Cerita Tya Ariestya Jalani Dua Kali Program Bayi Tabung

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Rabu, 29/08/2018 09:36 WIB
Cerita Tya Ariestya Jalani Dua Kali Program Bayi Tabung Tya Ariestya (Rizky Sekar Afrisia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak semua pasangan suami istri beruntung bisa dikaruniai buah hati secara alami. Beberapa di antaranya 'terpaksa' kudu menjalani program bayi tabung demi melanjutkan keturunan.

Tengok saja kisah Tya Ariestya yang tak kapok menjalani program bayi tabung. Setelah sukses menjalani program bayi tabung pada 2016 lalu, aktris 32 tahun itu kini kembali berjuang mendapatkan buah hati melalui proses yang sama. Total, dua kali program bayi tabung yang dilakoninya.

Program bayi tabung memang kerap menjadi salah satu alternatif pasangan suami istri untuk mendapatkan momongan.



Awalnya adalah keresahan lantaran tak kunjung hamil pada tahun pertama pernikahannya dengan Irfan Ratinggang. Tya pun memeriksakan kondisi rahim dan kesuburannya pada banyak dokter.

"Lumayan, kami konsultasi dengan bermacam dokter. Istilahnya 'shoping' dokter baru bayi tabung," kata Tya dalam konferensi pers klinik Morula IVF di Jakarta, beberapa waktu lalu.


Tya kemudian melakoni serangkaian pemeriksaan, mulai dari tes darah hingga kesuburan.

Sebagai permulaan, Tya dan Irfan diminta melakukan hubungan suami istri untuk mencoba pembuahan alami yang dibantu dengan obat-obatan. Namun sayang, proses itu belum berbuah hasil.

Selanjutnya, Tya dihadapkan pada pilihan inseminasi atau bayi tabung. Setelah melakukan konsultasi dengan dokter, pilihan jatuh pada program bayi tabung.

Program bayi tabung itu dipilih lantaran kondisi hormon Tya yang tidak menunjang serta sel telur yang kecil dan mudah pecah. Itulah yang mengakibatkan Tya sulit mengalami masa subur. Salah satu cara agar bisa memiliki anak adalah melalui proses pembuahan di luar rahim atau fertilisasi in vitro.

Profesor Arief Boediono, dokter sekaligus ahli embrio di Morula IVF menjelaskan bahwa proses bayi tabung dilakoni Tya dengan serangkaian tahapan, mulai dari pengambilan sperma sang ayah, pengambilan sel telur ibu, pengujian laboratorium, hingga pembuahan dan dikembalikan ke rahim ibu. Lebih kurang, proses itu berlangsung selama dua pekan.


"Dicari sperma terbaik dan diberikan kepada beberapa sel telur. Proses ini dilakukan melalui teknologi tinggi yang telah teruji," kata Arief.

Selama proses itu, Tya mesti menerima obat-obatan serta suntikan secara teratur. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi artis sekaligus atlet taekwondo itu.

"Tantangannya pertama konsekuensi dan waktu karena menjalani suntikan, obat-obatan, vitamin harus konsisten, enggak boleh ketinggalan. Asupan makanan juga dijaga supaya sehat," ucap Tya.

Tak ayal, perjuangan Tya pun membuahkan hasil. Dia melahirkan putra pertamanya, Muhammad Kanaka Ratinggang pada 4 Juli 2016 lalu.

Dua tahun berselang, Tya dan suami ingin kembali menambah momongan. Program bayi tabung kembali menjadi pilihan. Namun, program bayi tabung kali ini lebih berat dan memerlukan dosis obat yang tinggi.


"Saat ini lebih tinggi dosis obat, suntikan akan lebih tinggi. Karena suntikannya dua kali lipat dari yang pertama," kata Tya. Hal itu membuat kondisi tubuhnya lebih mudah lelah, sekaligus menimbulkan ketidakstabilan emosi.

Tak cuma upaya yang lebih besar, biaya yang kudu dikeluarkan pun lebih mahal ketimbang sebelumnya. Jika pada program pertama Tya harus merogoh kocek sekitar Rp60 juta, kini jumlah duit yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp100 juta.

"Masih belum ada hitungan pasti. Tapi karena obatnya lebih banyak, diperkirakan itu bisa mencapai Rp100 juta," kata Tya.

Namun, kocek besar yang kudu dikeluarkan demi si jabang bayi itu tak jadi soal bagi Tya. Bayi tabung, baginya merupakan salah satu upaya alternatif yang dapat dipertimbangkan untuk mendapatkan sang buah hati.

Tya berharap proses bayi tabung keduanya ini dapat berjalan lancar sebagaimana yang pertama. "Mohon doanya, ya, semua," katanya. (asr/chs)