Toko Chanel di Korea Dituduh Jual Tas Bekas

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 28/08/2018 12:50 WIB
Toko Chanel di Korea Dituduh Jual Tas Bekas ilustrasi tas Chanel (Dok. Chanel.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kantor Cabang Chanel di pusat kota di Korea Selatan dikecam oleh seorang pelanggan wanita karena dianggap menjual tas bekas.

Seorang pelanggan Korea membeli tas flap Chanel 2.55 di sebuah pusat perbelanjaan dengan harga 7 juta won (Rp92,1 juta). Dia membelinya pada April 2018.

Namun kenyataannya, sang perempuan menemukan sebuah buku tabungan dan kartu kredit orang lain di dalam tas mewah tersebut. Buku tabungan dan kartu kredit tersebut baru dikeluarkan dari bank pada Maret 2018, sebulan sebelum si perempuan membeli tasnya.



"Saya bertanya pada Chanel, apakah ada yang membeli dan mengembalikan tas itu, tetapi perusahaan itu mengatakan nomor seri produk itu menunjukkan bahwa tidak ada riwayat pembelian," ungkap si pembeli kepada News One dikutip dari The Straits Times.

Pihak Chanel Korea sendiri mengungkapkan ketidaktahuannya mengapa hal tersebut bisa terjadi. Mereka pun berpikir adanya kemungkinan lain bahwa ada pegawai toko yang bisa saja meminjam dan memakai tas tersebut.

Hanya saja, seorang pengamat industri mengatakan bahwa sangat kecil dan jarang kemungkinan itu terjadi.

"Jika produk itu telah dikembalikan, mungkin saja untuk menemukan barang seseorang di dalam tas. Tetapi jika itu tidak pernah dijual sebelumnya, sangat sulit untuk mencari tahu mengapa barang-barang ditemukan dari dalam tas," katanya.

Adanya laporan terkait hal ini, warga Korea khususnya pecinta barang-barang branded mulai resah. Mereka juga menyatakan rasa ketidakpuasan terhadap kualitas barang bermerek, kebijakan manajemen, dan kontrol atas produk tersebut.


"Mengingat loyalitas tinggi pelanggan Korea terhadap merek, saya berharap Chanel Korea mengambil tanggung jawab," menurut salah seorang pelanggan barang bermerek lain di Korea Selatan.

Seorang pengguna online yang tidak diketahui namanya juga bereaksi terhadap hal ini. Dia bahkan meminta warga Korea untuk melakukan aksi yang lebih nyata, misalnya dengan melakukan boikot produk asing seperti Chanel dan BMW.

"Pelanggan Korea harus mengambil aksi kolektif misalnya boikot untuk membuat perusahaan asing seperti Chanel dan BMW agar tidak memandang rendah pelanggan Korea dan untuk memberi mereka pelajaran," katanya.

Namun sebagai jalan keluar bagi masalah 'sengketa' Chanel Korea dan pelanggannya, toko tersebut mengganti 'tas lama' dengan tas baru pada Juli 2018. (sen/chs)