Dhydha kepada CNNIndonesia.com.

Namun, perlahan sejumlah kopi susu anyar bermunculan. Dan, perlahan pula penjualan Sagaleh agak mengalami penurunan. "Sekarang paling 200-300 cup per kedai," aku Dhydha.

Tapi Dhydha tak mempersoalkan itu. Dia justru menyambut tren kopi susu kekinian ini dengan gembira. Dengan adanya tren ini, toh, kopi bisa diperkenalkan secara lebih luas kepada masyarakat. Sekaligus juga menjadikan kopi susu sebagai alternatif pilihan dari tren speciality coffee yang seolah hanya bisa dinikmati segelintir pihak.

Lagipula, Dhydha juga sepakat bahwa kopi susu adalah tren yang tak akan pernah mati. "Konsumsi kopi itu tinggi," katanya. "Semakin banyak orang tergila-gila pada kopi susu, semakin kita merayakannya."

Inovasi dan nilai jual lain

Tren kopi susu kini hadir dengan kompak. Kebanyakan dari mereka hadir dengan konsep coffee to-go lengkap dengan gerai kecil minimalis dan harga murah meriah.

"Konsep ini tuh hadir dengan pertimbangan mobilitas orang-orang zaman sekarang yang tinggi banget. Jadi biar orang-orang enggak ribet, kopi susunya tinggal dibawa," kata Dhydha.

Namun, kekompakan itu sesungguhnya bisa jadi kendala di tengah persaingan yang kian ketat. Ketika produk kopi susu yang seragam kian menjamur, lantas apa lagi yang harus dilakukan? Dhydha menjawabnya dengan menjaga kualitas, inovasi, dan mencari nilai jual yang lain. "Kita enggak bisa diam aja dan kaya gini terus," katanya.
Kopi Susu, 'Pencuri' Celah di Antara Milenial Kelas MenengahIlustrasi. Kebun kopi yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)

Setiap gerai kopi jelas harus memberikan nilai-nilai lain yang menjadi ciri khas untuk membuat konsumen terus kepincut. Seperti yang dilakukan Dhydha, misalnya. Muatan unsur lokalitas yang kentara jadi salah satu nilai jual dan branding yang ditawarkan Sagaleh.

Sagaleh sendiri berasal dari bahasa Minang yang berarti "segelas". Lalu, tengok saja nama-nama menu yang selalu menghadirkan nuansa Minang, yang merupakan kampung halaman Dhydha sendiri. "Konsep kami, sebagaimana mungkin ini tuh Indonesia banget," kata Dhydha.

Selain itu ada pula unsur inovasi, baik itu berupa menu-menu baru atau hal anyar yang ditawarkan si gerai kopi. Konsep berkelanjutan Sagaleh yang kini tengah digalakkan bisa jadi salah satu contohnya. Saat ini, Sagaleh tengah mengampanyekan gerakan anti-plastik dalam bisnisnya. "Kita lagi ngurangin penggunaan plastik," kata Dhydha.

Tak cuma itu, ampas dari kopi yang diracik Sagaleh juga kerap didaur-ulang untuk menjadi pupuk kompos bagi petani-petani kopi.

Konsep berkelanjutan itu menjadi nilai jual tersendiri. Sekaligus juga sejalan dengan sikap dan pandangan generasi milenial yang semakin autentik terhadap banyak hal. "Jelas itu jadi nilai tambah bagi kami," kata Dhydha.

Pada akhirnya, tren kopi susu ini tak cuma sebatas perayaan gaya hidup, tapi juga wadah edukasi dan kepedulian generasi milenial yang kini jumlahnya tak terkira. (asr/chs)