Laporan Paris Couture Week

Keromantisan Tepi Sungai Seine yang Menginspirasi Chanel

Fandi Stuerz, CNN Indonesia | Jumat, 06/07/2018 08:07 WIB
Keromantisan Tepi Sungai Seine yang Menginspirasi Chanel Koleksi Chanel di Paris Couture Week (REUTERS/Gonzalo Fuentes)
Jakarta, CNN Indonesia -- Karl Lagerfeld memang tak pernah kehabisan ide untuk membuat koleksi busananya terlihat spektakuler.

Fotografer, karikaturis, desainer interior, dan desainer untuk tiga rumah mode berbeda menjadikan Karl Lagerfeld sering disebut sebagai 'legenda hidup' di dunia seni aplikasi.

Namun tidak banyak yang tahu bahwa Lagerfeld juga seorang kutu buku.



Tak kurang dari 300.000 buku tersusun rapi di rumahnya dan sederet buku telah dipublikasikannya.

Kecintaannya pada dunia literatur itu membuat Karl Lagerfeld membawa salah satu sisi menarik kota Paris untuk menjadi latar belakang untuk koleksi Chanel musim dingin 2018/2019.

'Boxes', para penjaja buku serta karya berbasis kertas lainnya di sepanjang sungai Seine memang menjadi sebuah ikon yang tak lekang waktu. Selain itu, warna-warna autumn in Paris seperti abu-abu dan pink pucat menjadi warna dominan dalam koleksi ini.

"Warna kota Paris", ujarnya.

Rok dan lengan panjang dengan resleting yang terbuka, dipadukan dengan rok mini serta sarung
tangan panjang.

Jaket tweed khas Chanel, gaun straples dengan crop blazer dan rok melambai, busana berpotongan asimetris, coat jaket panjang, sampai blazer berpotongan kerah shanghai menjadi gaya yang dipilih Lagerfeld untuk menggambarkan mode modis kota Paris.

Koleksi Chanel di Paris Couture WeekFoto: REUTERS/Gonzalo Fuentes
Koleksi Chanel di Paris Couture Week

Motif-motif payet menyerupai gembok-gembok di Pont des Arts juga melambangkan kecintaannya pada kota Paris, kota yang kaya dengan sejarah dan budaya.

Namun bukan koleksi lengkap Chanel namanya jika tak menghadirkan koleksi little black dress ikoniknya.
Dengan bustier berresleting, gaun hitam itu dibuat dengan teknik kepang yang rumit. Keandalan atelier flou, yang dikepalai oleh Madame Cecile sang atelier pembuat gaun, menggambarkan kualitas haute couture yang sebenarnya, bahwa teknik yang kompleks harus terlihat begitu mudah dan tersembunyi.

Inilah sebabnya mengapa, pembuatan sebuah pakaian haute couture memakan waktu hingga ratusan jam, karena setiap ukuran dan presisi menjadi sebuah hal penting.

Sebagai gambaran, untuk pembuatan sebuah jaket Chanel diperlukan tak kurang dari 25 macam pengukuran, dan kesemuanya itu demi memastikan bahwa setiap outfit akan menjadi kulit kedua.

Salah satu tren di pagelaran Paris Couture Week kali ini adalah adanya gaun pengantin warna-warni.


Model Adut Akech keluar sebagai Chanel bride dan sekaligus menulis sejarah sebagai model kulit hitam kedua setelah Alek Wek yang menutup show Chanel di tahun 2004.

Koleksi Chanel di Paris Couture WeekFoto: REUTERS/Gonzalo Fuentes
Koleksi Chanel di Paris Couture Week

Dengan sebuah gaun terusan yang dipasangkan dengan jaket redingote layaknya seragam French Academy berbahan tweed warna hijau pistachio, tampilan ini menjadi sebuah penutup koleksi Chanel haute couture yang merupakan bentuk konstruksi garmen tertinggi, yang tentu saja hanya ada dan bisa diwujudkan di Paris.

Seperti yang Karl Lagerfeld ucapkan berkali-kali. "Haute couture hanya ada di Paris". (chs)